SIDOARJO – Permainan sepak bola 90 menit mampu menggerakkan jaringan ekonomi di hampir semua lapisan masyarakat. Karena industri sepak bola sudah mengakar dalam budaya berolahraga resmi maupun tidak resmi.
“Arsitektur ekosistem sepak bola modern, memberikan bahwa industri sepak bola minimal berkaitan dengan ekonomi pemain, suporter, komunitas, sponsor, media, dan pemerintah,” kata Assoc Prof Ahmad Riyadh UB Ph.D, kepada Wartatransparansi.com, Senin (22/6/2026).
Berlangsung di lantai 7 Aula KH Mas Mansyur Kampus 1 Universitas Muhammdiyah Sidoarjo (Umsida), dalam acara Seminar dan Awarding Kompetisi Futsal AP Cup II Umsida 2026, Ahmad Riyadh menegaskan, keberhasilan suatu bangsa dalam sepak bola bukan soal jumlah gol yang banyak, tetapi bagaimana mensejaterakan rakyatnya.
“Kalau rakyat sejahtera karena prestasi sepak bola dan kompetisi dari pembinaan sepak bola, yang baik berarti itu menunjukkan keberhasilan nyata. Keberhasilan untuk rakyat,” tandasnya.
Jadi, menurut Ahmad Riyadh, semua keberhasilan karena harus menujukkan permainan selama 90 menit dengan prestasi yang baik, dan sungguh-sungguh, sehingga masyarakat atau rakyat menjadi bangga.
Assoc Prof Ahmad Riyadh UB Ph.D menjelaskan bahwa pada industri sepak bola di Indonesia modern, sudah sampai pada ekosistem mulai dari pemain (berkaitan dengan gaji, fasilitas, prestasi dan aset nilai), suporter (berkaitan dengan hiburan dan sumber pendapatan utama), komunitas (identitas sosial dan loyalitas jangka panjang), sponsor (eksposur merek dan dukungan finansial), media (konten eksklusif dan jangkauan pasar), pemerintah (pajak dan dampak ekonomi serta infrastruktur).
“Semua berputar dalam industri sepak bola modern,” tandas Ahmad Riyadh saat Seminar dan Awarding Kompetisi Futsal AP Cup II 2026, Senin (22/6/2026).

Industri sepak bola modern, menurut dia, ke depan sangat menjanjikan. “Sepak bola tidak sekedar hanya sekedar olahraga 90 menit pertandingan,!sepak bola bisa menggerakkan semua aktifitas ekonomi, hotel, restaurant, pedagang kaki lima, konten kreator, calo tiket, dan masih banyak cakupan dari gerakan ekonomi itu,” ujar Ahmad Riyadh.
(Jt)







