banner 400x130
Ekbis  

Kemenperin Pacu Industri Mainan Nasional Tembus Pasar Global

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu daya saing industri mainan nasional seiring semakin terbukanya peluang pasar domestik dan global. Penguatan dilakukan melalui peningkatan kualitas produk, penerapan standardisasi, pengembangan kapasitas produksi, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta perluasan akses pasar.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, industri mainan merupakan bagian dari sektor industri aneka yang memiliki karakteristik dan potensi strategis. Industri tersebut tidak hanya memberikan kontribusi terhadap perekonomian, tetapi juga menghasilkan produk yang mendukung proses pendidikan dan perkembangan anak.

“Mainan tidak hanya dipandang sebagai produk untuk hiburan, t

tapi juga dapat menjadi bagian dari proses pendidikan, pengembangan kreativitas, kemampuan motorik, imajinasi, hingga kemampuan memecahkan masalah pada anak,” kata Reni di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Menurut Reni, tantangan industri mainan nasional saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan produksi. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan produk buatan dalam negeri mampu diserap masyarakat dan memiliki daya saing untuk masuk ke rantai pasok global.

“Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional,” ujarnya.

Berdasarkan data BPS 2024 dan SIINas 2025, terdapat 256 unit usaha yang bergerak di sektor industri mainan dengan total tenaga kerja mencapai 15.663 orang. Industri ini juga ditopang 10 sentra IKM mainan yang tersebar di sejumlah daerah, yakni empat sentra di Jawa Tengah, satu sentra di Jawa Timur, dan lima sentra di Jawa Barat.

Data tersebut menunjukkan industri mainan memiliki basis produksi yang cukup luas sekaligus berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Kemenperin menilai fondasi tersebut masih dapat diperkuat melalui peningkatan kapasitas produksi, kualitas, inovasi, dan akses pasar.

Dari sisi perdagangan, industri mainan nasional menunjukkan prospek yang positif. Dalam lima tahun terakhir, sektor tersebut mencatat surplus net ekspor. Pada 2025, nilai ekspor industri mainan meningkat 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya hingga mencapai sekitar USD664,6 juta.

Tren peningkatan berlanjut pada semester pertama 2026. Nilai ekspor periode Januari-Juni 2026 tercatat USD351,8 juta, meningkat dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai USD297,7 juta.

“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, China, Australia, dan Republik Ceko. Capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global,” kata Reni.

Selain pasar ekspor, peluang pengembangan industri mainan juga terbuka melalui segmen produk pendidikan. Menurut Reni, kebutuhan terhadap media pembelajaran interaktif dapat menjadi peluang bagi pelaku industri untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

Produk seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game dinilai memiliki prospek karena menggabungkan unsur permainan dengan pembelajaran. Pengembangan produk tersebut juga dapat mendorong industri mainan untuk semakin inovatif dan mengikuti kebutuhan konsumen.

Kemenperin juga memperkuat kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN). Hingga 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” jelas Reni.

Sementara itu, Direktur Industri Aneka Reny Meilany mengatakan pemenuhan standar menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan keamanan produk mainan. Kemenperin secara konsisten memberikan pembinaan dan fasilitasi, terutama bagi pelaku industri kecil dan menengah.

Fasilitasi tersebut mencakup sertifikasi SNI mainan anak, pendampingan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015, asesmen dan implementasi Industri 4.0, sosialisasi e-katalog, workshop penghitungan TKDN, pendampingan sentra IKM, pengembangan sentra, business matching, serta fasilitasi keikutsertaan dalam pameran internasional.

Penguatan kapasitas produksi juga dilakukan melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan bagi IKM. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong pelaku industri menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan kompetitif.

Upaya penguatan ekosistem industri mainan turut dilakukan melalui Indonesia Toy Forum 2026. Kegiatan yang merupakan kolaborasi Ditjen IKMA dengan Asia Toy and Play Association (ATPA) tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dunia pendidikan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.

Forum tersebut diisi seminar yang menghadirkan perwakilan sejumlah perusahaan, antara lain PT Mattel Indonesia, EMWAY Globalindo, The LEGO Group, dan PT Chateda. Selain seminar, kegiatan juga dilengkapi pameran yang diikuti 25 pelaku industri kecil, menengah, maupun besar.

Pameran Indonesia Toy Forum 2026 berlangsung pada 29 September hingga 1 Oktober 2026 di Plasa Industri, Gedung Kementerian Perindustrian. Kegiatan tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi sekaligus menghasilkan langkah konkret dalam pengembangan industri mainan nasional.

“Indonesia Toy Forum 2026 diharapkan dapat menjadi momentum untuk menghasilkan pembahasan yang lebih konkret mengenai penguatan industri mainan nasional,” pungkas Reni.

(din/ais)