MOJOKERTO (WartaTransparansi.com) – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Kec. Kutorejo, Mojokerto, dihentikan sementara. Ini imbas adanya ratusan pelajar (santri dan sisw) penerima jatah MBG (Makan Bergizi Gratis) di duga mengalami keracunan.
Penghentian sementara SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang kesehariannya melayani 2.679 siswa tersebut berdampak langsung pada kelancaran distribusi MBG di 20 sekolah. Ribuan siswa penerima manfaat kini tak lagi menerima MBG hingga waktu yang belum ditentukan.
Petugas Bulog Koordinator wilayah BGN Kab. Mojokerto Rosidian Prasetyo menyampaikan, penghentian sementara distribusi MBG dilakukan hingga proses investigasi selesai dilakukan. “(Distribusi MBG) Kami pastikan off sampai investigasi selesai,” kata Rosidian, dikonfirmasi, Kamis (15/01/2026).
Dijelaskan pihaknya menunggu persetujuan pimpinan, terkait petunjuk selanjutnya. Karena harus melalui prosedur, tidak bisa serta merta dialihkan langsung, harus ada proposol. Kebetulan temen-temen sudah kirim proposol ke SPPG terkait sebelum kejadian,” ungkap Rosidian.
Dijelaskan Investigasi gabungan telah digelar untuk mengungkap penyebab para pelajar dan santri mengalami keracunan massal. Penyelidikan antara lain melibatkan Polres Mojokerto, Kodim 0815, Dinas Kesehatan, serta perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, belum dapat dipastikan waktu penyelesaian investigasi dengan memeriksa sejumlah pihak, mulai dari kepala dapur, ahli gizi, hingga relawan yang bekerja menyiapkan menu MBG di dapur SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03.
Hanya saja, hasil dari investigasi belum bisa dijadikan acuan apakah keracunan disebabkan karena paket MBG atau karena sebab lain. Termasuk apakah ada indikasi kesalahan maupun kelalaian baik cara penyajian hingga pengemasan makanan sebelum dibagikan kepada penerima. Sebab, jeda waktu antara mengonsumsi MBG dengan keluhan yang dialami siswa dan santri cukup panjang, yakni lebih dari 12 jam. Rata-rata siswa mengeluh mual, muntah hingga diare berjarak sekitar 12 jam dari waktu mengonsumsi MBG dengan menu soto ayam, Jeda waktu inilah yang bisa juga dimungkinkan disebabkan faktor selain paket MBG.
“Kami masih koordinasi dengan pihak kepolisian. Untuk menyimpulkan dugaan awal kami belum berani. Kalau dilihat pada umumnya, reaksinya makanan akan muncul 1-6 jam. Ada anomali, ini masih kita cari sambil menunggu hasil laboratorium,”ungkapnya.
Dijelaskan Dinkes Kabupaten Mojokerto sudah mengambil sampel menu soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 untuk dilakukan pemeriksaan tim Labkesda Kabupaten Mojokerto. Namun untuk hasil uji laboraturium baru bisa kami keluarkan hari Rabu (14/1) atau Kamis (15/1/2026) pagi.
Dipastikan bila hasil investigasi membuktikan adanya kelalaian oleh SPPG, maka bisa dikenakan berbagai bentuk sanksi, mulai dari sanksi administratif hingga sanksi pidana. “Kalau terbukti tidak sesuai aturan pasti kita tutup. (Kalau ada unsur pidana?) Bisa, kalau hasil laboratorium merujuk SDM-nya dan ada temuan serta bukti, bisa kita proses (pidana),” pungkasnya.
Secara terpisah, Kadinkes Kab. Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati menyampaikan pihaknya telah mengambil langkah dengan melakukan perawatan di sejumlah Puskesmas dan rumah sakit yang dekat dengan lokasi sekolahan/ponpes., sekaligus melakukan pendataan korban.
Selanjutnya petugas dari Dinkes Kab, Mojokerto melakukan pengambilan sampel menu soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 untuk dilakukan pemeriksaan tim Labkesda Kabupaten Mojokerto.
“Untuk hasil uji laboraturium baru bisa kami keluarkan hari Rabu (14/1) atau Kamis (15/1/2026) pagi. Sampel makanannya dari bank sampel SPPG yang sudah disisihkan,”jelas Kadinkes. Kab. Mojokerto Dyan Anggrahini, dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Dijelaskan sebelumnya, ratusan santri dan siswa mengalami keracunan diduga usai menyantap MBG soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo, Mojokerto.
MBG menu soto ayam tersebut dibagikan ke para pelajar dan santri di wilayah Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. Gejala klinis keracunan mulai dirasakan para pelajar dan santri pada malam dan pagi harinya. Penerima MBG tiba-tiba pusing, mual, muntah, demam dan diare.
Dijelaskan data yang diperoleh Dinkes Kabupaten Mojokerto jumlah korban yang diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis mencapai 261 anak. 112 anak di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit dan puskesmas. Sedangkan 140 anak sudah diperbolehkan pulang atau rawat jalan dan 9 anak dirawat di Posko Ponpes An Nur Desa Desa Singowangi.
Sedangkan fasilitas kesehatan yang merawat korban keracunan MBG massal ini antara lain Sejumlah Puskesmas baik Kutorejo, Dlanggu dan Pacet. Jugaraway di RSUD Prof dr Soekandar, RSI Arofah, RS Sumberglagah, RS Mawaddah Medika serta RS Kartini.(*)











