JEMBER – Program revitalisasi 258 sekolah di Kabupaten Jember tahun 2026 tak hanya menjadi upaya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Program yang menyerap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp187,38 miliar itu juga ikut menggerakkan perekonomian masyarakat.
Dari total anggaran tersebut, sedikitnya Rp452,8 juta per hari diperkirakan berputar untuk membayar upah tukang dan asisten tukang yang terlibat dalam pengerjaan proyek revitalisasi sekolah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Hafid Nurul Yasin, mengatakan, sebanyak 258 sekolah mendapatkan program revitalisasi tahun ini. Rinciannya, 121 sekolah negeri dan 137 sekolah swasta.
“Dengan adanya revitalisasi yang anggarannya begitu besar masuk ke Kabupaten Jember, ini jelas memacu perputaran ekonomi yang ada di Kabupaten Jember,” ungkap Hafid, Selasa (22/9/2026).
Menurut Hafid, manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan sekolah dan siswa. Pelaksanaan pembangunan juga membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat, khususnya tukang, asisten tukang, kuli bangunan hingga pelaku usaha penyedia material.
“Warga Jember yang berprofesi sebagai tukang, kemudian penjual bahan bangunan, kuli-kuli bangunan, ini mendapatkan berkah pekerjaan, mendapatkan orderan untuk proses pembangunan revitalisasi lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Jember,” ujarnya.
Hafid memperkirakan sekitar 2.000 tukang dan 3.160 asisten tukang terlibat dalam pengerjaan revitalisasi tersebut. Dengan demikian, total tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 5.160 orang.
Jika rata-rata upah tukang mencapai Rp100 ribu per hari, maka sedikitnya Rp200 juta per hari berputar untuk pembayaran upah 2.000 tukang.
Sementara itu, 3.160 asisten tukang dengan asumsi upah Rp80 ribu per hari menghasilkan perputaran upah sekitar Rp252,8 juta setiap hari.
Jika kedua komponen tersebut digabungkan, maka nilai perputaran upah tenaga kerja diperkirakan mencapai Rp452,8 juta per hari.
“Dengan adanya program revitalisasi sekolah, perputaran uang untuk tukang dan asisten diperkirakan Rp452,8 juta. Belum lagi perputaran pembelian bahan dan lain-lain,” jelasnya.
Artinya, nilai tersebut belum menghitung transaksi pembelian material bangunan, kebutuhan transportasi serta berbagai belanja lain yang muncul selama proses pembangunan berlangsung.
Dengan anggaran Rp187,38 miliar, program revitalisasi 258 sekolah tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih layak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan aktivitas usaha masyarakat lokal. (ADV)







