banner 400x130
Kediri  

Keasrian Sumber Jiput dan Pentingnya Kesadaran Wisata Kota Kediri

Pengunjung menikmati suasana asri dan sejuk di objek wisata Sumber Jiput Kota Kediri.
Pengunjung menikmati keasrian dan kesejukan udara pagi di kawasan objek wisata Sumber Jiput, Kota Kediri. Destinasi pemandian alam ini menjadi salah satu oase favorit bagi warga untuk melepas penat di tengah rutinitas perkotaan. (Foto: Moch Abi Madyan).

KEDIRI – Pukul 08.10 pagi, di bawah kerindangan kanopi pohon-pohon besar yang menaungi kolam Sumber Jiput, Kota Kediri, udara membawa aroma khas embun dan air tawar yang tenang. Bagi sebagian besar orang, waktu tersebut adalah detik-detik awal yang menyenangkan untuk memulai hari libur atau sekadar melepas penat. Namun, bagi Mahrujiono, hari telah berdenyut jauh lebih panjang dari yang dibayangkan siapapun.

Suasana tenang dan udara pagi yang sejuk di kawasan wisata Sumber Jiput, Kota Kediri, menyambut hari pada pukul 08.10 WIB. Jauh sebelum para pengunjung berdatangan, aktivitas merawat keasrian tempat ini telah berdenyut lebih awal.

Di sudut kawasan sumber air tersebut, Mahrujiono (50), seorang warga Lingkungan Ngasinan, Kelurahan Rejomulyo, sudah memegang sapu lidi dan karung di tangannya. Pria yang akrab disapa Ruji ini telah menjalani rutinitas tersebut selama dua tahun terakhir.

Sebelum area wisata ramai, ia bergerak menyusuri tanah yang basah oleh embun pagi. Tangannya cekatan memunguti dedaunan gugur serta sampah sisa pengunjung kemarin, mulai dari kemasan plastik, puntung rokok, hingga botol air mineral.

“Ya kepinginnya bersihkan lingkungan agar bersih dari sampah dan semut,” katanya, Sabtu 31 Oktober 2026.

Bagi Ruji, pekerjaan menyapu dari pukul 06.00 WIB hingga menjelang siang ini bukan sekadar rutinitas mencari nafkah. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan berkilogram-kilogram sampah hingga berkarung-karung botol bekas. Tantangan terberatnya bukanlah beban fisik membawa sampah, melainkan menyaksikan tumpukan sampah baru yang kembali berserakan beberapa jam setelah ia selesai menyapu.

Petugas kebersihan menyapu dedaunan dan sampah di kawasan wisata Sumber Jiput Kota Kediri.
Mahrujiono (50), petugas kebersihan di kawasan objek wisata Sumber Jiput, Kota Kediri, membersihkan area jalur pejalan kaki, Sabtu (31/10/2026). Dedikasi para petugas di balik layar menjadi kunci utama terjaganya keindahan dan kenyamanan destinasi wisata favorit ini. (Foto: Moch Abi Madyan).

“Namanya orang dolan (berwisata.red) kan banyak, jajanannya banyak, botolnya banyak, ya saya kumpulkan. Kalau dedaunan biasanya saya bakar, lalu botol-botol plastik dikumpulkan untuk dijual,” terang Ruji.

Tak jauh dari situ, Andri Usman Hadi bersama keluarga kecilnya menikmati ketenangan pagi di ujung Sumber Jiput. Guru SMP Muhammadiyah Kota Kediri yang tinggal di Perum Wisma Jaten Asri 3, Kandat, Blabak, Kabupaten Kediri ini sering meluangkan waktu ke Sumber Jiput untuk melepas penat.

Bagi Andri, keasrian, udara sejuk, dan pemandangan hijau kawasan ini adalah penawar dari himpitan rutinitas mingguan.

Namun, pandangan Andri tak pernah lepas dari sosok-sosok yang bekerja di balik layar kenyamanan tempat tersebut. Ia kerap memperhatikan bagaimana para petugas kebersihan bertarung dengan waktu sebelum para wisatawan berdatangan.

“Menurut saya, kawasan Sumber Jiput ini cukup bersih dan nyaman,” kata Andri.

Di balik eloknya pemandangan dan sejuknya udara pagi, ada sebuah kenyataan yang kerap terabaikan. Yakni kehadiran mereka yang tak kenal lelah menjaga keasrian tempat.

Tanpa kesigapan tangan-tangan para petugas kebersihan, tumpukan limbah plastik dan sisa makanan dari para pengunjung tentu akan dengan cepat merusak pesona serta daya tarik wisata Sumber Jiput.

” Menurut saya peran petugas kebersihan sangat besar di sini. Tanpa mereka, tumpukan sampah akan dengan cepat merusak keindahan dan daya tarik tempat ini,” ujarnya.

Ada rasa prihatin sekaligus risih yang hinggap di benak Andri setiap kali melihat petugas harus membungkuk memunguti sampah yang sebenarnya bisa dicegah.

Sebagai seorang pendidik, ia merasa kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan masih perlu ditumbuhkan.

“Saya merasa prihatin karena petugas harus membersihkan sampah yang sebenarnya tidak perlu ada jika pengunjung peduli,” ujar Andri.

Kalimat itu meluncur pelan dari hati Andri, membawa serta kehangatan empati yang jarang dijumpai di tengah riuhnya ruang rekreasi.

Terbersit rasa malu yang tersembunyi di balik senyum, ada sebuah rasa risih yang jujur tatkala, ia pun merenungkan bahwa setiap remah dan botol plastik yang kita biarkan berserakan, pada akhirnya menjelma sebagai beban tambahan di atas peluh dan letih pundak mereka.

“Ada rasa malu tersendiri kalau sampai sampah yang kita tinggalkan menambah beban pekerjaan mereka,” ungkapnya.

Seiring bertambahnya bangunan di sekitar kawasan dan melonjaknya jumlah pengunjung setiap akhir pekan, tantangan menjaga kelestarian Sumber Jiput semakin nyata. Pak Ruji tetap menjalankan tugasnya dengan sabar, kadang menegur pengunjung secara halus, kadang cukup membakar dedaunan kering di sudut area agar mata yang memandang tetap merasa nyaman.

Di tempat wisata yang menawarkan ketenangan alam ini, kehadiran Pak Ruji yang menyapu pelataran dan kesadaran pengunjung seperti Andri bertemu dalam satu simpulan: bahwa keindahan alam tidak pernah berdiri sendiri. Ia ditopang oleh keringat para penjaganya dan kepedulian dari setiap manusia yang datang menikmatinya. (*)

Penulis: Moch Abi Madyan