Kediri  

Lestarikan Tradisi, Sekolah Tenun Ikat Bandar Kidul Segera Hadir di Kota Kediri

Delegasi internasional, akademisi Universitas Ciputra Surabaya, pemerintah Kota Kediri, dan pelaku Tenun Ikat Bandar Kidul berfoto bersama saat kunjungan ke sentra tenun dalam rangka pengembangan sekolah tenun di Kota Kediri.
Delegasi dari enam negara bersama akademisi Universitas Ciputra Surabaya, pemerintah daerah, dan pelaku Tenun Ikat Bandar Kidul berfoto bersama di Sentra Tenun Ikat Bandar Kidul, Kota Kediri, Jumat (5/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan promosi tenun sekaligus pembahasan rencana pembentukan sekolah tenun untuk mencetak generasi perajin baru. (Foto: Moch Abi Madyan).

KEDIRI WartaTransparansi.com – Pemerintah Kota Kediri bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan pelaku tenun ikat Bandar Kidul tengah menyiapkan pembentukan sekolah tenun sebagai upaya mencetak generasi perajin baru sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah.

Gagasan tersebut mengemuka di sela kunjungan desainer dan akademisi dari berbagai negara ke Sentra Tenun Ikat Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jumat 5 Juni 2026.

Kunjungan yang difasilitasi Universitas Ciputra Surabaya itu diikuti peserta dari Australia, Singapura, Taiwan, China, Jepang, dan Malaysia.

Kepala Kecamatan Mojoroto, Abdul Rahman, mengatakan pembentukan sekolah tenun menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan regenerasi perajin yang saat ini didominasi kalangan usia lanjut.

” Proposalnya sudah disiapkan dan saat ini tinggal dibahas lebih lanjut antara pemerintah daerah dan Dekranasda Kota Kediri. Harapan kami ada sekolah tenun untuk Kota Kediri,”katanya.

Menurut Abdul, sekolah tenun dirancang sebagai pusat pembelajaran sekaligus pelatihan praktik bagi generasi muda yang tertarik mendalami keterampilan menenun.

Pemerintah bahkan telah mengusulkan pemanfaatan sejumlah ruko kosong di kawasan pintu masuk kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Jayabaya Kota Kediri sebagai lokasi kegiatan.

“Kami mengusulkan pemanfaatan ruko kosong di pintu masuk Kota Kediri, tempat tersebut bisa menjadi pusat regenerasi perajin tenun,” ujarnya.

Ia menilai regenerasi perajin menjadi kebutuhan mendesak. Jika tidak segera disiapkan penerus, Kota Kediri berisiko kehilangan para pengrajin yang selama ini menjadi penjaga tradisi tenun ikat Bandar Kidul.

Konsep sekolah tenun nantinya akan mengedepankan pembelajaran praktik atau lesson class yang dapat diikuti pelajar mulai jenjang SD hingga SMP melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan, DPRD Kota Kediri, dan pemerintah daerah.

“Anak-anak yang memiliki minat belajar menenun nantinya bisa mengikuti kegiatan di sekolah tenun. Dengan cara ini, regenerasi perajin dapat berjalan dan tenun ikat Bandar Kidul tetap terjaga,” ungkapnya.

Dukungan terhadap pelestarian tenun ikat juga datang dari DPRD Kota Kediri. Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri, Imam Wihdan Zarkasyi, menilai tenun ikat merupakan warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Kita cukup apresiasi, ternyata mereka hubungannya sudah sangat luas. Dan mesti pemerintah kota harus dorong ini supaya ini bisa dikerjakan bercepat. Dan kita tumbuhkan lebih kencang lagi karena apapun juga ini Tenun Ikat ini warisan budaya yang harus kita jaga dan kita lestarikan buat anak cucu kita,” katanya.

Menurut Imam, DPRD saat ini tengah menuntaskan pembahasan Peraturan Daerah tentang Pelestarian Budaya dan Peraturan Daerah tentang Ekonomi Kreatif. Regulasi tersebut diharapkan menjadi payung hukum bagi pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif berbasis tenun ikat.

“Tentu dalam rangka itu kita sudah terakhir, kita sudah bahas juga soal perda pelestarian budaya dan juga gak lama lagi juga kita akan sahkan soal perda ekonomi kreatif yang salah satunya ini bisa mendukung bagaimana budaya itu bisa disinkronkan dan menjadi punya nilai ekonomi terhadap kemajuan masyarakat negara,” katanya.

Sementara itu, Dekan School of Creative Industry Universitas Ciputra Surabaya, Susan, S.T., M.T., Ph.D., menilai tenun Kediri memiliki potensi besar untuk berkembang karena tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga cerita dan proses pembuatannya yang masih dikerjakan secara manual.

“Sebenarnya, story behind-nya dan prosesnya juga luar biasa. Terus, ketika dia jadi garment, di-mix dengan kain-kain yang modern, antara tradisional dengan kontemporernya itu ketemu. Itu yang kami lihat sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurut Susan, penguatan branding dan pemasaran internasional perlu terus dilakukan agar tenun Kediri semakin dikenal di pasar global. Kehadiran sekolah tenun juga dinilai dapat menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus meningkatkan daya saing industri kreatif daerah.

Dengan dukungan pemerintah, legislatif, dunia pendidikan, dan komunitas perajin, Kota Kediri berharap sekolah tenun dapat segera terwujud sehingga tenun ikat Bandar Kidul tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan