banner 400x130

Fameela Lateh, Wisudawan Asal Thailand di UNESA: Sempat Kesulitan Bahasa, Kini Lebih Percaya Diri Berbicara di Depan Kelas

Wisudawan Unesa asal Thailand di acara Wisuda ke-123 yang berlangsung pada Selasa (27/10/2026) di Graha Unesa Surabaya. (Foto: Tim Humas Unesa)

SURABAYA – Pengalaman menempuh pendidikan di negara lain menjadi perjalanan berharga bagi Fameela Lateh, wisudawan asal Thailand yang berhasil menyelesaikan studi S-1 Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Fameela merupakan salah satu wisudawan internasional dalam Wisuda ke-123 UNESA yang digelar di Graha UNESA, Selasa (27/10/2026). Keberhasilannya menyelesaikan pendidikan tinggi di Indonesia tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga menandai perjalanan panjang beradaptasi dengan bahasa, budaya, dan lingkungan perkuliahan yang berbeda dari negara asalnya.

Fameela mengungkapkan, keputusannya kuliah di Indonesia berawal dari keinginannya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus merasakan pengalaman belajar di luar negeri. Letak geografis Indonesia yang relatif dekat dengan Thailand turut menjadi pertimbangan.

“Saya mau lancar bahasa Inggris, mau belajar juga. Saya ingin belajar di luar negeri, jadi memilih Indonesia karena dekat dengan Thailand,” ujar Fameela.

Ia menempuh pendidikan di UNESA melalui program beasiswa yang diperolehnya dari Thailand. Beasiswa tersebut berkaitan dengan dukungan pemerintah Thailand dan lembaga Muhammadiyah Al Manar Al Hidayah di Hat Yai.

Sempat Kesulitan Memahami Bahasa Indonesia

Meski memiliki bekal bahasa Melayu, Fameela mengaku tidak menyangka akan menghadapi kesulitan komunikasi ketika pertama kali tiba di Indonesia. Ia semula memperkirakan bahasa yang digunakan masyarakat Indonesia tidak akan terlalu berbeda dari bahasa Melayu yang dikenalnya.

Namun, kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan perkiraannya. Selain bahasa Indonesia, ia juga kerap mendengar bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari, terutama di lingkungan pergaulan.

Kondisi tersebut membuatnya kesulitan memahami percakapan pada awal masa perkuliahan. Bahkan, ia harus mengandalkan aplikasi penerjemah selama kurang lebih satu tahun untuk membantu berkomunikasi.

“Pertama saya datang, banyak teman-teman menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Saya belum bisa berbicara, jadi memakai translate selama satu tahun,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi Fameela selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional. Ia perlu menyesuaikan diri tidak hanya dengan materi perkuliahan, tetapi juga dengan bahasa yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, keterbatasan bahasa tidak membuatnya menyerah. Seiring berjalannya waktu, Fameela mulai terbiasa berinteraksi dengan mahasiswa lain dan mengikuti kegiatan perkuliahan di kampus.

Dari Takut Berbicara, Kini Lebih Percaya Diri

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Fameela selama kuliah di UNESA adalah perubahan metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa lebih aktif di kelas.

Menurut dia, pola pembelajaran yang dialaminya di Indonesia berbeda dengan pengalaman belajar di Thailand. Di UNESA, mahasiswa tidak hanya mengikuti penjelasan dosen, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas, termasuk mengerjakan tugas bersama dan melakukan presentasi di depan kelas.

Perubahan itu awalnya membuat Fameela merasa gugup. Ia mengaku tidak terbiasa berbicara di hadapan banyak orang. Namun, tuntutan perkuliahan perlahan membantunya mengatasi rasa takut tersebut.

“Di Thailand, kami lebih banyak belajar saja. Kalau di Indonesia berbeda, kami belajar bersama teman-teman dan melakukan berbagai kegiatan. Awalnya saya takut berbicara di depan kelas, tetapi setelah sampai di sini, saya menjadi lebih berani,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi Fameela, terutama karena ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Inggris yang menuntut kemampuan komunikasi dan keberanian menyampaikan gagasan.

Baginya, kuliah di luar negeri bukan sekadar memperoleh gelar akademik, melainkan juga kesempatan untuk mengembangkan kemampuan diri melalui pengalaman yang mungkin tidak diperoleh jika hanya belajar di negara asal.

Meneliti Hambatan Mahasiswa Thailand Berbicara Bahasa Inggris

Pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di Indonesia juga tercermin dalam topik skripsi yang dikerjakannya.

