banner 400x130
Kediri  

Bawang Festival Dorong UMKM Lokal Naik Kelas, Puluhan Stan Ramaikan Kelurahan

Prosesi pemotongan pita oleh Lurah Bawang menandai pembukaan resmi Bawang Festival di Kota Kediri.
Kepala Kelurahan Bawang, Muhammad Kalimi, S.E. (tengah), memotong pita sebagai tanda dibukanya Bawang Festival di Kelurahan Bawang, Kota Kediri. (Foto: Moch Abi Madyan).

KEDIRI, WartaTransparansi.com – Pemerintah Kelurahan Bawang, Kota Kediri, kembali menggelar Bawang Festival sebagai ruang promosi dan pemberdayaan pelaku usaha lokal. Festival tahunan itu menghadirkan bazar UMKM, pasar rakyat, seni budaya, serta berbagai kegiatan warga yang melibatkan puluhan pelaku usaha dari empat lingkungan di Kelurahan Bawang.

Kepala Kelurahan Bawang Muhammad Kalimi mengatakan Bawang Festival merupakan bagian dari program nonfisik yang dibiayai melalui Sumber Dana Merata Kota Kediri. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pelayanan masyarakat sekaligus membuka ruang promosi bagi produk UMKM agar semakin dikenal.

“Perlu kami sampaikan bahwasanya kegiatan Bawang Festival ini adalah agenda kita tiap tahun dan itu adalah sumberdananya dari sumber dana merata, program dari Wali Kota Kediri. Di antaranya program ini adalah program yang non-fisik,” ujar Muhammad Kalimi.

Menurut dia, pembangunan di Kelurahan Bawang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur. Pemerintah kelurahan juga mengembangkan kegiatan nonfisik untuk mengangkat potensi ekonomi warga, termasuk membantu UMKM memperluas pasar melalui promosi digital.

“Kita kemas, kita angkat UMKM-UMKM yang ada di wilayah kami, khususnya wilayah Kelurahan Bawang ini ke depan agar lebih baik, meningkatkan kaitannya mutu dan lain-lain kita promosikan ke Kota Kediri, baik itu TikTok ataupun ke dunia maya yang lain,” tutur Kalimi.

Bawang Festival juga lahir dari kolaborasi antara pemerintah kelurahan dan masyarakat. Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), Forum Anak (FPA), RT/RW, serta Karang Taruna terlibat dalam merumuskan konsep kegiatan. Pelaksanaan festival turut mendapat pendampingan dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

“Kegiatan ini adalah kegiatan yang memang munculnya itu ide-ide kreatif dari teman-teman adik-adik dari KIM yang ada di Kelurahan Bawang, terus dari FPA, kita kemas masukan-masukannya terus jadi kegiatan seperti sore hari ini,” urai Kalimi.

Rangkaian acara berlanjut hingga puncak kegiatan pada pertengahan September melalui Bawang Bersholawat, pengajian umum, dan Pawai Budaya yang mengangkat kearifan lokal serta hasil bumi masyarakat.

Kalimi berharap seluruh rangkaian kegiatan tidak berhenti sebagai hiburan tahunan. Festival diharapkan menjadi ruang yang memperkuat keguyuban warga sekaligus membuka peluang pasar bagi UMKM Kelurahan Bawang.

“Harapannya dengan adanya kegiatan ini adalah kegiatan untuk mempersatukan LKK, warga kami yang ada di wilayah Kelurahan Bawang ini. Mempersatukan, guyub rukun, kita punya kegiatan yang alhamdulillah tiap tahun ini bisa terlaksana dengan baik, aman, nyaman, dan semuanya bisa mengangkat UMKM yang ada di wilayah kami,” ungkap Kalimi.

 

Antusiasme pelaku usaha terlihat dari jumlah peserta yang mengikuti festival. Panitia mencatat sekitar 70 lapak pedagang kaki lima (PKL) dan 32 tenda UMKM ikut meramaikan kegiatan. Pengalaman tahun sebelumnya menjadi salah satu pemicu tingginya minat pedagang karena seluruh dagangan peserta dilaporkan habis terjual.

Jajaran perangkat kelurahan dan pelaku UMKM memamerkan produk olahan kuliner lokal di stan Bawang Festival.
Perangkat Kelurahan Bawang bersama para pelaku UMKM lokal memamerkan aneka produk kuliner olahan rumahan di depan stan bazar yang dihias dekorasi estetis.(Foto:Moch Abi Madyan)

Salah satu pelaku UMKM yang memanfaatkan festival sebagai ruang promosi ialah Widya Kusuma Dewi. Warga Kelurahan Bawang itu menghadirkan aneka makanan homemade, mulai nasi, ayam geprek, ayam teriyaki, nasi angkringan, hingga beragam kudapan.

“Menurut saya ini sangat-sangat menarik dan bisa membantu UMKM untuk lebih maju, lebih bisa dikenal masyarakat sekitar,” kata Widya.

Widya juga mengandalkan tampilan stan untuk menarik perhatian pengunjung. Ornamen bunga digunakan untuk menciptakan kesan bersih, estetis, dan meriah.

“Kalau menurut saya orang pertama melihat itu pasti dari tampilan. Jadi kita upayakan tampilannya itu menarik, terus bersih, dan tidak kelihatan berantakan,” ujar Widya.

Untuk menjaga kualitas produk, makanan ringan seperti risol dan brownies diproduksi setiap hari dan dititipkan di sejumlah lapak. Sementara menu nasi dibuat berdasarkan pesanan.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai Rp3.500 hingga Rp10.000. “Untuk range harga mulai dari 3.500 sampai 10.000. Bisa langsung di-order,” pungkas Widya.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan