banner 400x130

Industri Sepak Bola Modern, Rian dan Toni : Harus Profesional, tidak Perlu Takut

SIDOARJO – Dua pemain Persebaya lahir dari pembinaan klub berjuluk Bajol Ijo, Rachmat Irianto (Rian) dan Toni Firmansyah, sama-sama profesional saat menjadi narasumber acara Seminar dan Awarding Kompetisi Futsal AP Cup Umsida 2026, Senin (22/6/2026).

Dua-dua menyatakan sebagai pemain profesional harus profesional dan sungguh-sungguh untuk berlatih dengan baik dan bermain dengan baik.

Apalagi, menurut Rian —panggilan akrab Rachmat Irianto, bahwa dengan adanya sepak bola modern dan pemain asing, memacu semangat untuk bersaing dan terus sungguh-sungguh dalam berlatih maupun menampilkan permainan yang baik.

“Indonesia juga berkembang pesat, kompetisi semakin meningkat dengan pelatih asing dan pemain asing, tidak perlu takut tetap bersaing dengan sehat,” katanya, Senin (22/6/2026)

Rian menegaskan
jujur di sepak bola bisa untuk kehidupan atau bergantung terhadap sepak bola bisa di Indonesia.

“Tukang becak saja bisa makan dan membiayai anaknya, mengapa berprofesi di sepak bola diragukan. Bapak saya (alm Bejo Sugiantoro, red), pemain sepak bola, mampu mendidik dan membina anaknya, saya ini. Jadi apapun harus ditekuni dari sekarang, dan tidak ada kata terlambat,” katanya kepada Wartatransparansi.com.

Sebagaimana diketahui, lanjutnya, selama ini
pemain yang lebih banyak di lapangan, orang PSSI yang membuat peraturan, “Jadi dengan aturan seperti itu, kita harus bersaing tidak perlu takut,” tandasnya.

Apalagi, menurut Rian,
sama sama punya kemampuan dengan kaki 2 dan tangan 2, harus bersaing dan sungguh-sungguh. Ada pelatih yang menilai sesuai kebutuhan tim.

“Kita sebagai pemain berusaha yang terbaik, menjaga pola tidur, pola makan, pola latihan fisik, dan mengikuti latihan sesuai instruksi pelatih,” kata Toni Firmansyah, Senin.

Toni mengisahkan bahwa menjadi pemain profesional, melalui proses cukup berat dan cukup panjang, “Alhamdulillah, buat motivasi saya dan semua yang sekarang berlatih sepak bola dan futsal ke depan, alhamdulillah saya dapat rejeki bisa masuk Persebaya senior,” katanya, di acara
Seminar dan Awarding Kompetisi Futsal AP Cup Umsida 2026.

Toni mengatakan, memang Liga Indonesia sekarang cukup prospeks dan lebih maju dibanding dengan sebelumnya, cukup baik buat pemain muda.

“Seperti saya, kalau rejeki main di tuan rumah di Surabaya. Kita ikuti aturan dari PSSI, kita mau tidak mau konsisten di lapangan dan menunjukkan yang terbaik setiap latihan dan main,” ujar Toni.

Selain mendisiplinkan pola tidur, pola makan, dan lainnya dengan baik, “Tidak kalah penting menyiapkan mental berlatih dan bertanding dengan sungguh-sungguh,” tuturnya.

Bahkan, kata Rian, setelah event AFF sempat dapat tawaran dari luar Thailand, Malaysia, Jepang, “Saya benar-benar menolak main di luar negeri, karena kalau main di luar negeri belum tentu enak, yang di luar negeri enak,” tandas Rian.

Sebab, menurut Rian, pemain butuh jam terbang untuk meningkatkan nilai, apapun kalau bagus di luar negeri belum tentu baik bagi pemain.

Sehingga, lanjutnya, menolak karena banyak pertimbangan, laki-laki cari yang pendapatan besar, kalau di luar negeri perlu menghitung lagi dengan kebutuhandan lain-lain termasuk kecocokan makan.

Dua pemain Persebaya Rahmat Irianto dan Toni Firmansyah, sepakat industri sepak bola di Indonesia ke depan sangat menjanjikan untuk kehidupan dan roda ekonomi, saat mengikuti acara di lantai 7 Aula KH Mas Mansyur Kampus 1 Universitas Muhammdiyah Sidoarjo (Umsida). (Jt)