BANYUWANGI – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banyuwangi mengirim relawan spesialis retrofitting ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendukung penanganan dampak gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Flores dan sekitarnya.
Pengiriman tersebut merupakan tindak lanjut permintaan PMI Pusat dan PMI Provinsi NTT dalam memperkuat fase pemulihan awal (early recovery), khususnya pembangunan shelter atau hunian sementara bagi masyarakat terdampak.
Wakil Ketua PMI Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Nurhadi, M.M., mengatakan relawan yang diberangkatkan yakni Tri Putra Dana R atau akrab disapa Pak Danang. Ia merupakan relawan terlatih dengan spesialisasi retrofitting atau penguatan rumah aman gempa serta pembangunan hunian darurat.
“Pak Danang adalah salah satu relawan terbaik kami. Fokus utama tim di NTT bukan hanya distribusi bantuan, tetapi memastikan bantuan tepat sasaran, aman gempa, dan berkelanjutan,” ujar Nurhadi, Minggu (28/9/2026), di Markas PMI Banyuwangi.
Menurut Nurhadi, terdapat empat tugas utama yang akan dilakukan relawan. Pertama, melakukan assessment pasar untuk memetakan ketersediaan material bangunan lokal seperti kayu, bambu, seng, dan semen.
Penggunaan material lokal diharapkan dapat mempercepat pembangunan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Kedua, tim akan membuat satu hingga dua unit contoh hunian sementara (prototype) yang memenuhi prinsip aman gempa, menyesuaikan budaya dan kearifan lokal Flores, serta mengacu pada standar kemanusiaan SPHERE.
Prototype tersebut nantinya menjadi model dalam pembangunan hunian sementara secara lebih luas di wilayah terdampak.
Ketiga, relawan bersama pemerintah daerah, BPBD, dan PMI NTT akan memfinalisasi serta memverifikasi data keluarga rentan yang menjadi prioritas penerima shelter. Kelompok tersebut antara lain lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, janda, serta warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Keempat, tim menyusun rencana aksi intervensi di masing-masing kabupaten terdampak. Rencana tersebut akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan, kondisi akses logistik, serta kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan.
Nurhadi menambahkan, relawan yang dikirim telah mengikuti pelatihan Retrofitting tingkat nasional dan memiliki pengalaman dalam sejumlah operasi kemanusiaan. Di antaranya penanganan gempa Bawean,
Gresik, gempa Palu, Sulawesi Tengah, serta operasi pascabencana banjir di Sumatera dan Aceh.
Relawan tersebut akan bergabung dengan Tim Satgana Nasional PMI dan menjalankan tugas selama 14 hingga 21 hari pada fase pertama di bawah koordinasi PMI Pusat.
“Ini adalah wujud dari Siamo Tutti Fratelli, kita semua bersaudara. Dari Banyuwangi untuk Flores. Kami mohon doa dan dukungan masyarakat Banyuwangi untuk keselamatan relawan dan kelancaran operasi kemanusiaan di NTT,” pungkas Nurhadi. (*)







