banner 400x130

Diklatda PD AMPG Jatim, Ali Muthfi Serukan Kader Muda Golkar Harus Berintegritas

Ketua DPD Partai Golkar Jatim Ali Mufthi

SURABAYA — Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur Ali Muthfi menegaskan pentingnya pendidikan politik dan kaderisasi bagi generasi muda sebagai fondasi keberlanjutan Partai Golkar. Pesan tersebut disampaikan saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Pendidikan dan Latihan Daerah (Diklatda) l PD AMPG Jawa Timur di Gedung Golkar, Jalan A. Yani, Surabaya, Sabtu (5/9/2026).

Diklatda tersebut berlangsung dua hari Sabtu dan Minggu, diikuti peserta dari 38 PD AMPG Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Di hadapan para kader muda, Ali Muthfi menekankan bahwa regenerasi muda tidak boleh berhenti pada pergantian usia, tetapi harus dibarengi dengan transfer pengetahuan, nilai, karakter, dan keterampilan politik.

Ali Muthfi yang mengaku bergabung dengan Partai Golkar pada 1998 saat berusia 28 tahun itu mengatakan, generasi muda harus mempersiapkan diri secara serius untuk meneruskan perjuangan politik Golkar.

“Generasi muda, anak-anak muda, harus menyiapkan diri sebaik mungkin sebagai bagian dari semangat Partai Golkar untuk melakukan pendidikan kader dan regenerasi politik pada masa yang akan datang,” tegas Anggota Komisi V DPR RI dari Dapil Vll Jawa Timur.

Menurut Ali Muthfi, pendidikan dan pelatihan memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Pendidikan, kata dia, berorientasi pada transfer knowledge atau penyamaan pengetahuan dan perspektif kebangsaan.

Sedangkan pelatihan diarahkan pada pembentukan keterampilan kader dalam mengelola organisasi dan dinamika politik. “Transfer knowledge dan transfer value menjadi sesuatu yang linier yang harus menjadi milik kita,” ujarnya.

Ia menilai kader Golkar tidak cukup hanya memiliki kemampuan politik, tetapi juga harus mempunyai nilai dan karakter yang kuat. Sebab, kader partai pada akhirnya akan masuk ke berbagai ruang pengabdian, termasuk ruang-ruang kekuasaan.

Ali Muthfi mengingatkan, kekuasaan tanpa nilai dan tata kelola yang baik berpotensi kehilangan orientasi pengabdian kepada masyarakat.

“Kalau kita masuk di ruang-ruang kekuasaan ini kita tidak punya nilai, tidak punya value, tidak punya tata kelola yang baik, maka kekuasaan yang awalnya kita baktikan untuk kepentingan bangsa dan negara akan menjadi sesuatu yang mubazir,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan kader muda AMPG untuk menghindari manuver politik yang tidak perlu, sikap oportunistis, maupun tindakan yang dapat merusak citra organisasi.

Dengan bahasa khasnya, Ali Muthfi menyerukan agar kader “ojo okeh olah-olah, ojo okeh gerakan tambahan”, yang dimaknainya sebagai ajakan untuk tidak banyak bertingkah dan tidak melakukan manuver tambahan yang tidak memiliki dasar nilai.

Ia juga mendorong kader muda memiliki keteguhan prinsip. Ali Muthfi menggunakan metafora Ashabul Kahfi untuk menggambarkan generasi muda yang berani mempertahankan prinsip kebenaran di tengah tekanan.

“Anak-anak muda bisa mengatakan: ini benar saya ikut, ini salah saya tidak mau,” tegas alumni ponpes Tebuireng Jombang.

Bagi Ali Muthfi, konsistensi kader harus diwujudkan dalam berbagai bidang pengabdian. Anak muda Golkar, katanya, dapat menjadi pengusaha, petani, cendekiawan maupun pemimpin pemerintahan, tetapi seluruh aktivitas tersebut harus diarahkan untuk kepentingan masyarakat, bangsa, negara dan partai.

Ia kemudian menarik pesan kaderisasi tersebut ke dalam konteks sejarah politik Indonesia. Menurutnya, perjalanan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa konflik ideologi dan fragmentasi kepentingan tidak selalu menghasilkan konsensus yang mampu menjawab cita-cita kemerdekaan.

Karena itu, sejarah kelahiran Golkar dan gagasan Sekretariat Bersama Golongan Karya, menurut Ali Muthfi, harus dipahami sebagai bagian dari perjalanan politik bangsa dalam mencari titik temu di tengah fragmentasi ideologi, kepentingan dan kelompok.

“Sejarah perjalanan bangsa ini menjadi acuan kita agar rakyat tahu bahwa cita-cita bangsa Indonesia itu adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Ali Muthfi menegaskan, semangat tersebut harus menjadi napas kader Golkar dalam menjalankan doktrin Karya Kekaryaan. Partai, menurutnya, harus mampu melahirkan kader yang bukan hanya kuat secara politik, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, keterampilan organisasi, integritas dan orientasi pengabdian.

Diklatda AMPG pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pendidikan formal, melainkan menjadi instrumen konsolidasi kader muda Golkar di seluruh Jawa Timur.

Dengan hadirnya kader dari 38 PD AMPG Kabupaten/Kota, Ali Muthfi menekankan bahwa kekuatan politik Golkar ke depan sangat ditentukan oleh kualitas regenerasinya.

Kader muda harus disiapkan bukan sekadar menjadi penerus struktur partai, tetapi menjadi generasi yang mampu membawa nilai-nilai Golkar ke ruang pengabdian dan kekuasaan dengan tetap berpijak pada kepentingan bangsa dan rakyat. (*)

Penulis: Amin Istighfarin