“Laboratorium Insan Sepakbola Beradab”

Fenomenall Ponpes Sepakbola eLKISI (2)

Launching Pesantren Sepakbola eLKISI

Keseriusan Pondok Pesantren Sepakbola eLKISI Mojosari Mojokerto, membuka kelas khusus sepakbola dengan begitu santun dan terbuka memberi nama “Pesantren Sepakbola eLKISI” dengan cita-cita “Dari Lapangan Menuju Peradaban”.

Menurut Coach Indra Sjafri (mentan pelatih nasional dan direktur tehnik PSSI) ketika secara resmi ikut launching, mengusulkan membuka kelas elit, kelas umum untuk persiapan menuju kelas elit dan yang hanya meramaikan.

“Paling tidak ada kelas elit, kelas academy, dan kelas umum siapa saja yang ingin belajar sepakbola di pesantren,” kata Indra Sjafri kepada Wartatransparansi.com, Ahad (10)5/2026).

Menjawab tantangan jaman melahirkan tim sepakbola elit dari gembelengan pesantren, tentu saja menurut Indra Sjafri, harus tetap berpedoman pada kurikulum PSSI dengan pelatih mumpuni bahkan bersertifikat sesuai ketentuan. “Tapi kalau mau lebih hebat harus melakukan jalan sendiri dengan tetap profesional dan berkualitas,” ujarnya.

Pesantren Sepakbola eLKISI lebih tepat sebagai “laboratorium sepakbola”, mengapa? Semboyan, “Dari Lapangan Menuju Peradaban”, Lembaga Kajian Islam Intensif akan terus mengkaji insan sepakbola menuju peradaban. Yaitu, insan sepakbola yang beradab.

Fenomenal itu mengingat insan sepakbola, khususnya di Indonesia, belum menghayati dan menyadari bahwa sepakbola dibutuhkan kesabaran, kesantunan, budi pekerti mulia, sebagai simbol beradab.

Laboratorium sebagaimana diketahui adalah tempat atau ruangan tertutup/terbuka yang dilengkapi dengan peralatan khusus untuk melakukan penelitian ilmiah, eksperimen, pengukuran, atau pelatihan ilmiah secara terkendali.

Pesantren Sepakbola eLKISI ke depan semoga menjadi laboratorium sepakbola beradab, sebagai upaya untuk membuktikan teori, menguji sampel, dan meningkatkan keterampilan praktis di berbagai bidang. Terutama khusus sepakbola dan mengaji yang efektif dalam meraih prestasi tertinggi di sepak bola dan mampu menjadi dai (pendakwah) disengani. Bahkan insan sepakbola lainnya, utamanya suporter yang masih belum menjanjikan menjadi penyejuk peradaban sepakbola masa kini.

Hal ini mengingat salah satu fungsi laboratorium adalah
tempat pembelajaran.
Sarana belajar bagi santri/siswa untuk mempraktikkan teori (menyeimbangkan teori dan praktik). Mengaji sesuai dengan kurikulum tanpa harus diujikan, dan prestasi sepakbola mendunia. Didukung insan sepakbola semua beradab dengan Budi pekerti tinggi.

Apalagi konsep sebagai Lembaga Kajian Islam Intensif (eLKISI), maka
semakin kuat sebagai tempat bagi peneliti untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui berbagai upaya sistematis. Terutama meningkatkan Pesantren Sepakbola eLKISI menjadi laboratorium sepakbola berakhlak.

Bagi santri/siswa khusus Pesantren Sepakbola eLKISI, maka ketrampilan mengembangkan keterampilan mengaji sesuai dengan standar kurikulum serta kompetensi pondok pesantren, dan keterampilan bermain sepakbola sesuai perkembangan jaman, baik teknik, individu skill (kemampuan individu) melalui pembekalan dari berbagai kajian ke kajian menuju modernisasi, sehingga membuktikan dari lapangan menuju peradaban.

Pesantren Sepakbola eLKISI, juga tidak berlebihan ke depan sebagai
Laboratorium Pendidikan, untuk kegiatan belajar mengajar santri di kelas sekolah, di kelas pengajian, dan di kelas dan lapangan sepakbola.

Fasilitas di Dalam Laboratorium

Laboratorium Pesantren Sepakbola eLKISI, jika ke depan mengarah ke sana, maka sebagaimana sudah dilakukan selama ini sud

ah dilengkapi dengan infrastruktur yang mendukung kegiatan dengan mengacu pada sport science.

Dimana sport science (ilmu keolahragaan) adalah penerapan berbagai disiplin ilmu pengetahuan—seperti fisiologi, biomekanika, psikologi, nutrisi, dan kedokteran—secara sistematis untuk meningkatkan performa, teknik, taktik, dan fisik pemain. Ini adalah pendekatan ilmiah modern untuk memaksimalkan prestasi olahraga dan menjaga kesehatan atlet/pemain.

Keseriusan mencetak pemain sepakbola beradab, tidak berlebihan karena sudah dideklarasikan. Bahkan juga tidak menutup kemungkinan menjadi laboratorium insan sepakbola lainnya, terutama suporter sebagai santri khusus menuju suporter sepakbola yang beradab.

Seperti diketahui, insan sepak bola adalah istilah yang merujuk pada seluruh elemen atau individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam dunia sepak bola.

Pengertian ini tidak terbatas hanya pada pemain, tetapi mencakup komunitas luas yang membangun ekosistem sepak bola itu sendiri. Yaitu, meliputi:
Pemain (Pesepakbola), atlet yang memainkan permainan. Pelatih, pengelola taktik dan teknik tim. Wasit, pemimpin pertandingan.
Pengurus (PSSI Provinsi/Klub), mengurus manajemen organisasi dan federasi.

Komunitas dan Suporter, pendukung setia. Sponsor, pihak yang mendukung secara finansial. Dan terakhir
Pesantren, sebagai tempat kawah candradimuka mengembelng insan sepakbola secara profesional menuju peradaban.

Insan sepakbola adalah semua orang yang mendedikasikan diri atau berkarya di dalam industri dan olahraga sepakbola. Jika semua mau menjadi santri “Pesantren kilat” atau masuk Pesantren Sepakbola eLKISI sesuai program khusus, maka itulah sesungguhnya fenomenal Pesantren dan Sepakbola dalam proses menjadikan pemain serta insan sepakbola sebagai pendakwah yang beradab. (Djoko Tetuko/bersambung)