KEDIRI, WartaTransparansi.com – Lampu panggung berwarna merah muda menyapu area Teras Gubuk (TG) Fest 02. Sorot visualizer bergerak di layar besar, sementara dentum musik yang sebelumnya memenuhi kawasan festival perlahan berhenti.
Di atas panggung utama, sebuah meja berbalut kain hitam menjadi pusat perhatian. Di atasnya tersaji tumpeng nasi kuning lengkap dengan tampah berisi jajanan dan hiasan khas Nusantara.
Sekitar pukul 19.32 WIB, riuh festival berubah menjadi suasana hangat dan khidmat. Ribuan jamaah yang memenuhi area panggung mengarahkan pandangan ke satu titik. Prosesi potong tumpeng pun dimulai.
Jajaran tokoh, penyelenggara, dan pengisi acara berdiri bersama di atas panggung. Di antara mereka tampak KH Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar. Mengenakan kemeja hitam, peci, dan sarung, ulama asal Ploso, Kabupaten Kediri, itu berdiri tenang di tengah suasana perayaan.
Gus Kautsar didampingi sang istri Ning Jazilah Annahdliyah atau yang akrab disapa Ning Jazil, yang mengenakan jubah hijau zaitun. Kehadiran keduanya menambah warna pada malam yang mempertemukan suasana keagamaan dengan hiburan.
Namun, potong tumpeng malam itu bukan semata seremoni peringatan hari lahir. Ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: menikmati hiburan juga bisa menjadi bagian dari upaya menjaga hati tetap segar.
“Acara malam hari ini murni tanazzuhul qulub, hiburan untuk menyejukkan hati. Jangan sampai ada kesan malam ini kita ngaji yang berat-berat,” kata Gus Kautsar dalam sambutan Rabu 30 September 2026 malam.
Ia kemudian berbicara tentang sifat manusia yang mudah bosan atau sa’amah. Menurutnya, kejenuhan merupakan bagian dari kehidupan sehingga seseorang membutuhkan ruang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.
Gus Kautsar mengutip kearifan Sayyidina Abdullah bin Mas’ud RA. Rasulullah SAW, kata dia, juga memberikan jeda dalam menyampaikan pengajaran agar hati tidak merasa jenuh.
Dari sana, ia melihat hiburan bukan sekadar aktivitas untuk menghabiskan waktu. Hiburan yang baik justru dapat menjadi ruang untuk mengembalikan semangat sebelum seseorang kembali menjalani aktivitas dan memperbaiki diri.
Ia menyebutnya sebagai semacam “pengecasan”. Setelah energi kembali terisi, seseorang diharapkan dapat melanjutkan perjalanan dengan semangat dan semakin istikamah.
Pesan itu kemudian menemukan bentuknya di atas panggung TG Fest 02. Seusai potongan tumpeng diserahkan dan doa dipanjatkan, suasana kembali cair.
Gus Kautsar berbincang bersama vokalis Letto sebelum melanjutkan acara dengan memainkan musik. Panggung yang beberapa menit sebelumnya khidmat kembali dipenuhi suasana santai dan riang.
Malam semakin meriah ketika rangkaian acara berlanjut dengan undian umroh. Setelah itu, Dewa 19 tampil dan kembali menghidupkan panggung dengan musik yang disambut antusias para pengunjung.
Kilatan kamera ponsel muncul dari berbagai penjuru. Ribuan jamaah menikmati pertunjukan sembari mengikuti rangkaian acara hingga penghujung malam.
Di TG Fest 02, potong tumpeng akhirnya tidak berhenti sebagai seremoni. Ia menjadi jeda kecil di tengah kemeriahan, mempertemukan rasa syukur, kebersamaan, dan hiburan dalam satu panggung.
Sebuah pengingat bahwa suasana religius tidak selalu harus hadir dalam keseriusan. Sesekali, hati juga membutuhkan ruang untuk tersenyum, menikmati musik, lalu kembali melangkah dengan semangat yang lebih segar.(*)







