SURABAYA, WartaTransparansi.com – Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengembangkan Mist Cooling System sebagai salah satu inovasi untuk mengurangi dampak cuaca panas ekstrem yang belakangan semakin dirasakan masyarakat.
Teknologi penyemprotan kabut air tersebut dinilai tidak hanya mampu menurunkan suhu udara, tetapi juga dapat diintegrasikan dengan pengelolaan air hujan sebagai upaya mendukung pengendalian banjir.
Menurut Achmad, peningkatan suhu udara akibat perubahan iklim dan pemanasan global sudah menjadi tantangan yang harus segera direspons dengan kebijakan yang adaptif. Ia menilai, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat hingga menurunkan produktivitas karena aktivitas di luar ruangan menjadi berkurang.
“Kondisi panas ekstrem seperti sekarang ini perlu menjadi perhatian bersama. Jangan sampai aktivitas masyarakat menurun hanya karena cuaca yang terlalu panas. Kita harus mulai memikirkan solusi yang bisa diterapkan di Surabaya,” ujar Achmad.
Sebagai langkah awal, ia mengusulkan agar Pemkot Surabaya menguji coba penerapan Mist Cooling System di sejumlah kawasan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Sistem tersebut bekerja dengan menyemprotkan butiran kabut air berukuran sangat halus sehingga mampu menurunkan suhu lingkungan di area terbuka.
Achmad menyebut beberapa lokasi yang dinilai layak menjadi proyek percontohan, di antaranya kawasan Balai Kota Surabaya, Jalan Tunjungan, Kota Lama, pusat bisnis, taman kota, hingga destinasi wisata.
“Kalau perlu ditempatkan terlebih dahulu di daerah percontohan, seperti kawasan Balai Kota Surabaya, Jalan Tunjungan, dan Kota Lama. Dengan begitu masyarakat tetap merasa nyaman untuk beraktivitas maupun berwisata meskipun cuaca sedang sangat panas,” katanya.
Ia menambahkan, teknologi serupa telah diterapkan di berbagai negara, termasuk China. Oleh karena itu, Surabaya dinilai memiliki peluang untuk mengadopsi konsep tersebut dengan menyesuaikan karakteristik wilayah serta kebutuhan masyarakat.
Tak hanya berfungsi sebagai pendingin udara, Achmad mengusulkan agar sistem tersebut dipadukan dengan pengelolaan air hujan. Air hujan yang selama ini langsung mengalir ke saluran drainase dapat ditampung di reservoir, kemudian diolah dan dimanfaatkan kembali sebagai sumber air untuk Mist Cooling System ketika musim kemarau.
Baginya, konsep itu sejalan dengan upaya meningkatkan ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim sekaligus mendukung pelaksanaan Peraturan Daerah mengenai penanggulangan banjir.
“Ketika musim hujan, air hujan jangan sampai terbuang percuma atau justru menyebabkan genangan. Air itu bisa ditampung, diolah, lalu dimanfaatkan kembali saat musim kemarau sebagai bahan baku sistem pendingin di ruang terbuka,” jelasnya.
Selain mendorong konservasi air, penggunaan kabut air juga diyakini dapat membantu mengurangi polusi udara. Partikel air mampu mengikat debu sehingga kualitas udara menjadi lebih baik, sementara suhu lingkungan dapat turun beberapa derajat dan menciptakan kenyamanan bagi masyarakat.
“Harapannya kualitas udara di Surabaya tetap terkontrol. Bukan hanya suhu yang menjadi lebih sejuk, tetapi kebersihan udara juga meningkat sehingga masyarakat lebih nyaman saat berada di luar ruangan,” ungkapnya.
Achmad berharap usulan tersebut dapat dikaji secara komprehensif oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai bagian dari pembangunan kota yang lebih ramah lingkungan. Ia menilai, pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga harus menghadirkan ruang publik yang nyaman, sehat, dan mendukung aktivitas ekonomi warga.
Ia juga optimistis, apabila diterapkan secara bertahap dan terintegrasi dengan sistem pengelolaan air kota, Surabaya berpotensi menjadi daerah pelopor dalam penerapan teknologi pendingin ruang terbuka yang berkelanjutan di Indonesia.
Di sisi lain, Achmad mengajak seluruh elemen masyarakat bersama pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi perubahan iklim melalui penghijauan, penambahan ruang terbuka hijau, optimalisasi pemanfaatan air hujan, serta penerapan teknologi ramah lingkungan demi mewujudkan Surabaya yang lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem. (*)







