Oleh Akhmad Sruji Bahtiar
Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur
Bumi bukan sekadar hamparan tanah tempat manusia hidup dan berkembang, melainkan cermin diri dari pantulan kehadiran Ilahi yang memancar dalam setiap daun, desah angin, dan lirih aliran air, sebuah kitab perjalanan yang tak pernah berhenti mengajarkan makna.
Di dalamnya, manusia sebagai khalifah tidak hanya memegang kuasa lahiriah, tetapi memikul amanah batin yang halus: merawat keseimbangan antara rupa dan rasa, antara yang tampak dan yang tersembunyi, antara mengambil dan mengembalikan.
Setiap jejak langkah adalah kesadaran yang terus berdetak, setiap sentuhan menjadi kesaksian bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan sahabat yang bersama-sama memuji dalam diam; maka ketika tangan manusia mulai merusak, yang koyak bukan hanya tatanan bumi, tetapi juga benang halus yang menghubungkan hati dengan Cahaya-Nya, hingga jiwa perlahan kehilangan arah dan tersesat dari kesadaran terdalam bahwa merawat semesta adalah bagian dari merawat kehadiran Tuhan dalam dirinya sendiri.
Dalam hamparan makna itu, mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam pelestarian lingkungan bukanlah gerak administratif yang kering dari ruh, melainkan perjalanan batin yang menuntun jiwa menapaki jejak-jejak Ilahi di setiap jengkal ciptaan; sebuah laku yang menghadirkan kesadaran bahwa merawat bumi adalah dzikir yang bernapas, bukan sekadar lafaz, melainkan menjelma dalam sentuhan tangan yang menanam, langkah kaki yang menjaga, dan niat hati yang memuliakan kehidupan.
Dalam suluk ini, manusia belajar memandang alam bukan sebagai sesuatu yang ditaklukkan, tetapi sebagai sahabat ruhani yang memantulkan asma-asma-Nya.
Gagasan ekoteologi menjelma sebagai jalan pulang bersama, menuntun dari kelalaian menuju kesadaran tauhid yang utuh, bahwa setiap daun yang gugur dan setiap aliran air adalah ayat-ayat sunyi yang memanggil manusia untuk kembali mengenal, mencintai, dan menjaga semesta sebagai amanah suci dari-Nya, dan pada akhirnya menyadari bahwa alam bukanlah benda mati, melainkan sahabat ruhani yang senantiasa bertasbih dalam keheningan, Firman Allah :
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.” (QS. Al-Isra: 44)
Ayat ini menyingkap tabir bahwa semesta bukan sunyi, melainkan penuh dzikir yang terus mengalir dalam bahasa yang hanya dipahami oleh hati yang bersih.
Maka ekoteologi, dalam bingkai Kementerian Agama, hadir sebagai jalan kesadaran kolektif, sebuah perjalanan sosial yang mengajak manusia kembali membaca alam sebagai ayat, bukan sebagai alat; sebagai amanah, bukan sebagai milik.
Namun perjalanan ini tidak cukup hanya dengan niat yang suci, sebab niat tanpa ilmu laksana pelita tanpa minyak yang akan padam di tengah gelapnya lorong panjang perjalanan ruhani. Ia menuntut kelengkapan bekal, sebagaimana seorang beriman yang tidak hanya membawa rindu yang membara kepada Tuhannya, tetapi juga membawa adab, ilmu, dan kesadaran sebagai cahaya penuntun langkahnya menuju hadirat Ilahi. Sebab jalan menuju Tuhan bukan jalan yang dangkal, melainkan lintasan halus yang hanya dapat dilalui oleh hati yang terjaga dan akal yang bening.
Keluarga, sebagai madrasah pertama, adalah ruang hening tempat benih kesadaran ditanam dalam tanah kasih dan doa; di sanalah akal ditempa menjadi tafakkur yang hidup, rasa dilunakkan menjadi dzauq yang peka terhadap getar makna, dan jiwa dilatih menjadi lentur seperti air yang mengalir tanpa kehilangan arah asalnya. Kecerdasan intelektual tidak lagi sekadar alat berpikir yang kering, melainkan mata batin yang belajar membaca ayat-ayat Tuhan yang tersebar di lembaran semesta dan peristiwa zaman.
Maka berpikir yang matang menjelma ibadah yang hening, sebuah tafakkur yang menuntun jiwa menembus kabut permukaan menuju samudra makna yang dalam, hingga setiap keputusan tidak lahir dari gemuruh ego semata, tetapi dari pantulan hikmah yang berakar pada cahaya kebijaksanaan Ilahi yang menetap di kedalaman kalbu.
Dalam menjalankan salah satu Asta Protas Kementerian Agama, kejernihan pikir laksana cahaya yang menyingkap kabut perjalanan, agar setiap langkah tidak terjerumus dalam gerak yang tergesa dan reaktif, melainkan lahir dari kesadaran yang reflektif dan penuh makna. Di dalamnya, analisis bukan sekadar kerja akal, tetapi ia menjelma menjadi muhasabah yang halus, sebuah perenungan yang menimbang setiap niat, rencana, dan tindakan di hadapan cermin keilahian, apakah ia selaras dengan ridha dan tujuan yang lebih tinggi.
