SURABAYA, Wartatransparansi.com – Pemerintah Kota Surabaya bersama Tim Penggerak (TP) PKK kembali memperkuat upaya pencegahan stunting melalui program Gebyar Bersama Wujudkan Surabaya Emas (BWSE) Eliminasi Masalah Stunting Jilid V. Tahun kelima ini menyasar 499 balita pra-stunting di Kota Pahlawan.
Peluncuran program dilakukan oleh Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Kantor TP PKK Kota Surabaya, Jalan Tambaksari No. 11, Surabaya, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut juga diikuti peserta dari 31 kecamatan dan 63 puskesmas secara daring maupun luring.
Rini Indriyani mengatakan, BWSE merupakan program kolaboratif yang melibatkan sejumlah perangkat daerah di lingkup Pemkot Surabaya. Mulai dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), serta Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo).
“Ini program tahun kelima kami mengadakan kolaborasi dengan dinas yang terkait. Ada DP3APPKB, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian (DKPP) dan Dinas Kominfo,” kata Bunda Rini.
Menurutnya, sasaran program ini adalah anak-anak kategori pra-stunting, yakni balita yang belum mengalami stunting namun memiliki risiko tinggi apabila tidak mendapatkan intervensi sejak dini.
Melalui program tersebut, para peserta akan mendapatkan pendampingan selama dua bulan. Pendampingan mencakup pemberian telur, susu, dan ayam sebagai sumber protein untuk menunjang pertumbuhan anak. Sementara bagi balita yang memiliki alergi telur, asupan akan diganti dengan sumber protein lain seperti ikan atau daging.
Rini menegaskan, BWSE tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan. Program ini juga memberikan edukasi kepada orang tua terkait pengolahan makanan bergizi dan pola pengasuhan yang tepat. Setiap balita peserta akan didampingi oleh Tim Pendamping Keluarga yang terdiri atas tenaga kesehatan, kader PKK, dan Kader Surabaya Hebat (KSH).
Selain itu, proses pendampingan dan penilaian juga melibatkan berbagai pihak, yakni Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), unsur lingkungan keluarga, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).
IDAI bertugas memantau tumbuh kembang anak, HIMPSI menilai keterlibatan ayah dalam pengasuhan, sementara aspek lingkungan menitikberatkan pada kebersihan rumah dan penerapan pola hidup sehat keluarga. Adapun FKM memberikan pendampingan terkait pemberian makanan bergizi dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia anak.
“Karena ternyata pengaruh ayah cukup besar untuk perkembangan anak. Sehingga keterlibatan ayah ini dilihat nanti di dalam penilaian,” tutur Rini.
Disebutkan, proses penjaringan peserta telah dimulai sejak Mei 2026 melalui koordinasi dengan TP PKK tingkat kecamatan dan kelurahan. Peserta yang dipilih merupakan balita pra-stunting tanpa penyakit penyerta sehingga dapat langsung mendapatkan intervensi.
Dari total 788 balita yang terdata, sebanyak 499 balita mengikuti program. Sementara 249 balita tidak mengikuti program, 14 balita memiliki penyakit penyerta, dan 26 balita berasal dari keluarga dengan kartu keluarga non-Surabaya.
Sebagai bagian dari BWSE Jilid V, TP PKK Surabaya juga bekerja sama dengan IDAI untuk menggelar pemeriksaan kesehatan dan tumbuh kembang anak di 59 titik puskesmas. Kegiatan tersebut melibatkan 63 dokter spesialis anak serta mendapat dukungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair), HIMPSI, dan Poltekkes Kemenkes.
Rini berharap pendampingan yang dilakukan selama dua bulan tersebut dapat membentuk kebiasaan baru bagi orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak dan menerapkan pola pengasuhan yang tepat. (*)







