PACITAN – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak para santri menguasai teknologi, memperkuat kemandirian ekonomi, dan menjaga persatuan bangsa sebagai bagian dari kontribusi menuju Indonesia Emas 2045. Pesan tersebut disampaikan Khofifah dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional 2026, Kamis (22/10/2026).
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, Khofifah menegaskan bahwa santri dan pesantren memiliki potensi besar dalam pembangunan bangsa, tidak hanya melalui pendidikan agama, tetapi juga pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Saya meyakini, ekosistem santri merupakan modal besar bagi kemajuan suatu bangsa. Ekosistem ini tidak hanya terdiri atas santri, tetapi juga kiai, pesantren, alumni, keluarga, pelaku usaha, dan masyarakat yang saling menguatkan,” ujar Khofifah.
Menurutnya, tantangan zaman menuntut santri untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Khofifah mengatakan, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran di pesantren, memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, mengembangkan literasi, hingga memperluas jangkauan dakwah melalui berbagai platform digital.
“Santri harus menjadi pelaku, inovator, dan pemimpin yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi harus tetap berlandaskan akhlak, integritas, dan tanggung jawab. Khusus dalam penggunaan AI untuk dakwah, santri perlu memastikan kebenaran sumber informasi serta tetap mengedepankan bimbingan para ulama.
“Teknologi tidak boleh menggantikan kedalaman ilmu, otoritas keilmuan, maupun tanggung jawab moral seorang pendakwah,” katanya.
Selain penguasaan teknologi, Khofifah mendorong pesantren memperkuat peran dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Pengembangan kewirausahaan, koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pertanian, industri halal, serta ekonomi digital dinilai menjadi peluang yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian pesantren.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas alumni untuk memperluas peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar pesantren.
“Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga penggerak kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, Khofifah mengingatkan pentingnya peran santri dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Nilai kebersamaan, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, dan kepedulian terhadap sesama yang ditanamkan di pesantren harus menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia mengajak para santri mengisi ruang digital dengan konten positif, menangkal hoaks, serta menolak ujaran kebencian dan provokasi yang berpotensi memecah belah bangsa.
“Santri harus menjadi jembatan persaudaraan, merawat persatuan, serta menolak ujaran kebencian dan segala bentuk provokasi. Semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah harus terus menjadi landasan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” pesannya.
Khofifah juga mengingatkan kembali peran historis santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk melalui Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Menurutnya, semangat perjuangan tersebut perlu dilanjutkan melalui pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Jika dahulu santri berjuang mempertahankan kemerdekaan, hari ini santri harus ikut mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, penguatan ekonomi, penguasaan teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.
Pada peringatan Hari Santri Nasional 2026, Khofifah mengajak seluruh keluarga besar pesantren memperkuat sinergi dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.




