banner 400x130

Enam Sekolah Baru Dibangun di Surabaya, Perluas Akses Pendidikan di Wilayah Padat Penduduk

SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) terus memperkuat layanan pendidikan dengan membangun enam gedung sekolah baru pada tahun 2026. Proyek yang masuk dalam Program Strategis Daerah (PSD) tersebut mencakup pembangunan lima Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) dan satu Sekolah Dasar Negeri (SDN).

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pendidikan Dispendik Surabaya, Awang Wirawan, mengatakan pembangunan sekolah baru tersebut telah ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya dan menjadi salah satu prioritas pembangunan sektor pendidikan tahun ini.

“Lima SMPN yang dibangun berada di kawasan Gunung Anyar, Tambakwedi, Medokan Ayu, Bringin, dan Warugunung. Sedangkan satu SDN dibangun di Tambakwedi,” kata Awang saat ditemui, Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, setiap sekolah dibangun dengan konsep bangunan tiga lantai yang dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar. Di antaranya sekitar 10 ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, laboratorium, serta fasilitas sanitasi berupa tiga unit toilet.

Seluruh proyek berdiri di atas lahan milik Pemerintah Kota Surabaya dengan luas yang berbeda-beda, berkisar antara 5.000 hingga 6.000 meter persegi. Meski luas lahan tidak sama, desain bangunan yang diterapkan relatif seragam.

Awang menjelaskan, sebagian proyek merupakan kelanjutan pembangunan yang telah dimulai pada tahun sebelumnya. Lokasi seperti Warugunung, Tambakwedi, dan Medokan Ayu melanjutkan pekerjaan yang sudah berjalan sejak 2025, sementara pembangunan di Gunung Anyar, Bringin, dan SDN Tambakwedi merupakan proyek baru.

Besaran anggaran yang dialokasikan pun menyesuaikan kondisi masing-masing proyek. Untuk pembangunan lanjutan yang hanya membutuhkan pekerjaan penyelesaian akhir, anggaran berkisar Rp4 hingga Rp5 miliar. Sedangkan pembangunan baru membutuhkan dana sekitar Rp8 miliar per lokasi.

“Proyek yang sudah memiliki struktur bangunan tentu anggarannya lebih kecil karena tinggal tahap finishing. Sementara untuk bangunan baru kebutuhan biayanya lebih besar,” ujarnya.

Dispendik menargetkan seluruh pembangunan dapat diselesaikan sebelum akhir tahun 2026. Dengan demikian, sekolah-sekolah baru tersebut diharapkan sudah bisa menerima siswa dan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada awal tahun 2027.

Selain itu, Dispendik juga melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan proyek agar tidak mengalami kendala seperti tahun sebelumnya. Keterlambatan proses lelang pada 2025 membuat sejumlah pekerjaan belum dapat diselesaikan secara menyeluruh.

“Tahun ini proses kontrak sudah dimulai lebih awal sehingga waktu pengerjaan lebih longgar. Kami optimistis seluruh proyek dapat selesai sesuai target,” kata Awang.

Ia berharap kondisi ekonomi, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah dan kenaikan harga sejumlah komponen pembangunan, tidak menghambat penyelesaian proyek yang tengah berjalan.

Dengan tambahan enam sekolah baru tersebut, Pemkot Surabaya berharap pemerataan akses pendidikan semakin meningkat dan mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat di wilayah yang mengalami pertumbuhan penduduk cukup pesat. (*)

Penulis: Fahrizal Arnas