Oleh Djoko Tetuko – Dirut Media Koran Transparansi
Pepatah populer “Ilmu adalah cahaya” sering diingatkan Imam Syafi’i, yang menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan—khususnya ilmu agama—sebagai penerang jiwa dan petunjuk jalan kebenaran dalam kegelapan kebodohan. Ilmu juga memberikan pemahaman, membedakan yang hak dan batil, serta menuntun pada keselamatan dunia dan akhirat.
Tholibul Ilmi Minal Mahdi Illa Lahdi (“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”)
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah, no. 224, dinilai sahih oleh Al-Albani).
Begitu penting mencari ilmu karena merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Bahkan Nabi Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam (SAW) menegaskan wajib bagi laki-laki dan perempuan.
Sehingga mencari Ilmu dalam Islam mempunyai kedudukan sangat mulia, bahkan setara dengan berjihad. Keistimewaan mencari ilmu diberi derajat, dimudahkan jalan menuju surga, diangkat derajat dunia dan akhirat, diwariskan ilmu para Nabi, didoakan oleh seisi bumi dan langit, serta menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Bahkan, mencari ilmu di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan luar biasa, dimana setiap langkah menuju majelis ilmu bernilai setara ibadah satu tahun. (Satu Langkah ke Majelis Ilmu = Ibadah Satu Tahun).
Sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana pada (Kitab Durratun Nasihin). “Barangsiapa menghadiri majelis ilmu di bulan Ramadhan, maka Allah mencatat untuknya setiap langkah kakinya sebagai ibadah satu tahun”
Tanpa mengesampingkan ibadah wajib dan sunnah di bulan suci Ramadhan, dengan pahala dan hikmah luar biasa, seperti sholat tarawih, tadarus, dan berbagai aktifitas lainnya. Maka 15 hari lebih menikmati sisa kewajiban puasa di bulan milik “Umat Nabi Muhammad SAW” ini. Jauh lebih bermanfaat jika setiap hari mengagendakan menuju majelis ilmu, terutama ilmu agama untuk memperkuat keimanan, ketakwaan, keikhsanan sebagai muslim mendekati sempurna dalam ikhtiar.
Walaupun di dalam bulan Ramadhan terdapat Nuzulul Qur’an (turunnya Kitab Suci Al Qur’an), juga ada satu malam setara dengan 83 tahun, yaitu malam “Lailatul Qadar”. Tetapi sayang seribu sayang jika melewatkan untuk mencari ilmu di berbagai majelis ilmu keagamaan, walaupun hanya satu ayat.
Mencari dengan niat meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, peduli dengan kedaulatan bangsa dengan sungguh-sungguh menjaga kekuatan anak bangsa di berbagai bidang usaha. Maka sangat tepat jika di kantor-kantor menyediakan forum majelis ilmu, sebagai benteng keimanan dan kebangsaan. Juga memberi penyegaran keilmuan.
Ilmu adalah Cahaya
Ilmu layaknya lampu yang menerangi ruangan, ilmu melenyapkan kebodohan dan membimbing langkah manusia agar tidak tersesat.
Bahkan Imam Syafi’i menekankan bahwa ilmu adalah cahaya Allah, dan cahaya tersebut tidak akan masuk ke hati yang kotor atau pelaku kemaksiatan.
Sehingga kehidupan dengan ilmu agama, khususnya, dianggap sebagai sumber kehidupan (hayatun) dan cahaya (nur) yang membawa pada ketaatan dan keselamatan di dunia dan akhirat.
Apalagi berbagai potret kehidupan dunia saat ini, sudah menjungkirbalikkan prediksi. Ketika sejak 10 Ramadhan 1447 Hijriyah tahun 2026, terjadi “Perang Dahsyat Iran vs Israel – Amerika Serikat”. Dengan membaca kembali sejarah masa lalu di Kitab Suci Al Qur’an, maka keimanan dan ketakwaan insyaAllah akan terjaga, dan selalu dekat dengan Sang Kahliq, dengan dzikir, syukur, sholat juga sabar.
Ketika dunia pers Indonesia dan belahan dunia lain, “Tidak Hidup Juga Tidak Mati”, insyaAllah dengan membuka majelis ilmu dengan sungguh-sungguh, akan menemukan jalan keluar untuk bersama-sama gotong royong, mengatasi. Bukan saling menyalahkan, apalagi mencari “kambing hitam”.
Bahkan, sesama anak bangsa ketika sengaja diadu domba, hanya untuk kepentingan segelintir orang atau tokoh, hanya untuk menyelamatkan gengsi pribadi. Untuk menjaga marwah pemimpin kelompok kecil maupun kelompok besar. Maka dengan membuka majelis ilmu, InsyaAllah akan terbuka jalan menuju persatuan untuk perbaikan.
Hari-hari ini ketika musibah masih terus silih berganti, berpindah pindah tempat, dan belum semua terselesaikan. Maka majelis ilmu, dzikir, bersyukur, sholat dan sabar, akan menyelesaikan berbagai ujian itu.
Bahkan, ketika sesama anak bangsa, masih saling mencari kesalahan untuk menjatuhkan, mendapatkan isu-isu negatif. Maka majelis ilmu akan memberi penyegaran sekaligus tambahan ilmu pengetahuan untuk merenung dan menyadarkan bahwa, kritik konstruktif adalah rahmat, sekaligus menyelesaikan dengan bersama-sama secara musyawarah. Bersatu padu dalam berbagwi isu jauh lebih jitu dan bermutu.
Mari sisa bulan suci Ramadhan, kita manfaatkan untuk membuka majelis ilmu dengan harapan mendapat kemudahan penyelesaian berbagai persoalan berbangsa, bernegara, beragama dengan sungguh-sungguh.
Di Pondok Pesantren sudah menjadi tradisi menambah majelis ilmu secara khusus. Di sejumlah kantor sudah menggelar majelis ilmu, tetapi masih belum banyak umat Islam sebagai penyanggah anak bangsa terpanggil.
Sekedar mengingatkan bahwa tulisan sederhana ini, hanya mengingatkan yang lupa keistimewaan mencari ilmu, terutama ilmu agama. Mari berlomba-berlomba menuju majelis ilmu. Sehingga tidak hanya istighfar dan dzikir yang berlomba-lomba. Mencari ilmu dengan melangkahkan kaki menuju majelis ilmu sangat penting dan bermanfaat, sebagai bagian cara mengubah peradaban lebih kuat dan hebat. InsyaAllah. (*)