KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Jatim) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan pemetaan program kesehatan Pondok Pesantren (Ponpes) melalui riset bertajuk Ponpes Sehat Berdaya.
Ponpes Wali Barokah Kediri dipilih sebagai salah satu lokasi studi kasus karena dinilai memiliki tata kelola kesehatan yang relatif baik.
Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, Muhammad Yoto, mengatakan pemetaan ini bertujuan memperdalam peran Ponpes dalam pembangunan kesehatan. Menurut dia, langkah tersebut sejalan dengan Peraturan Daerah Jatim yang mengamanatkan pemerintah untuk memfasilitasi Ponpes, termasuk di bidang kesehatan.
“Jatim sudah memiliki inovasi Kolaborasi Inisiasi Pesantren Sehat. Ini ingin kami kembangkan lebih lanjut agar pesantren menjadi mitra sekaligus penggerak pembangunan kesehatan bersama pemerintah dan masyarakat,” katanya, Minggu 14 Desember 2025.
Ia menyebutkan, di Jatim terdapat tidak kurang dari 4.000 Ponpes yang memiliki potensi besar sebagai pusat pendidikan, pembudayaan, sekaligus rujukan moral. Potensi tersebut dinilai strategis untuk mendorong terwujudnya masyarakat yang sehat.
Dalam riset ini, Dinkes Jatim dan BRIN mengambil sekitar lima pondok pesantren sebagai sampel awal dengan karakteristik berbeda, mulai dari pesantren dengan puluhan santri, ratusan santri, hingga ribuan santri. Selain Wali Barokah Kediri, contoh lain diambil dari Bondowoso dan Ponorogo.
“Melalui studi kasus, kami ingin mempelajari praktik baik yang sudah berjalan. Praktik ini nantinya didokumentasikan dan menjadi pembelajaran bagi pesantren lain,” ujarnya.
Pimpinan Ponpe Wali Barokah Kediri, KH Sunarto, mengatakan kunjungan Dinkes Jatim dan BRIN difokuskan untuk menggali penerapan Pesantren sehat secara menyeluruh. Penggalian meliputi sarana prasarana kesehatan, kondisi lingkungan fisik, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat oleh guru, pengurus, dan santri.
“Para tamu melakukan observasi, wawancara dengan santri, guru, dan pengurus, serta melihat langsung bagaimana Pos Kesehatan Pesantren berfungsi,” kata KH Sunarto.
Ia menjelaskan konsep Pesantren Sehat berbeda dengan Eco Pesantren. Pesantren sehat tidak hanya menitikberatkan pada lingkungan fisik, tetapi juga pola hidup sehat dan peran Poskestren sebagai penggerak utama kegiatan kesehatan. Wali Barokah sendiri pernah mewakili Kota Kediri dalam lomba Pesantren sehat tingkat Provinsi Jatim, dan meraih peringkat ketiga.
Peneliti Ahli Utama BRIN Agung Dwilaksono menambahkan, riset ini tidak memosisikan pesantren sebagai objek, melainkan sebagai subjek pembangunan. Data dikumpulkan melalui diskusi kelompok terarah, wawancara mendalam dengan pimpinan pondok, serta observasi fisik terkait sanitasi dan kelayakan bangunan.
“Hasilnya nanti berupa pemetaan potensi, tantangan, dan kebutuhan pesantren. Kami akan menyusunnya dalam panduan berdasarkan level kemampuan pesantren,” katanya.
Hasil riset tersebut tidak langsung dipublikasikan, tetapi terlebih dahulu menjadi bahan belajar pemerintah pusat dan daerah. Rencananya, temuan penelitian akan dibukukan dan diluncurkan di tingkat provinsi pada awal 2026 sebagai referensi penguatan program kesehatan di Ponpes Jatim.(*)











