banner 400x130
Malang  

Pompanisasi Jadi Harapan Atasi Krisis Air di Tumpakrejo Malang

PMI Jatim dan PMI Kab. Malang menyalurkan Air bersih Untuk warga pegunungan Dusun Sukorejo, Desa Tumpakrejo Mec. Gedangan Malang. Ketua PMI Jawa Timur H. Imam Utomo S sedang mrngalirkan di bak penampungan. Kamis (13/8/2026)

MALANG, WartaTransoaransi.com — Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Malang mendapat perhatian Ketua PMI Jawa Timur H. Imam Utomo S. Saat mengunjungi Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Imam Utomo melihat potensi sumber air yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Imam memerintahkan agar segera dilakukan kajian pompanisasi, pipanisasi, bahkan pembangunan Sumur bor di Dusun Sukorejo, Desa Tumpakrejo, Kec. Gedangan, Malang. Selain memiliki sumber air yang berada tidak jauh dari permukiman, desa tersebut juga telah memiliki tandon air berkapasitas sekitar 3.000 hingga 4.000 liter.

“Di Desa Tumpakrejo sudah memiliki tandon. Artinya, fasilitas penampungan sudah tersedia. Yang dibutuhkan kini adalah pompanisasi dan sumur bor,” kata Imam.

Dalan kesempatan itu Imam Utomo langsung meminta Ketua Bidang Penanggulangan Bencana (PB) PMI Jawa Timur Edi Purwinarto segera membentuk tim untuk melakukan survei dan kajian teknis.

“Segera melakukan survei lapangan. Hasilnya segera dilaporkan ke PMI Pusat, Pemprov Jawa Timur dan lembaga donor internasional seperti Japanese Red Cross Society (JRCS), karena ini mendesak,” tegasnya.

Kepala Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kaselan mengatakan, wilayahnya merupakan berada di Malang Selatan. Desa tersebut terdiri atas empat dusun, yakni Sukorejo, Gombangan, Sumber Arum dan Poh Kecik. Dusun Sukorejo dan Poh Kecik menjadi wilayah yang terdampak krisis air bersih.

Menurut Kaselan, kondisi geografis membuat Tumpakrejo rawan kekurangan air, terutama saat musim kemarau panjang. Krisis air bersih telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir.

“Warga hanya menggantungkan kucuran dari sumber air yang jaraknya sekitar dua kilometer. Itu pun hanya cukup untuk memasak saja,” ujarnya.

Kaselan menyambut baik rencana pompanisasi yang disampaikan Ketua PMI Jawa Timur Imam Utomo. Menurut dia, sumber air sebenarnya tidak terlalu jauh dari tandon yang telah tersedia.

“Tadi Pak Imam juga akan mengupayakan pompanisasi, mesin diesel atau sumur bor. Di sini, Untuk Sumur bor kedalamannya sekitar 20 meter sudah tembus air. Sedangkan antara tandon air dan sumber air jaraknya hanya sekitar 500 meter. Semoga ini terealisasi,” harapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan warga, PMI Kabupaten Malang sebelumnya telah mengirim satu truk tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi sekitar 100 kepala keluarga yang terdampak.

Ketua PMI Kabupaten Malang Hj. Jajuk Rendra Kresna, S.E., M.M., yang turut mendampingi kunjungan bersama Kepala Markas PMI Kabupaten Malang Aprilianto dan sejumlah staf, mengatakan pihaknya akan terus melakukan dropping air bersih sesuai kebutuhan masyarakat.

Tumpakrejo sendiri memiliki relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) yang dibentuk bersama PMI Kabupaten Malang pada 2021. Seiring waktu, peran relawan berkembang melalui berbagai pelatihan, termasuk pelatihan yang diberikan Japanese Red Cross Society (JRCS).

Para relawan juga mulai mengenalkan kesiapsiagaan bencana kepada pelajar di sekolah-sekolah di Desa Tumpakrejo. Selain kebencanaan, mereka mendapat pelatihan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, seperti peternakan kambing dan bercocok tanam.

Imam Utomo mengatakan, krisis air bersih menjadi persoalan yang terus berulang di sejumlah wilayah Jawa Timur setiap musim kemarau. Menurut dia, bencana di Jawa Timur tidak hanya berupa tanah longsor maupun kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga kekeringan yang berujung pada krisis air bersih.

“Saat ini terdapat 13 kabupaten yang mengalami krisis air bersih dan mendapat perhatian PMI,” katanya.

PMI memberikan bantuan kepada sejumlah daerah dengan dukungan PMI Pusat. Namun, menurut Imam, penanganan persoalan air tidak selalu membutuhkan pembangunan infrastruktur baru. Di sejumlah wilayah, sumber air sebenarnya tersedia, tetapi infrastruktur untuk mengalirkannya belum memadai.

Imam mencontohkan kondisi di Blitar. Di wilayah tersebut pernah dibangun tandon, namun kini kondisinya rusak. Persoalan yang harus diselesaikan bukan sekadar menyediakan tempat penampungan, tetapi juga memastikan air dapat dipompa dan dialirkan.

Jika hasil kajian menyatakan layak, pompanisasi dapat menghubungkan sumber air yang berada di sekitar Dusun Sukorejo dengan tandon yang telah tersedia. Air selanjutnya dapat didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan warga.

Bagi masyarakat Sukorejo, Desa Tumpakrejo, upaya tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang. Dengan adanya sumber air, tandon dan relawan masyarakat, kebutuhan utama kini adalah membangun sistem yang mampu menghubungkan sumber air dengan permukiman warga. (*)

Penulis: Amin Istighfarin