Oleh : Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag.
Setiap musim kelulusan di Indonesia, terutama jenjang pendidikan menengah, masih saja menghadirkan pemandangan yang hampir serupa. Jalanan di bebarapa daerah dipenuhi konvoi kendaraan, seragam sekolah dicorat-coret, dan media sosial ramai oleh euforia para pelajar yang merasa berhasil menuntaskan satu fase penting dalam hidupnya.
Di berbagai kota, kelulusan bahkan berubah menjadi perayaan massal yang gaduh dan emosional. Bagi sebagian siswa, itu menjadi simbol kebebasan setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan tugas, ujian, target nilai, dan tuntutan masa depan yang semakin kompetitif.
Pada kelulusan tahun 2026 beberapa waktu yang lalu, fenomena itu tampaknya belum banyak berubah. Meski sekolah kini semakin akrab dengan program pendidikan karakter, literasi digital, dan upaya membangun kesehatan mental, tradisi perayaan kelulusan yang bernuansa berlebihan masih terus berlangsung.
Konvoi kendaraan, pesta jalanan, pesta joget, penggunaan flare, hingga aksi corat-coret seragam tetap menjadi bagian dari wajah tahunan pendidikan kita. Bahkan di era digital, euforia kelulusan tidak hanya berlangsung di jalan raya, tetapi juga meledak di media sosial melalui siaran langsung, konten viral, dan tren perayaan yang dipertontonkan secara massif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kelulusan bukan lagi sekadar momen akademik, melainkan telah berubah menjadi peristiwa sosial dan budaya. Generasi muda hidup di tengah ekosistem digital yang mendorong setiap momentum untuk dipublikasikan. Akibatnya, ekspresi kebahagiaan sering bergeser menjadi kompetisi simbolik: siapa yang paling meriah, paling bebas, dan paling menarik perhatian.
Tidak sedikit pelajar yang merasa bahwa kelulusan harus dirayakan secara besar-besaran agar dianggap berkesan. Bahkan muncul statemen yang sering terdengar “momen sekali sumur hidup, harus dirayakan”. Statemen ini menunjukkan bahwa banyak siswa memandang kelulusan sebagai peristiwa sangat penting dan emosional dalam hidup mereka, sehingga dianggap wajar dirayakan secara besar-besaran.
Di sisi lain, ledakan ekspresi itu sebenarnya dapat juga dipahami sebagai luapan psikologis remaja. Selama bertahun-tahun mereka hidup dalam ritme pendidikan yang semakin padat dan kompetitif.
Tekanan akademik, kecemasan menghadapi masa depan, persaingan masuk perguruan tinggi, hingga ketidakpastian dunia kerja membuat kelulusan terasa seperti titik pelepasan emosional. Karena itu, perayaan kelulusan sering dipandang sebagai cara untuk melepaskan diri dari tekanan panjang yang mereka alami selama sekolah.
Namun persoalannya, perayaan yang terlalu berlebihan justru memperlihatkan paradoks pendidikan kita sendiri. Sekolah selama ini berbicara tentang karakter, kedewasaan, dan tanggung jawab sosial, tetapi pada momentum kelulusan justru muncul perilaku yang sering mengabaikan keselamatan publik dan nilai sosial.
Konvoi “ugal-ugalan”, penggunaan atribut berbahaya, vandalisme, hingga pelampiasan emosional yang tidak terkendali menunjukkan bahwa pendidikan kadang masih terlalu berorientasi pada kelulusan administratif, bukan pada pembentukan kesadaran sosial dan kedewasaan hidup.
Ironisnya lagi, budaya corat-coret seragam berlangsung ketika kesenjangan mutu dan akses pendidikan masih menjadi persoalan nyata. Di tengah banyak keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah, seragam yang sebenarnya masih layak pakai justru berakhir menjadi simbol selebrasi sesaat.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil menanamkan sensitivitas sosial kepada peserta didik. Padahal, kelulusan semestinya menjadi momentum berbagi dan bersyukur, bukan sekadar pelampiasan euforia kolektif.
Karena itu, persoalan kelulusan tidak cukup diselesaikan hanya dengan larangan konvoi atau pengawasan aparat setiap tahun. Yang lebih penting tentu saja mengubah budaya perayaannya. Sekolah perlu mulai mengarahkan kelulusan menjadi ruang refleksi dan kontribusi sosial.
Perayaan dapat diisi dengan donasi seragam, aksi lingkungan, kegiatan sosial, pameran karya siswa, atau program pengabdian masyarakat. Dengan cara itu, kelulusan tidak hanya menjadi simbol berakhirnya sekolah, tetapi juga penanda lahirnya generasi yang lebih dewasa secara sosial dan emosional.
Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu pertanyaan mendasar yang justru sering tenggelam oleh euforia: setelah lulus, lalu mau apa?
Pertanyaan ini penting karena banyak siswa sesungguhnya sedang berdiri di depan ketidakpastian. Ketika seremoni selesai dan tepuk tangan mereda, tidak sedikit anak muda yang bingung menentukan arah hidupnya.
Ada yang harus menunda kuliah karena keterbatasan ekonomi. Ada yang dipaksa segera bekerja demi membantu keluarga. Ada pula yang merasa cemas melihat teman-temannya tampak lebih cepat berhasil, sementara dirinya masih berjalan di tempat. Di titik inilah pendidikan diuji bukan pada kemampuannya meluluskan siswa, tetapi pada kemampuannya menyiapkan manusia menghadapi kehidupan nyata.
Barangkali inilah ironi paling besar dalam pendidikan kita hari ini. Kelulusan sering diperlakukan sebagai garis finish, padahal ia sejatinya baru garis start. Ia dirayakan seperti kemenangan final, seolah setelah itu hidup menjadi mudah dan terang benderang. Padahal di luar pagar sekolah, realitas justru baru mulai memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya: keras, kompetitif, tidak pasti, dan sering kali tidak memberi banyak waktu untuk bersiap.
Selama ini, banyak siswa tumbuh dalam budaya pendidikan yang terlalu menekankan hasil akhir. Nilai tinggi dipuji, peringkat dirayakan, sementara proses mengenali diri dan bertumbuh sebagai manusia sering terabaikan. Akibatnya, ketika lulus mereka terbiasa mengukur diri berdasarkan standar pencapaian orang lain. Padahal kehidupan tidak bekerja seperti papan ranking di sekolah. Tidak semua orang harus berhasil di usia yang sama, di jalan yang sama, atau dengan cara yang sama.
Di sekolah, siswa diajarkan cara menjawab pertanyaan yang sudah tersedia jawabannya. Tetapi kehidupan setelah lulus menghadirkan pertanyaan yang sering kali tidak memiliki kepastian jawaban: bagaimana menghadapi kegagalan tanpa kehilangan harapan, bagaimana tetap percaya diri di tengah persaingan, atau bagaimana bertahan ketika rencana hidup tidak berjalan sesuai keinginan. Kehidupan juga mengajarkan bahwa tidak semua orang memiliki garis start yang sama.
Demikian halnya ada yang memulai dengan start bersama, tetapi finishnya berbeda. Ada yang melangkah dengan dukungan penuh keluarga, ada yang harus berjuang sendirian sejak awal. Ada yang jatuh lantas segera bisa bangun sendiri, ada pula yang jatuh butuh waktu lama untuk bisa bangun bahkan harus diangkat dan ditolong oleh orang lain. Begitulah kenyataan kehidupan yang sesungguhnya terjadi.
Pendidikan masa depan tidak boleh hanya berorientasi pada kelulusan administratif dan capaian angka akademik. Sekolah harus mulai menjadi ruang yang membantu siswa memahami kehidupan secara lebih utuh.
Bukan hanya mengajarkan bagaimana menjadi pintar, tetapi juga bagaimana menjadi tangguh, dewasa, mampu beradaptasi, dan memiliki empati sosial. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu mengerjakan soal ujian, tetapi manusia yang mampu menyelesaikan ragam soal kehidupan, menghadapi perubahan, tekanan, dan ketidakpastian.
