banner 400x130

Eri Target Pembangunan Rumah Pompa dan Infrastruktur di Surabaya Tuntas Medio November

Pemkot Surabaya mempercepat pembangunan rumah pompa dan infrastruktur pendukung pengendalian banjir menjelang puncak musim hujan.

SURABAYA – Pemkot Surabaya mempercepat pembangunan rumah pompa dan infrastruktur pendukung pengendalian banjir menjelang puncak musim hujan. Hingga Kamis (29/10),Wali Kota Eri Cahyadi mengatakan, progres pengerjaan telah mencapai 90 persen dan ditargetkan rampung pada medio November 2026 agar dapat beroperasi saat curah hujan meningkat pada Desember.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pekerjaan yang masih menjadi prioritas adalah penyambungan pipa menuju sungai. Penyelesaian koneksi tersebut diperlukan agar rumah pompa dapat segera dioperasikan untuk membantu mengurangi genangan di sejumlah kawasan rawan banjir.

“Sekarang progresnya sudah 90 persen. Targetnya pertengahan November selesai, karena yang masih dikerjakan terutama penyambungan pipa menuju sungai. Yang terpenting, koneksinya diselesaikan terlebih dahulu supaya rumah pompa bisa segera dioperasikan,” kata Eri, Kamis (29/10/2026).

Sejumlah kawasan yang menjadi perhatian Pemkot Surabaya meliputi Tanjungsari, Simokalangan, Simorejo, Margorejo, Nginden Jangkungan, dan Rungkut. Beberapa wilayah tersebut telah bertahun-tahun menghadapi persoalan genangan setiap kali hujan turun.

Eri menjelaskan, penanganan genangan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat urgensi dan kemampuan anggaran daerah. Sebelumnya, Pemkot Surabaya memprioritaskan Benowo, Pakal, dan Dukuh Kupang yang memiliki persoalan genangan cukup serius.

“Dulu kami selesaikan dulu yang di Benowo, Pakal, dan Dukuh Kupang. Di Dukuh Kupang, menurut cerita warga, genangannya sudah terjadi hampir 60 tahun. Alhamdulillah, kawasan itu sudah tertangani. Sekarang kami melanjutkan penanganan di titik-titik lain, seperti Margorejo, depan Ubaya, AWS, Tanjungsari, dan Simokalangan,” ujarnya.

Selain membangun rumah pompa, Pemkot Surabaya membenahi saluran air di kawasan permukiman. Menurut Eri, pengendalian genangan tidak cukup hanya mengandalkan rumah pompa, tetapi juga membutuhkan saluran yang berfungsi baik agar aliran air tetap lancar.

Pemkot Surabaya juga menangani persoalan infrastruktur lingkungan, termasuk jalan ambles setelah hujan. Penanganan dilakukan melalui kerja sama dengan warga menggunakan mekanisme swakelola setelah pemerintah menerima laporan kerusakan.

“Kemarin hujan sebentar, ada warga melapor jalannya ambles. Kami kemudian bertemu warga dan mengajak bekerja bersama melalui swakelola. Alhamdulillah, bisa segera ditangani. Jadi, selain pembangunan infrastruktur besar, persoalan di lingkungan permukiman juga harus diselesaikan,” tuturnya.

Eri menegaskan, Pemkot Surabaya akan memberikan peringatan kepada kontraktor yang tidak memenuhi tenggat waktu pekerjaan sesuai ketentuan kontrak. Jika pekerjaan tetap tidak selesai setelah batas waktu yang ditetapkan, pemerintah dapat memutus kontrak dan menjatuhkan sanksi daftar hitam atau blacklist.

“Kalau sudah diberikan peringatan dan jangka waktunya terlewati, konsekuensinya bisa sampai pemutusan kontrak dan blacklist. Kami berharap tidak sampai terjadi, karena yang paling penting pembangunan selesai tepat waktu dan manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” tandasnya. (fri)

Editor: Wetly