KEDIRI, WartaTransparansi.com – Harapan akan meja makan yang tetap terisi di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok membawa ratusan warga menyerbu pasar murah di halaman Kelurahan Pare, Kabupaten Kediri, Minggu (1/3/2026).
Di tengah teriknya siang, antrean kupon menjadi tiket berharga bagi warga, terutama kalangan lansia, untuk menyiasati mahalnya harga beras hingga daging ayam menjelang Lebaran.
Program yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) ini menjadi tumpuan bagi masyarakat yang mulai tercekik kenaikan harga di pasar konvensional.
Musiyam, 69, warga Tulungrejo, menjadi salah satu sosok yang rela datang sejak pukul 13.30 WIB. Meski harus memegang nomor antrean 102, ia tetap bertahan demi mendapatkan paket sembako murah.
“Sangat membantu bagi saya, karena harga di pasar masih mahal. Beras saja sekarang sekitar Rp14.000 sampai Rp15.000 per kilonya,” ujar Musiyam.
Bagi perempuan senja ini, penghematan beberapa ribu rupiah sangat berarti untuk menyambung hidup.
“Saya cari gula, minyak, sama beras. Nanti rencananya ini mau dibagi juga dengan anak di rumah,” lanjutnya dengan nada penuh harap.
Senada dengan Musiyam, Siti Sundari, 63, juga merasakan beban yang sama. Sambil menggendong cucunya yang baru berusia empat bulan, ia memanfaatkan jalur prioritas lansia untuk mendapatkan komoditas bersubsidi. Di matanya, selisih harga di pasar murah ini adalah penyelamat anggaran rumah tangga sepekan ke depan.
“Ya sangat membantu, lebih murah kan. Kalau di pasar (ayam) 36 (ribu), gulanya 17 (ribu). Jadi membantu sedikit untuk persiapan nanti lebaran,” tutur Siti.
Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, yang meninjau langsung lokasi menegaskan bahwa pasar murah ini adalah langkah strategis stabilisasi harga di tengah fluktuasi pasar. Pemprov Jatim sengaja mematok harga jauh di bawah rata-rata, seperti daging ayam seharga Rp30.000 dari harga pasar Rp42.000, hingga cabai rawit yang dibanderol Rp40.000 per kilogram.
“Jadi penjangkauan pasar murah ini upaya untuk pengendalian inflasi sekaligus stabilisasi harga,” kata Khofifah.
Ia juga memastikan lokasi pasar murah tidak berdekatan dengan pasar tradisional agar tidak mematikan ekonomi pedagang lokal.
“Saya selalu sampaikan, jangan berdekatan dengan pasar tradisional karena ini bukan kompetitor pasar tradisional,” tegasnya.
Melalui sinergi dengan Bank Indonesia melalui mobil EPIC (Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota), Pemprov Jatim menjamin stok pangan dalam kondisi aman. Empat kunci utama yakni ketersediaan stok, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, menjadi pegangan pemerintah agar warga seperti Musiyam dan Siti Sundari tak perlu lagi cemas saat menghadapi Idulfitri.
“Empat ini sebetulnya kunci proses pengendalian inflasi,” pungkas Khofifah. (*)











