banner 400x130

Hampir 15 Abad, Sumur Al-Faqir Salman Al-Farisi Masih Mengalirkan Air Jernih

H. S. Makin Rahmat

Oleh: H. S. Makin Rahmat –

Ketua Forum Pemred SMSI Jawa Timur

Alhamdulillah, di sela rangkaian ibadah umrah pada Oktober 2026, saya berkesempatan mengunjungi salah satu situs bersejarah di pinggiran Kota Madinah, Arab Saudi, yakni Sumur Salman Al-Farisi, yang juga dikenal sebagai Sumur Al-Faqir atau Sumur Al-Mitsab.

Pengalaman ini menjadi perjalanan yang mengesankan. Ketika tiba di lokasi, kawasan sumur tampak tertutup. Puluhan jamaah terlihat mendatangi Sumur Al-Faqir yang berada di depan area tertutup tersebut. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui akses untuk melihat langsung sumur bersejarah itu.

Sebelum akhirnya berhasil masuk, saya sempat bertanya kepada seorang penduduk setempat. Namun, ia mengaku tidak mengetahui keberadaan sumur tersebut. Dengan izin Allah SWT, setelah mengetuk pintu pagar, seorang penjaga akhirnya membukakan akses sehingga saya dapat melihat kondisi sumur dari dekat.

Pemandangan yang tersaji sungguh menakjubkan. Dari sebuah pipa berukuran besar, air memancar deras menuju kolam penampungan. Airnya tampak sangat jernih, mengalir dengan deras, menghadirkan suasana yang menyegarkan di tengah lanskap Madinah yang identik dengan iklim kering.

Tahun lalu, menurut pengalaman saya, pengunjung masih diperkenankan berenang di kolam tersebut. Kini, kolam itu juga dihuni ikan nila dan mujair.

Ada pengalaman unik yang membuat kunjungan kali ini semakin berkesan. Ikan-ikan di kolam ternyata tidak hanya diberi pakan berupa pelet, tetapi juga menyukai jagung muda. Ketika saya memberikan jagung, ikan-ikan itu langsung berkerumun, berebut makanan hingga air kolam memercik ke berbagai arah.

Sungguh pengalaman sederhana yang menghadirkan rasa takjub sekaligus syukur atas kebesaran Allah SWT.

Jejak Sejarah Sahabat Rasulullah

Sumur Salman Al-Farisi merupakan salah satu situs bersejarah yang dikaitkan dengan perjalanan hidup Salman Al-Farisi, sahabat Rasulullah SAW yang berasal dari Persia. Ia dikenal sebagai sosok yang menempuh perjalanan panjang demi menemukan kebenaran Islam.

Salman bukan sekadar sahabat yang setia. Ia juga dikenal memiliki kecakapan dalam bidang pertanian serta pemikiran strategis dalam perjuangan Islam. Salah satu peran pentingnya tercatat dalam Perang Khandaq, yang juga dikenal sebagai Perang Ahzab.

Dalam menghadapi ancaman pasukan musuh yang mengepung Madinah, Salman mengusulkan strategi menggali parit sebagai benteng pertahanan. Gagasan tersebut diterima Rasulullah SAW dan menjadi salah satu strategi penting dalam peristiwa tersebut.

Kisah hidup Salman juga lekat dengan perjuangannya memperoleh kemerdekaan dari status perbudakan. Dalam sejumlah riwayat sirah, ia diceritakan harus memenuhi persyaratan yang diajukan oleh pemiliknya, berupa penanaman 300 pohon kurma hingga tumbuh serta berbuah dan pembayaran emas dalam jumlah tertentu.

Rasulullah SAW kemudian membantu Salman memenuhi persyaratan tersebut. Dalam riwayat yang populer, Rasulullah turut menanam pohon-pohon kurma itu, sedangkan emas untuk memenuhi kewajiban pembebasan juga diberikan sebagai bagian dari bantuan beliau.

Kisah ini menggambarkan betapa besar perhatian Rasulullah SAW terhadap sahabatnya, sekaligus menunjukkan perjuangan Salman dalam meraih kebebasan dan mengabdikan dirinya kepada Islam.

Sumur yang Menyimpan Kisah Ketekunan

Keberadaan Sumur Salman Al-Farisi kerap dikaitkan dengan kisah perjuangan Salman dalam mengelola kebun kurma untuk memenuhi persyaratan pembebasan dirinya. Sumur tersebut menjadi bagian dari tradisi sejarah yang melekat pada perjalanan hidup sahabat Rasulullah itu.

Sumur ini dikenal pula dengan nama Sumur Al-Faqir dan Sumur Al-Mitsab. Lokasinya berada di kawasan Al-‘Awali, Madinah. Keberadaannya menjadi pengingat tentang hubungan erat antara sejarah Islam, kerja keras, dan perjuangan para sahabat Rasulullah SAW.

Air yang terlihat mengalir di lokasi sumur menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Aliran airnya disalurkan melalui pipa menuju kolam, sehingga kawasan tersebut tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menghadirkan pemandangan yang menarik.

Kawasan sumur juga telah mengalami penataan dengan fasilitas pendukung, termasuk pagar pengaman dan saluran air. Penataan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga situs bersejarah agar tetap dapat dikenali dan dikunjungi.

Meski kerap disebut telah berusia lebih dari 1.400 tahun dan tidak pernah kering, klaim mengenai usia serta kesinambungan aliran air sumur tersebut perlu dipahami sebagai informasi sejarah yang memerlukan rujukan dokumenter untuk memastikan ketepatannya.

Jangan Lewatkan Jika Berkunjung ke Madinah

Bagi jamaah umrah yang berkesempatan mengunjungi Madinah Al-Munawwarah, Sumur Salman Al-Farisi bisa menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang menarik untuk dikenali.

Berkunjung ke tempat ini bukan semata-mata menyaksikan air yang mengalir jernih atau melihat ikan-ikan di kolam. Lebih dari itu, kunjungan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan Salman Al-Farisi, sahabat Rasulullah SAW yang menempuh perjalanan panjang demi menemukan Islam dan menjalani kehidupan dengan penuh ketekunan.

Di tempat ini, sejarah seakan mengajak kita kembali merenungkan arti perjuangan, persaudaraan, dan pertolongan Allah SWT dalam perjalanan hidup manusia.

Jika suatu saat berkesempatan berada di Kota Madinah, tidak ada salahnya mencari informasi mengenai akses kunjungan ke Sumur Salman Al-Farisi. Pastikan pula untuk mengikuti aturan pengelola setempat, mengingat akses ke kawasan sumur dapat dibatasi.

Semoga perjalanan ini menambah rasa syukur, memperkaya wawasan sejarah Islam, dan menguatkan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW serta para sahabatnya. Barakallah. (*)

Penulis: H.S. Makin Rahmat