Tantangan saat ini semakin besar karena kita hidup di zaman ketika masa depan tidak lagi mudah diprediksi. Jika pada masa lalu pendidikan dianggap sebagai jalan paling pasti menuju pekerjaan dan kehidupan mapan, hari ini rumus itu mulai berubah.
Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah banyak bidang pekerjaan dalam waktu sangat cepat. Dunia kerja kini tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, adaptasi, dan ketahanan mental.
Ironisnya, banyak sekolah masih terjebak pada pola pendidikan lama yang terlalu menekankan hafalan dan kepatuhan prosedural. Siswa dilatih untuk lulus ujian, tetapi belum cukup dipersiapkan menghadapi kehidupan yang terus berubah. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang memiliki nilai tinggi namun tetap bingung menghadapi realitas setelah sekolah. Mereka memasuki dunia yang menuntut fleksibilitas, kemampuan sosial, dan daya tahan mental, sementara selama bertahun-tahun pendidikan lebih banyak melatih mereka mengejar angka dan kelulusan administratif.
Situasi ini semakin kompleks karena media sosial terus mempertontonkan standar keberhasilan yang tampak instan. Anak muda seolah dituntut sukses sebelum usia tertentu, harus selalu produktif, dan tidak boleh gagal. Tanpa disadari, banyak generasi muda tumbuh dalam kecemasan sosial karena merasa tertinggal ketika hidupnya tidak berjalan secepat orang lain. Padahal kenyataannya, setiap orang memiliki ritme kehidupan yang berbeda.
Karena itu yang dibutuhkan anak muda hari ini bukan sekadar motivasi untuk menjadi sukses, tetapi kemampuan memahami dirinya sendiri dan tantangan yang pasti akan dihadapinya. Mereka perlu belajar mengenali potensi, minat, keterbatasan, dan kondisi hidup yang dimiliki. Sebab tidak semua mimpi harus dicapai dengan jalan yang sama. Ada yang bisa langsung kuliah, ada yang harus bekerja terlebih dahulu, ada yang merintis dari bawah, dan semua itu bukan ukuran gagal atau berhasil sebagai manusia.
Sekolah juga perlu lebih berani menghadirkan pendidikan kehidupan, bukan hanya pendidikan tentang mata pelajaran dan bidang studi tertentu. Anak-anak perlu belajar tentang kesehatan mental, literasi finansial, kemampuan beradaptasi, komunikasi, empati sosial, hingga bagaimana menghadapi tekanan dan kegagalan. Sebab di dunia nyata, kemampuan bertahan sering kali jauh lebih penting dibanding sekadar kemampuan menghafal teori.
Dalam konteks itu, kelulusan seharusnya tidak dipahami sebagai akhir dari segalanya, melainkan awal perjalanan untuk terus belajar. Tidak perlu dirayakan secara berlebihan seolah hidup telah selesai dimenangkan. Sebab setelah lulus, setiap orang justru akan memasuki ruang kehidupan yang penuh tantangan baru. Kelulusan semestinya menjadi momentum refleksi: sudah sejauh mana seseorang mengenal dirinya, siapkah ia menghadapi perubahan, dan nilai apa yang akan dibawanya ketika memasuki masyarakat.
Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya angka kelulusan atau meriahnya seremoni perpisahan. Yang teramat penting sejatinya apakah sekolah mampu melahirkan manusia yang matang secara emosional, tangguh menghadapi tekanan, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan tetap memiliki kepedulian sosial di tengah dunia yang semakin kompetitif. Sebab masa depan tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling tinggi nilainya, tetapi oleh mereka yang paling siap belajar, bertahan, dan terus bertumbuh ketika kehidupan berubah arah. (dikutip dari kemenag.go.id)
*) Penulis adalah Guru Besar Ilmu Pendidikan dan Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto
–