Fameela mengangkat penelitian mengenai hambatan mahasiswa Thailand di Surabaya dalam berbicara bahasa Inggris. Topik tersebut relevan dengan pengalaman mahasiswa internasional yang harus beradaptasi dengan lingkungan akademik sekaligus mengembangkan keterampilan berbahasa.

Melalui penelitian itu, ia menaruh perhatian pada berbagai kendala yang dihadapi mahasiswa Thailand ketika menggunakan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran.

Pemilihan topik tersebut memperlihatkan kedekatan antara pengalaman akademik dan realitas yang dijumpainya selama kuliah. Sebagai mahasiswa asing, Fameela memahami bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teori, tetapi juga keberanian berkomunikasi dan penyesuaian diri terhadap lingkungan.

Mengubah Pandangan tentang Indonesia

Sebelum berangkat ke Indonesia, Fameela mengaku sempat menerima berbagai kekhawatiran dari orang-orang di sekitarnya. Ia bahkan mengingat adanya pandangan negatif yang berkembang di sebagian masyarakat Thailand mengenai kehidupan di Indonesia.

Orang tuanya berpesan agar ia berhati-hati selama berada di negara tujuan. Namun, kesan tersebut perlahan berubah setelah ia tiba dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa UNESA.

Ia mengapresiasi sambutan yang diterimanya, termasuk bantuan dari pihak kampus yang menjemputnya di bandara dan mendampinginya pada awal kedatangan.

“Waktu datang, saya melihat UNESA kampusnya besar dan luas. Orang-orangnya juga baik. Ada orang UNESA yang menjemput saya di bandara. Setelah sampai di sini, saya merasa aman dan tidak seperti yang sebelumnya saya pikirkan di Thailand,” katanya.

Fameela juga menceritakan bahwa ia sempat meyakinkan keluarganya bahwa kondisi di Indonesia baik-baik saja. Pengalaman tersebut membuatnya melihat Indonesia secara langsung, bukan hanya berdasarkan cerita atau pandangan yang sebelumnya ia dengar.

Selama masa kuliah, ia memang tidak mengaku memiliki banyak teman dekat. Namun, ada beberapa teman sekelas yang selalu membantu, terutama ketika ia menghadapi kesulitan dalam perkuliahan maupun beradaptasi dengan lingkungan.

Ia mengaku bersyukur karena masih memiliki teman yang mendampinginya hingga berhasil menyelesaikan studi.

Ingin Ajak Teman-Teman ke Thailand

Menjelang kepulangannya ke Thailand, Fameela mengaku akan merindukan teman-teman yang telah membantunya selama kuliah di Surabaya.

Ia berencana mengundang mereka berkunjung ke kampung halamannya di Thailand bagian selatan. Wilayah tersebut berada tidak jauh dari Malaysia dan memiliki sejumlah pantai serta kawasan dengan masyarakat Melayu yang cukup banyak.

Menurut Fameela, kawasan tempat tinggalnya juga memiliki pilihan makanan halal yang mudah dijumpai. Ia ingin memperkenalkan lingkungan tempat tinggal dan kehidupan sehari-hari di daerah asalnya kepada teman-teman dari Indonesia.

Di sisi lain, ia menyimpan kenangan tersendiri terhadap kuliner Indonesia. Dua makanan yang paling disukainya adalah ayam geprek dan ayam penyet.

“Saya suka ayam geprek sama ayam penyet. Di Thailand tidak ada seperti itu. Sekarang ayam penyet juga sedang viral di sana dan harganya mahal,” ujarnya sambil bercerita tentang makanan favoritnya.

Setelah resmi menyandang gelar sarjana, Fameela memastikan akan kembali ke Thailand. Ia belum berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 di UNESA karena ingin menuntaskan terlebih dahulu perjalanan pendidikannya di tingkat sarjana.

Kisah Fameela menjadi salah satu potret pengalaman mahasiswa internasional di UNESA. Perbedaan bahasa dan budaya yang semula menjadi tantangan justru membuka ruang bagi dirinya untuk berkembang, membangun keberanian, serta memperoleh pengalaman akademik dan sosial yang lebih luas.

Perjalanannya juga menunjukkan bahwa pendidikan lintas negara tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan pengetahuan baru, tetapi juga membantu mereka memahami budaya lain dan membangun hubungan antarmasyarakat melalui pengalaman sehari-hari.

Penulis: FahrizalEditor: Redaksi