Bekasi, Wartatransparansi.com — Insiden tabrakan antara kereta api jarak jauh dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, menelan korban jiwa. Hingga Selasa (28/4/2026) pagi, tercatat lima orang meninggal dunia, sementara proses evakuasi korban lainnya masih berlangsung intensif.
Kecelakaan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dengan rangkaian KRL yang sedang berada di jalur Stasiun Bekasi Timur. Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin malam sekitar pukul 20.55 WIB.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Mohammad Syafii, mengatakan tim SAR gabungan bekerja tanpa henti untuk menyelamatkan korban yang masih terjepit di dalam gerbong.
“Proses evakuasi dilakukan secara bergantian oleh personel yang memiliki keahlian khusus ekstrikasi. Tidak ada jeda, semua bekerja nonstop,” ujarnya dalam keterangan video yang diterima di Jakarta.
Petugas menggunakan alat ekstrikasi berat untuk memotong rangka besi gerbong KRL yang menghimpit korban. Proses ini berlangsung sangat hati-hati karena ruang gerbong yang sempit serta posisi kereta yang saling bertumpuk.
Diketahui, bagian kepala KA Argo Bromo Anggrek masuk ke dalam rangkaian KRL, memperparah kondisi dan menyulitkan proses penyelamatan.
Tim SAR juga menerapkan penanganan simultan, di mana evakuasi dilakukan bersamaan dengan tindakan medis di lokasi guna menjaga kondisi korban tetap stabil.
Berdasarkan laporan dari lapangan, hingga pukul 05.11 WIB terdapat tujuh penumpang yang sempat terjepit di gerbong KRL nomor 8, yang merupakan gerbong khusus wanita.
Dari jumlah tersebut, tiga korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Sementara itu, proses pencarian dan evakuasi korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim gabungan di lokasi kejadian.
(din/ais)






