KEDIRI (WartaTransparansi.com) – RSUD Gambiran Kota Kediri memperkuat layanan terapi pasien dengan mengoperasikan Gedung Instalasi Gizi baru yang dirancang sebagai pusat nutrisi modern berstandar nasional. Fasilitas ini menjadi langkah strategis rumah sakit rujukan Mataraman untuk memastikan setiap pasien mendapatkan layanan gizi yang aman, terukur, dan menjadi bagian dari terapi penyembuhan, bukan sekadar pendamping pengobatan.
Kepala Ruang Gizi RSUD Gambiran Kota Kediri, Retno Larasati, S.Gz., M.Kes., Dietisien., CHNMP, menyebut gedung tersebut dirancang sebagai fasilitas yang memenuhi standar keamanan pangan dan standar diet rumah sakit.
“Dengan hadirnya gedung gizi baru adalah sebagai salah satu wujud komitmen RS dalam memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Kediri akan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas, utamanya pemenuhan layanan gizi RSUD Gambiran,” ujarnya, Senin 1 Desember 2025.
Ia menegaskan mayoritas fasilitas sudah memenuhi standar penyelenggaraan makanan rumah sakit sehingga pelayanan yang diberikan akan memenuhi prinsip keamanan makanan bagi pasien maupun pengguna layanan gizi, memberikan diet yang sesuai dengan standar nilai gizi, serta asuhan gizi pasien yang terstandar.
Gizi Sebagai Pilar Penyembuhan
Retno menjelaskan RSUD Gambiran menempatkan gizi sebagai bagian dari terapi utama. “Tanpa mengesampingkan kualitas pelayanan medis, RSUD Gambiran memilih strategi lain dalam menjadikan terapi gizi sebagai salah satu pilar penyembuhan karena di RSUD Gambiran, diet adalah salah satu terapi pasien,” katanya.
Menurut dia, makanan pasien dihasilkan melalui proses berbasis kebutuhan medis, dibuat berdasarkan standar sehingga terukur, dihitung, terpantau, serta diproduksi secara aman dan higienis. Hal ini, kata dia, menjadi bagian dari pelayanan holistik demi menciptakan rasa nyaman selama masa perawatan.
Keunggulan Teknis Instalasi Gizi Baru
Sebagai rumah sakit rujukan Mataraman, Instalasi Gizi baru RSUD Gambiran membawa sejumlah keunggulan. “Penyelenggaraan makanan pasien sudah sesuai standar dengan alur kerja yang mengikuti SOP,” ujar Retno.
Ia menyebut inovasi layanan katering diet, baik makanan utama maupun snack sehat, kini dapat melayani diet penyakit tertentu dan nutrisi enteral formula RS. SDM profesional terdiri dari spesialis gizi klinik dan ahli gizi bersertifikat dietisien sehingga manajemen asuhan gizi lebih terintegrasi dengan tenaga kesehatan lain.
Menjaga Rasa Tanpa Melanggar Standar Kesehatan
Keluhan makanan rumah sakit yang hambar menjadi perhatian tim gizi. Retno menegaskan pihaknya menjaga rasa dan kenyamanan konsumsi tanpa mengabaikan kondisi klinis. “Kami selalu menerapkan produksi makanan sesuai standar resep, standar diet, standar porsi, standar bumbu, serta standar penyajian, sehingga memastikan pasien mendapatkan makanan sesuai kondisi penyakitnya namun tetap bisa dinikmati,” jelasnya.
Personalisasi Menu untuk Kasus Klinis Khusus
Dalam kasus-kasus seperti stroke, gagal ginjal, atau diabetes, personalisasi menu dilakukan melalui proses asuhan gizi. “Ahli gizi melakukan asesmen dengan memperhatikan jenis penyakit, kebutuhan energi, toleransi bentuk makanan, preferensi makanan, serta alergi masing-masing pasien,” kata Retno.
Setelah itu, ahli gizi mengirim order diet melalui SIMRS untuk diproduksi sesuai diet masing-masing pasien. Informasi identitas, jenis diet, alergi, hingga keterangan tambahan tercantum dalam etiket makan sehingga ketepatan diet dapat dipastikan.
Layanan Edukasi Gizi, Konsultasi, dan Peran Gedung Baru
Gedung baru juga menjadi pusat pembelajaran bagi mahasiswa gizi dari berbagai perguruan tinggi. Retno menjelaskan edukasi dan konsultasi gizi dilakukan langsung di ruang rawat inap. “Proses edukasi bisa dilakukan bedside education sehingga mempermudah akses pasien,” ujarnya.
Ia menambahkan pelayanan dokter spesialis gizi klinik terintegrasi dengan layanan rawat jalan. Dampaknya, komunikasi diet antara pasien dan ahli gizi semakin efektif sehingga kepatuhan pasien meningkat dan risiko kekambuhan menurun. “Perbaikan outcome klinis dan kepuasan pasien juga meningkat,” ujar Retno.
SDM Ahli Gizi Unggul dan Terus Mengikuti Pelatihan
Retno memastikan kompetensi SDM Instalasi Gizi cukup kuat. “Kami memiliki satu dokter spesialis gizi klinik dan 14 ahli gizi dengan latar pendidikan S2, S1/D4, dan D3. Beberapa telah memiliki sertifikat profesi dietisien,” katanya. RS, lanjutnya, terus memfasilitasi pendidikan lanjutan dan workshop guna meningkatkan mutu layanan.
Distribusi Makanan Tepat Waktu hingga Unit Kritis
Distribusi makanan menjadi salah satu indikator mutu instalasi. “Kami memastikan mulai proses penerimaan bahan makanan sampai makanan terdistribusi sesuai waktu yang ditentukan,” tutur Retno.
Ia menyebut indikator ketepatan waktu distribusi sejak Januari–Oktober 2025 selalu tercapai.
Keamanan Pangan dan Rencana Sertifikasi Halal

Gedung baru didukung sarana modern yang menunjang standar hygiene sanitasi. “Ini akan diikuti Sertifikasi Laik Hygiene Sanitasi dan sertifikasi halal di tahun 2026,” ungkapnya. Dengan demikian, makanan yang diproduksi semakin aman dikonsumsi oleh pasien maupun masyarakat pengguna layanan gizi.
Indikator Keberhasilan dan Transparansi kepada Publik
Retno menilai investasi gedung baru bukan sekadar pembangunan fisik tetapi transformasi layanan. “Indikator keberhasilannya meliputi kepuasan pasien, efektivitas klinis, dan efisiensi operasional,” katanya.
Menurutnya, masyarakat dapat melihat hasil melalui testimoni pasien, laporan indikator mutu instalasi gizi, serta edukasi publik yang dipublikasikan lewat media sosial RSUD Gambiran.(*)











