Blitar  

Tingkatkan Kualitas SDM Indonesia Melalui Pemenuhan Gizi Seimbang, SPPG Gandusari Siap Layani Siswa Sekolah

BLITAR, WartaTransparansi.com – Kegiatan Opening Satuan Pelayanan Pelayanan Gizi (SPPG) resmi dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB di Desa Sumber Agung, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Sabtu (04/04/2026). Program ini menjadi bagian dari langkah strategis nasional dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat guna mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutan yang, Camat Gandusari, Sulistyaningsih, menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan ini merupakan tahap awal dari pengoperasian layanan gizi yang terstruktur dan terstandar. Saat ini, dari total rencana 12 SPBG yang akan dibangun di wilayah tersebut, baru tiga yang telah beroperasi.

“Alhamdulillah, saat ini sudah tiga SPBG yang berjalan. Kami optimis ke depan seluruh unit dapat segera beroperasi sehingga jangkauan layanan semakin luas dan merata,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam pelaksanaan program ini, kualitas makanan menjadi prioritas utama. Makanan yang disajikan tidak hanya harus enak, tetapi juga memenuhi standar gizi, higienitas, serta keamanan konsumsi sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan.

Selain itu, pihaknya juga siap menerapkan sistem transparansi, termasuk pencantuman label harga dan informasi menu pada setiap sajian. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat sekaligus sebagai bentuk akuntabilitas pelaksanaan program.

“Jika memang itu menjadi arahan dari pusat, kami siap melaksanakan pelabelan harga dan menu secara terbuka agar masyarakat memahami standar yang diterapkan,” tambahnya.

Kepala SPPG, Hasyanul Kamal, dalam keterangannya menegaskan bahwa program SPPG memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan yang menjadi prioritas utama.

Ia menyebutkan bahwa sasaran utama program ini dikenal dengan istilah 3B, yakni ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita.

“Program ini harus benar-benar menyasar kelompok 3B, yaitu bumil, busui, dan balita. Karena kelompok inilah yang paling membutuhkan intervensi gizi untuk mencegah stunting dan meningkatkan kualitas generasi ke depan,” tegasnya.

Hasanul juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat penerima manfaat, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga, agar pemahaman terkait pola makan sehat dan gizi seimbang dapat meningkat.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah kecamatan, Muspika, tenaga kesehatan, hingga dukungan masyarakat.

“Kami siap melakukan pendampingan dan pengawasan bersama tiga pilar, termasuk tenaga kesehatan. Ini bukan untuk mencampuri teknis, tetapi memastikan program berjalan sesuai aturan dan memberikan manfaat nyata,” ujarnya.

Saat ini, wilayah sasaran program masih difokuskan di Kabupaten Sumedang, dengan proses pemetaan penerima manfaat yang masih terus dilakukan. Pemerintah setempat berupaya agar distribusi layanan dapat menjangkau seluruh kelompok yang membutuhkan secara adil dan merata.

Selain itu, Hasanul juga membuka ruang bagi masyarakat dan media untuk turut mengawal jalannya program melalui kritik dan masukan yang konstruktif.

“Kalau ada kekurangan, silakan disampaikan. Peran media dan masyarakat sangat penting agar program ini terus diperbaiki dan berjalan sesuai harapan,” imbuhnya.

Dengan dimulainya operasional SPBG ini, diharapkan upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat dapat berjalan lebih optimal, sekaligus menjadi langkah konkret dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045. (*)