KEDIRI WartaTransparansi.com – Puluhan siswa kelas 3 SD Negeri Tosaren 1 Kota Kediri mengikuti kegiatan kokurikuler di Wahyu Alam Tanaman Obat dan Keluarga, Kamis (18/6/2026).
Para siswa siswi, mereka belajar meracik jamu tradisional dan mengenali aneka tanaman obat serta kuliner lokal sejak dini.
Kegiatan luar kelas ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang nyata dan kontekstual bagi para murid. Selain mengenal jenis rempah-rempah, para siswa mempraktikkan langsung cara pembuatan jamu dan mencicipi makanan tradisional seperti polo pendem (pangan pendem).
Wali Kelas 3 SDN Tosaren 1, Basuki, menegaskan pemilihan lokasi edukasi ini bertujuan agar siswa memahami kekayaan herbal Nusantara. Penanaman pemahaman ini dinilai penting agar generasi muda dapat memanfaatkan sekaligus melestarikan warisan nenek moyang tersebut.
“Kokurikuler ini dilaksanakan oleh kelas 3 SD Negeri Tosaren 1 yang mana diadakan di Wahyu Alam Tanaman Obat dan Keluarga. Kenapa anak-anak saya ajak ke sini? Ini karena supaya anak-anak itu lebih mengenal aneka macam tanaman obat,” ujar Basuki.
Basuki menambahkan bahwa edukasi langsung ini menjadi jembatan agar siswa menyukai konsumsi herbal tradisional. Siswa diharapkan tidak asing dengan kekayaan hayati tanah air yang berkhasiat medis.
“Nah tujuannya supaya anak-anak ini mengenal, ternyata di Indonesia itu banyak sekali tanaman yang bisa dijadikan obat untuk menyehatkan tubuh dan juga mengobati beberapa jenis penyakit,” katanya.
Dia juga menjelaskan pentingnya praktik langsung dalam membangun kesadaran siswa sejak dini. Kebiasaan minum jamu perlu ditumbuhkan di lingkungan terkecil agar tidak tergerus zaman.
“Selain itu anak-anak ini praktek diajarkan cara membuat jamu supaya anak-anak itu lebih aware, lebih suka dan lebih senang minum jamu. Dan terbiasa bahwa jamu itu adalah peninggalan nenek moyang dan harus dilestarikan,” tambahnya.
Menurut Basuki, pengenalan sejarah dan kekayaan bumi pertiwi harus dipupuk sejak sekolah dasar demi menjaga identitas bangsa. “Jadi ternyata Indonesia itu kaya banget akan rempah-rempah. Nah ini perlu diajarkan ke peserta didik,” tegasnya.
Kepala SDN Tosaren 1, Erli Puji Rahayu, menjelaskan kegiatan ini menjadi bagian implementasi Kurikulum Merdeka melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan tersebut diterapkan untuk membentuk karakter siswa yang mandiri, kreatif, dan peduli budaya.
“Harapannya, anak-anak memiliki kemampuan bernalar kritis, mandiri, gotong royong, dan karakter positif lainnya yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat,” ujar Erli.
Respons positif juga datang dari salah satu siswa peserta, Arya. Dia mengaku mendapat pengalaman berharga yang sangat berkesan selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan praktik tersebut.
“Senang, bangga, seru, dan menjadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa diadakan lagi di tem8pat lain,” ungkap Arya.(*)







