KEDIRI WartaTransparansi.com – Ribuan pasang mata terpaku ke panggung utama Festival Kali Brantas V di halaman depan Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Sabtu (11/7/2026) malam.
Di bawah semburat cahaya lampu dan irama musik yang menghentak, 273 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNP Kediri bersama siswa SD Laboratorium UNP menghadirkan drama tari kolosal Calon Arang. Bukan sekadar pertunjukan budaya, lakon itu menjadi ikhtiar mengembalikan legenda yang selama ini lebih dikenal sebagai warisan Bali ke tanah asalnya, Desa Girah, Kediri.
Pementasan tersebut menjadi magnet utama Festival Kali Brantas. Gerak tari, dialog, dan tata artistik berpadu menghadirkan kembali kisah perempuan sakti yang hidup pada masa Raja Airlangga di Kerajaan Kahuripan abad ke-11.
Legenda yang selama berabad-abad berkelana dalam ingatan Nusantara malam itu seolah menemukan jalan pulang ke Bumi Kediri.
Dosen Program Studi PGSD UNP Kediri, Wahyudi, mengatakan pementasan tersebut lahir dari kegelisahan akademik sekaligus tanggung jawab budaya. Menurutnya, banyak masyarakat mengira Calon Arang sepenuhnya berasal dari Bali, padahal jejak sejarahnya masih dapat ditemukan di Desa Girah, Kabupaten Kediri.
“Calon Arang itu memang sumbernya ada dari Kediri, cuman proses berkembangnya banyak di Bali. Jadi cerita-cerita ini banyak selalu yang mengaitkan bahwa ini budaya Bali, ini budaya Bali. Tapi sebenarnya situs itu pun ada di Kediri juga, ada di Desa Girah, sehingga cerita ini tidak melulu tentang Bali, tapi Kediri juga punya cerita tentang Calon Arang,” ujarnya.
Ia menegaskan pertunjukan tersebut tidak dibangun untuk mengedepankan sisi mistis Calon Arang, melainkan menghadirkan pesan kemanusiaan tentang pentingnya merawat kebudayaan.
“Bahwa kalau kebudayaan itu tidak dibangun dengan rasa cinta dan ketulusan, maka dia akan sirna dengan sendirinya. Tapi kalau mendekati kebudayaan itu dengan cinta, dengan ketulusan, itu dia akan berkembang,” jelas Wahyudi.
Nilai itu, lanjut dia, diwujudkan melalui sosok Ratna Manggali yang berada di antara kasih kepada ibunya dan cintanya kepada Bahula.
“Bahwa dia cinta ibunya, dia cinta kepada Bahula, tapi dia memetakan cinta itu harus adil terhadap ibu dan terhadap Bahula. Artinya ketulusan itu yang menuntun dengan sendirinya, jalan cerita cinta itu akan mengarah ke mana,” terangnya.
Pementasan tersebut merupakan hasil latihan intensif selama tiga bulan sejak Mei. Para mahasiswa PGSD yang dipersiapkan menjadi calon guru sekolah dasar ditempa menguasai keaktoran, blocking, penghayatan karakter, hingga harmonisasi musik dan visual.
Bagi mereka, panggung festival menjadi ruang pembelajaran yang sesungguhnya, tempat nilai akademik diterjemahkan menjadi karya budaya yang hidup.
Salah satu sorotan malam itu datang dari Nailla Naswa Salsabila, mahasiswi semester empat PGSD asal Pare, Kabupaten Kediri, yang dipercaya memerankan tokoh utama Calon Arang. Debutnya sebagai aktor sekaligus pemeran utama menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
“Perasaannya sangat senang karena ini pertama kali juga saya memerankan Calon Arang dan juga saya pertama kali menjadi aktor,” ujarnya.
Nailla mengaku tantangan terberat justru datang dari karakter yang sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya.
“Tentunya ada cukup berat ya, karena memang Calon Arang itu kan seseorang yang menganut ilmu hitam. Harus pakai emosi yang sangat meluap-luap ya, dan itu cukup susah, berbeda dengan karakter asli saya,” jelasnya.
Menurut Nailla, kemurkaan Calon Arang berakar dari kasih sayang seorang ibu kepada Ratna Manggali yang terus mendapat perlakuan buruk dari warga Desa Girah.
“Dia kan penganut ilmu hitam. Nah, dia seperti itu karena gara-gara anaknya itu selalu diganggu oleh warga, sehingga saya tuh murka. Sebagai Calon Arang saya murka, sehingga emosinya tuh sangat meluap-luap sehingga menyebarkan sebuah wabah,” katanya.
Selama latihan, karakter tersebut bahkan sempat memengaruhi kesehariannya.
“Emosinya terbawa dalam keseharian juga. Dan kalau setiap hari teriak-teriak itu juga capek tentunya, ya. Jadi kesulitannya itu,” akunya.
Namun, pengalaman itu juga mengubah dirinya menjadi lebih percaya diri.
“Positifnya saya jadi lebih percaya diri, ya. Karena memang saya itu sedikit pemalu, sehingga saya ingin mencoba hal ini dan bisa lebih percaya diri gitu,” ungkapnya.
Di sisi lain, Bunga Putri Maharani, mahasiswi semester empat PGSD asal Kota Blitar yang memerankan Ratna Manggali, mengaku gugup ketika harus tampil di hadapan ribuan penonton.
“Perasaannya sekarang deg-degan banget sih, Pak. Karena ini baru pengalaman baru, jadi saya harus menampilkan yang terbaik untuk para dosen dan juga semua yang lagi nonton,” katanya.
Ia menjelaskan Ratna Manggali merupakan sosok perempuan yang lembut, penyayang, tetapi harus menanggung stigma akibat ibunya yang ditakuti masyarakat.
“Ratna Manggali di sini itu lemah lembut, baik, suka menolong, tetapi punya ibu yang dia itu penganut ilmu hitam. Sedangkan di Desa Girah itu takut sama ibunya Ratna Manggali ini. Jadi Ratna Manggali ini merasa sedih, lalu merasa tersingkirkan, dijauhi oleh semua warga Desa Girah,” jelas Bunga.
Dari tokoh yang diperankannya, Bunga memetik pelajaran tentang kesabaran dan ketulusan.
“Sisi positif yang bisa diambil dari Ratna Manggali itu mungkin tetap sabar meskipun dia itu dihina, dicaci maki oleh semua warga Girah. Dia tetap mau menolong dan dia juga tidak menginginkan ini semua terjadi, tapi mau gimana lagi karena ibunya juga penganut ilmu hitam,” tuturnya.
Ia berharap generasi muda tidak berhenti mencintai budaya bangsa.
“Terus kembangkan budaya Indonesia karena budaya Indonesia sangat beragam. Jadi kita sebagai generasi bangsa yang melanjutkan untuk melestarikan budaya, kita harus tetap menonton pertunjukan seperti ini, kita terus mendukung seperti itu,” pungkasnya.(*)







