banner 400x130

Unesa Perkenalkan Prodi Analisis Performa Olahraga, Menjawab Kebutuhan Industri Olahraga Modern

SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Fakultas Vokasi terus berinovasi menjawab kebutuhan industri olahraga modern dengan menghadirkan Program Studi (Prodi) Analisis Performa Olahraga (APO). Program studi yang baru memasuki tahun kedua ini menjadi satu-satunya di Indonesia dan diproyeksikan mampu mencetak sumber daya manusia yang berperan penting dalam peningkatan prestasi olahraga nasional.

Perkembangan olahraga yang semakin mengandalkan teknologi dan pengolahan data menjadi alasan utama lahirnya program studi tersebut. Kehadiran APO juga mendapat respons positif dari berbagai pemangku kepentingan olahraga karena kebutuhan tenaga analis performa terus meningkat.

Dekan Fakultas Vokasi Unesa, Suprapto, mengatakan bahwa perkembangan olahraga modern tidak lagi hanya berfokus pada kemampuan teknis atlet dan pelatih, tetapi juga membutuhkan analisis performa yang komprehensif.

“Kita melihat di dunia olahraga ternyata analisis performance itu luar biasa kebutuhannya. Pada saat Porprov 2025 di Malang Raya kemarin, mahasiswa kita (Unesa) laris manis dibutuhkan oleh kabupaten dan kota. Artinya, olahraga itu tidak hanya soal teknis, tetapi bagaimana menganalisis performa agar bisa menang ternyata sangat penting,” ujar Suprapto, Senin (15/6/2026) di Unesa Kampus Ketintang, Surabaya.

Menurutnya, pengalaman keterlibatan mahasiswa Unesa dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 menjadi bukti bahwa profesi analis performa mulai mendapat tempat di dunia olahraga Indonesia.

Meski pada tahun pertama jumlah peminat masih terbatas karena masyarakat belum banyak mengenal bidang tersebut, tren itu mulai berubah pada tahun kedua.

“Karena masyarakat belum tahu apa itu APO, akhirnya minat tahun pertama masih kecil. Tapi di tahun kedua peminatnya sudah mulai luar biasa,” katanya.

Suprapto juga optimistis peluang kerja bagi lulusan APO sangat terbuka luas. “Peluang kerja di bidang olahraga sangat-sangat terbuka. Banyak klub, KONI, dan berbagai bidang yang membutuhkan tenaga analis performa. Saya sangat yakin kebutuhan pasar masih sangat terbuka, apalagi di Indonesia ini baru satu-satunya,” ungkapnya.

Saat ini Fakultas Vokasi Unesa masih membatasi kuota penerimaan mahasiswa baru sekitar 90 orang per tahun demi menjaga kualitas pendidikan.

“Kita ingin tidak ada mahasiswa yang kuliah tetapi tidak dilayani dengan baik, baik dari sisi sarana prasarana maupun dosennya. Karena kita masih pemula dan sedang mengembangkan fasilitas serta menyekolahkan banyak dosen. Mudah-mudahan kalau semua sudah tersedia, kuota akan kita tingkatkan lagi,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Vokasi Unesa, Abdul Hafidz, menegaskan bahwa analis performa olahraga memiliki fungsi penting sebagai penghubung antara data dan pengambilan keputusan oleh pelatih.
Menurutnya, data yang dikumpulkan tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa proses interpretasi yang tepat.

“Analisis performa olahraga adalah jembatan. Ketika ada data-data tersebut, seorang pelatih belum tentu bisa menerjemahkan data itu untuk apa digunakan. Tugas analis performa adalah menerjemahkan bagaimana program latihan bisa terukur, terstruktur, dan sistematik,” jelas Abdul Hafidz.

Ia mencontohkan, evaluasi terhadap kondisi atlet, termasuk cedera yang dialami, dapat menjadi dasar untuk menentukan efektivitas program latihan.

“Di sinilah peran seorang analis performa berkolaborasi dengan pelatih, manajer, atau pemilik klub untuk menentukan dosis latihan yang tepat sehingga prestasi tinggi dapat dicapai,” ujarnya.

Abdul Hafidz menambahkan, budaya analisis performa sudah menjadi praktik umum di negara-negara maju yang memiliki tradisi olahraga kuat.
“Di luar negeri ini sudah menjadi habit bahwa untuk mencapai prestasi tinggi harus ada analisis. Data-data tersebut kemudian diolah, dikolaborasikan, dan dielaborasikan menjadi sebuah pemahaman yang utuh untuk dipergunakan pelatih dalam mencapai performa terbaik,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Prodi Analisis Performa Olahraga Unesa, Fifit Yeti Wulandari, menilai penguatan kompetensi mahasiswa terus dilakukan agar mereka siap terjun ke dunia olahraga profesional.
Hal itu salah satunya diwujudkan melalui diskusi bersama analisis performa Timnas U17 dan U19 PSSI, Arnold Raharja yang diikuti mahasiswa APO angkatan 2025.

“Kita tadi ada tamu dari PSSI, tim analisis performa olahraga Timnas, yang berdiskusi dengan mahasiswa APO angkatan 2025. Anak-anak sangat berminat dan sangat tertarik. Ini menjadi batu pijakan yang bagus untuk perkembangan olahraga ke depan,” kata Fifit.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa nantinya akan dipersiapkan untuk terlibat dalam berbagai level kompetisi, mulai dari tingkat pelajar hingga ajang internasional.

“Pelan-pelan kita tata bagaimana anak-anak nanti dilibatkan di dalam analisis, tidak hanya di tingkat Porprov, tetapi juga PON, SEA Games sampai internasional. Harapan saya seperti itu,” ujarnya.

Menurut Fifit, peran analis performa akan semakin vital seiring perkembangan olahraga modern yang menuntut pengambilan keputusan berbasis data.

“Begitu penting peran analisis performa olahraga bagi perkembangan prestasi olahraga, khususnya di Indonesia, hingga nantinya mampu bersaing di dunia internasional,” pungkasnya.

Dengan menjadi satu-satunya program studi Analisis Performa Olahraga di Indonesia, Unesa berharap dapat melahirkan generasi profesional baru yang mampu mendukung transformasi olahraga nasional menuju prestasi yang lebih kompetitif di tingkat dunia. (*)

Penulis: Fahrizal Arnas