MOJOKERTO (WartaTransparansi.com) – Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa bersama Dinas Pertanian Kab. Mjokerto menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), infrastruktur pertanian, serta sarana pendukung kepada kelompok tani senilai Total Rp 6, 8 Miliyar lebih. Bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan mendorong kesejahteraan petani di Kabupaten Mojokerto.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Ludfi Ariyono menyampaikan pelaksanaan penyerahan bantuan tersebut dilaksanakan pada rangkaian kegiatan Pelatihan Pascapanen Tembakau dan Kemitraan yang berlangsung di Hotel Aston Mojokerto. Berbagai bantuan itu ditujukan untuk mendukung pengolahan lahan dan proses panen, memperlancar akses menuju lahan pertanian, memenuhi kebutuhan air tanaman, serta mengembangkan potensi komoditas pertanian di Kabupaten Mojokerto
Dijelaskan secara rinci bantuan yang disalurkan meliputi 2 unit traktor roda empat senilai Rp 753 juta, 27 unit pompa air senilai Rp 246,645 juta, satu unit power thresher senilai Rp 55 juta, dan satu unit combine harvester besar senilai Rp 430 juta.
Selain bantuan berupa alat pertanian pemerintah juga menyerahkan tujuh unit Jalan Usaha Tani (JUT) senilai Rp 770 juta, 29 unit irigasi perpompaan senilai Rp 4,5153 miliar, 1unit bangunan konservasi air senilai Rp 123 juta, 1 unit irigasi perpipaan senilai Rp 97 juta, serta 1.500 batang benih kopi robusta kepada tiga kelompok tani.
“Kegiatan dalam bentuk pelatihan semacam ini ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat sumber daya manusia dan memodernisasi sektor pertanian,” jelas Ludfi Ariyono .
Menurutnya, pembangunan pertanian perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas petani, perbaikan kualitas hasil panen, hingga penyediaan sarana dan prasarana pendukung produksi. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.
Ditambahkan pada kegiatan ini, pelatihan pascapanen tembakau dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas hasil panen agar memenuhi standar industri. Penguatan kemitraan antara kelompok tani dan pihak industri juga menjadi perhatian, terutama untuk mendorong kepastian pasar, transparansi harga, serta mengurangi rantai pasok yang merugikan petani.
Sebelumnya, pelatihan sejenis tentang budidaya tembakau dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) telah dilaksanakan pada awal minggu kedua Oktober 2026.
Pelatihan pascapanen tembakau dan kemitraan ini diikuti 80 petani dari Kecamatan Dawarblandong, Kemlagi, Jetis, dan Gedeg. Kegiatan tersebut juga melibatkan penyuluh pertanian dari empat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta narasumber dari PT AOI sebagai mitra kemitraan petani tembakau dan BRMP TAS.
Melalui penyaluran bantuan, pelatihan, dan penguatan kemitraan, Pemerintah Kabupaten Mojokerto berharap sektor pertanian semakin produktif, efisien, dan berdaya saing. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari langkah memperkuat ketahanan pangan daerah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Secara terpisah Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa yang menyerahkan secara langsung bantuan alat pertania pada kelompok tani saat meninjau jalannya pelatihan tersebut menyampaikan, ketersediaan sarana dan prasarana pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang kelancaran dan efisiensi usaha tani. Melalui bantuan tersebut, petani diharapkan dapat mengurangi beban pekerjaan, menekan biaya produksi, dan menjaga produktivitas pertanian.
Gus Barraa panggilan akrab Bupati Mojokerto mengingatkan kelompok tani penerima manfaat agar menjaga dan merawat bantuan yang telah diberikan serta mengatur pemanfaatannya secara jelas dan adil sesuai kebutuhan anggota kelompok. Pengelolaan yang baik dan perawatan berkala diperlukan agar seluruh sarana tersebut dapat digunakan secara optimal dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Gus Barra juga minta agar Dinas Pertanian diharapkan terus melakukan pendampingan dan pemantauan untuk memastikan bantuan berfungsi dengan baik. Pendampingan juga diperlukan agar petani dapat mengatasi kendala dalam pengoperasian alat maupun pemeliharaan sarana pertanian.
“Kita ingin bantuan ini memberikan hasil yang benar-benar dirasakan petani, mulai dari pekerjaan yang lebih efisien, hasil panen yang lebih baik, hingga peningkatan pendapatan,”tukas Gus Barra, dikonfirmasi, Kamis (29/10/2025). (*)







