banner 400x130
Blitar  

Takir Plontang Simbol Tolak Balak, Warga Blitar Gelar Baritan Sambut Bulan Suro

Warga Blitar gelar baritan sambut bulan suro

BLITAR, WartaTransparansi.com – Sambut Bulan Muharam (jawa sasi suro) yang jatuh pada Masehi 16 Juni 2026, Tanggal Jawa 1, Sura 1960 Ja , Pasaran Jawa Selasa Wage Neptu 7 Tahun Jawa Be, Tanggal Hijriyah 1 Muharam 1448 H, masyarakat Lingkungan Jatimalang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar melaksanakan baritan atau suroan di jalan raya.

Pada gelaran ini biasanya setiap rumah biasanya membawa sejenis takir plontang yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga, gelaran ini diisi dengan do’a bersama oleh ketua adat dan tokoh yang dituakan dan dihadiri segenap lapisan masyarakat.

Masyarakat berbondong-bondong membawa, takir plontang yaitu wadah tradisional dari jawa yang terbuat dari daun pisang berbentuk kotak persegi dengan sepotong janur kuning (daun kelapa muda) yang ditancapkan tegak lurus di setiap sudutnya. Dan wadah adah ini digunakan untuk menyajikan nasi beserta lauk-pauknya dalam berbagai ritual dan tradisi masyarakat Jawa.

Acara baritan yang digelar di jalan rasa mencerminkan tradisi dan nilai-nilai luhur jawa dalam menyambut Tahun Baru Hijriyah. Tradisi ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga membawa pesan moral dan spiritual yang relevan dengan kehidupan manusia.

Nama Takir Plontang mempunyai nama filosofis yaitu, takir yang artinya ditata lan dipikir (ditata dan dipikirkan), Sedangkan plontang (janur kuning) melambangkan tunas muda pohon kelapa yang menyimbolkan harapan baru, kesucian, dan kehidupan yang lebih baik.

Menurut tetua adat di lingkungan tersebut, takir plontang melambangkan ritual keselamatan atau syukuran dalam tradisi jawa seperti peringatan Tahun Baru Islam (1 Muharram atau 1 Suro) untuk memanjatkan doa keselamatan dan menolak bala.

Dalam ritual baritan ini doa-doa dipanjatkan mulai dari leluhur atau sanak saudara yang sudah meninggal agar diampuni dosa-dosanya selama di dunia oleh Allah SWT. Setelah itu mereka berdoa atas keluarganya masing-masing dan diri sendiri supaya dijauhkan dari bencana dan diberi keselamatan dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. (*)