Namun jiwa yang bersih berbisik lembut bahwa akal yang jernih pun memiliki batasnya; sebab kehidupan senantiasa bergerak dalam arus perubahan yang tak henti. Di sinilah adaptasi menemukan makna ruhaniahnya, yakni kemampuan menyesuaikan diri dengan dinamika zaman tanpa kehilangan poros batin.
Seperti air yang mengalir di antara bebatuan, ia tidak melawan bentuk, tetapi merengkuhnya dengan kelembutan, lentur dalam wujud namun teguh dalam hakikatnya. Demikian pula insan yang arif, ia bergerak di tengah perubahan dunia sambil tetap menjaga kehadiran hati dalam zikir yang tak putus kepada-Nya.
Gerakan ekoteologi Kementerian Agama, yang menjelma dalam ikhtiar Eco-Masjid, penghijauan, kurikulum ramah lingkungan, hingga KUA Hijau, pada hakikatnya adalah ikhtiar menyingkap hijab kesadaran manusia agar kembali menyaksikan wajah tauhid dalam keluasan semesta. Alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan kitab terbuka yang setiap lembarannya berisi ayat-ayat ketuhanan yang terus berzikir tanpa henti.
Maka masjid tidak lagi semata ruang sujud yang membatasi diri pada ritus formal, melainkan menjadi pusat pertemuan antara langit dan bumi, tempat manusia belajar menata batin sekaligus menata lingkungan sebagai wujud keselarasan kosmis.
Demikian pula kantor pelayanan keagamaan, ia tidak berhenti sebagai ruang administrasi yang kering dari makna, tetapi berubah menjadi maqam pengabdian, tempat di mana kebersihan lahir mencerminkan kebersihan batin, keindahan ruang menjadi pantulan keindahan akhlak, dan keteraturan sistem menjadi isyarat keteraturan jiwa.
Di sanalah iman tidak lagi dipahami sebagai pengakuan lisan semata, tetapi sebagai gerak sadar yang merawat bumi dengan cinta, sebagaimana seorang salik merawat hatinya dalam perjalanan menuju Ilahi.
Program GEMAH ASRI (Gerakan Jum’ah Aman, Sehat, Resik) yang diinisiasi Kementerian Agama sejatinya bukan sekadar ikhtiar administratif, melainkan jejak perjalanan batin yang berusaha menata semesta kecil dalam diri manusia sebelum menata ruang di luar dirinya.
Dalam perspektif tasawuf, lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan indah bukan hanya capaian lahiriah, tetapi pancaran dari qalbu yang telah dilatih untuk tenang, tertib, dan hadir dalam kesadaran Ilahi. Sebab kebersihan ruang luar selalu berakar pada kebersihan ruang dalam; ketika hati jernih dari debu kelalaian, maka tangan pun ringan menjaga keteraturan alam sekitarnya. Kesadaran para pegawai dalam merawat kebersihan menjadi wujud nyata tazkiyatun nafs, sebuah proses penyucian jiwa yang terus-menerus, di mana setiap sapu, setiap langkah, dan setiap kepedulian kecil menjadi bagian dari dzikir yang tidak terucap.
Dalam kesederhanaan itu, pelayanan publik yang ramah dan penuh penghormatan kepada sesama menjadi cermin akhlak yang tumbuh dari ma’rifat, pengenalan yang dalam terhadap nilai-nilai ketuhanan. Maka citra KUA sebagai pusat layanan profesional tidak hanya berdiri sebagai institusi formal, melainkan sebagai tajalli sosial dari nilai-nilai batin yang terjaga, tempat di mana spiritualitas dan pelayanan menyatu dalam harmoni, menghadirkan wajah agama yang teduh, membumi, dan memuliakan kehidupan.
Pelestarian lingkungan adalah perjalanan kembali, sebuah rihlah ruhani menuju asal kesadaran yang paling purba, ketika manusia belum terhijab oleh kesombongan kepemilikan atas bumi.
Ia adalah pulang ke maqam fitrah, di mana manusia menyadari bahwa dirinya dan alam bukanlah dua yang terpisah, melainkan satu anyaman tajalli dalam jalinan kasih sayang Ilahi. Daun yang gugur, air yang mengalir, angin yang berhembus, dan tanah yang diam, semuanya adalah bahasa sunyi yang mengajarkan tauhid dalam bentuk yang paling halus.
Ketika manusia merawat bumi dengan kesadaran yang bening, sejatinya ia sedang menata ulang dirinya sendiri, mengikis karat ego, membersihkan debu kelalaian, dan memoles cermin kalbu agar kembali jernih memantulkan Nur Ilahi. Sebab kerusakan alam adalah pantulan dari keruhnya batin, dan kelestarian semesta adalah bayang-bayang dari hati yang telah kembali bersujud dalam kesadaran.
Maka menjaga bumi bukan sekadar tugas etis, melainkan laku cinta; sebuah dzikir yang menjelma menjadi tindakan, hingga akhirnya manusia dan alam sama-sama larut dalam harmoni kehadiran-Nya yang tak terputus. (*)



