banner 400x130

KONI Jatim Gandeng RS Prof. Moeljono Jaga Mental Atlet Muda

SURABAYA — Persoalan kesehatan mental atlet muda menjadi perhatian KONI Jawa Timur. Tekanan untuk meraih prestasi dinilai tidak boleh dibiarkan menjadi beban yang justru mengganggu performa atlet di arena pertandingan.

Hal itu mengemuka dalam kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” yang digagas Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Surabaya. Kampanye tersebut mendorong orang tua agar lebih peka terhadap kondisi psikologis anak laki-laki.

Ketua KONI Jawa Timur, M. Nabil, mengatakan tekanan terhadap atlet dapat datang dari berbagai arah. Selain orang tua dan pelatih, tuntutan keluarga, lingkungan, masyarakat, hingga target yang dibuat atlet sendiri dapat memengaruhi kondisi mental.

“Banyak faktor yang meminta, orang tuanya, pelatihnya, kemudian keluarga, belum lagi masyarakat. Yang juga penting adalah target individu masing-masing,” kata Nabil.

Menurutnya, atlet terkadang memasang standar prestasi yang terlalu tinggi tanpa mengukur kapasitas dirinya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan bahkan sebelum atlet menjalani pertandingan.

“Jangan sampai sebelum tanding sudah tegang, sudah nervous, sudah muncul masalah. Potensi kemenangannya juga pasti tereduksi cukup besar,” ujarnya.

Karena itu, KONI Jatim menyiapkan langkah konkret untuk membantu atlet mengelola tekanan. Salah satunya melalui rencana kerja sama dengan RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya.

Nabil menyebut kerja sama tersebut akan diarahkan pada upaya menciptakan ruang yang nyaman bagi atlet. Nantinya, atlet dapat memanfaatkan ruang santai atau ruang cangkrukan sebagai tempat untuk beristirahat dan melakukan relaksasi.

“Kita akan MOU dengan Rumah Sakit Daerah Prof. Moeljono. Segera,” tegasnya.

Ia memastikan program tersebut tidak hanya menyasar atlet laki-laki. Seluruh atlet KONI Jatim nantinya diharapkan dapat memperoleh dukungan dalam menjaga kesehatan mental.

Direktur RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya, Vitria Dewi, mengatakan persoalan kesehatan mental memang perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Berdasarkan data di rumah sakit, persoalan mental lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan, baik anak-anak maupun orang dewasa.

“Masalah mental itu lebih banyak di laki-laki daripada perempuan. Mau anak-anak, mau dewasa, itu lebih banyak laki-laki daripada perempuan,” ungkap Vitria.

Ia menilai anak laki-laki selama ini masih kerap menghadapi stigma ketika mengekspresikan perasaan. Anggapan bahwa laki-laki harus kuat dan tidak boleh menangis membuat sebagian anak memilih memendam persoalan.

Padahal, kata Vitria, tekanan tersebut dapat bersumber dari berbagai persoalan. Mulai dari konflik keluarga, tuntutan orang tua, pergaulan, bullying, hingga tekanan untuk meraih prestasi tertentu.

“Bisa saja, mereka ditarget atau menargetkan diri harus menang, ditarget harus medali emas. Padahal, itu justru menjadi beban besar yang ia rasa di luar batas kemampuannya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua FPPI Surabaya, Nenny W. Gunarso, mengatakan kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” berangkat dari keprihatinan terhadap masih adanya stigma terhadap anak laki-laki.

Menurut Nenny, anak laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan ruang aman untuk bercerita.

“Anak perempuan dan laki-laki itu sama-sama berhak mendapatkan kasih sayang, sama-sama berhak mendapatkan pelukan hangat. Enggak ada beda di sana,” katanya.

Ia mengingatkan, kebiasaan memendam emosi karena takut dianggap cengeng atau lemah dapat berdampak buruk bagi anak.

Kolaborasi FPPI, RSD Prof. Moeljono, dan KONI Jatim diharapkan menjadi langkah bersama untuk membangun lingkungan yang lebih terbuka bagi anak dan atlet muda. Dengan dukungan tersebut, atlet diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan fisik dan teknik yang kuat, tetapi juga kondisi mental yang sehat untuk menghadapi tuntutan prestasi. (*)

Penulis: Fahrizal Arnas