banner 400x130

Renovasi Kolam Renang Kertajaya Molor, Puslatda Cabor Akuatik Terganggu

SURABAYA, Wartatransparansi.com – Belum selesainya renovasi Kolam Renang Kertajaya Surabaya menjadi perhatian serius jajaran pelatih Akuatik Jawa Timur. Fasilitas yang selama ini menjadi pusat latihan atlet tersebut belum dapat digunakan, sehingga program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Mandiri harus berjalan secara terpencar di sejumlah kolam renang.

Pelatih renang Jawa Timur, Mochammad Umam, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung hampir dua tahun dan berdampak langsung terhadap efektivitas pembinaan atlet. Menurutnya, keterlambatan penyelesaian renovasi membuat tim pelatih kesulitan mempersiapkan atlet secara optimal menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Sembilan atlet yang seharusnya berlatih di Kertajaya kini harus berpencar. Ada yang berlatih di Kolam Renang Arhanud, Delta Sidoarjo, hingga Saigon di Pasuruan bersama klub masing-masing. Karena terpisah, kami kesulitan memonitoring aktivitas mereka,” ujar Umam di Surabaya, Jumat (31/7/2026).

Padahal, kata dia, latihan terpusat merupakan bagian penting dalam meningkatkan performa atlet. Selain memudahkan pelatih melakukan evaluasi, para atlet juga dapat menjalani program fisik, teknik, hingga latihan kebugaran secara bersama-sama.

“Kalau di Kertajaya, anak-anak bisa latihan bareng, nge-gym bareng dan fokus. Setiap saat kami juga bisa melakukan evaluasi untuk memaksimalkan potensi atlet,” katanya.

Jawa Timur sebelumnya mencatat prestasi gemilang pada PON Aceh-Sumut 2024 dengan menyumbangkan 11 medali emas dari cabang akuatik. Raihan tersebut berasal dari enam emas nomor renang dan loncat indah serta lima emas dari nomor renang perairan terbuka (open water swimming/OWS).

Namun, Umam menilai mempertahankan capaian tersebut akan menjadi tantangan besar apabila sarana latihan belum sepenuhnya memadai.

Ia menjelaskan, kolam renang yang saat ini digunakan atlet belum memiliki fasilitas sesuai standar pertandingan internasional. Beberapa di antaranya tidak dilengkapi lintasan pemecah gelombang, start block, maupun ukuran kolam yang memenuhi standar federasi akuatik internasional.

“Keterbatasan semua fasilitas itu sangat memengaruhi performa atlet, terutama catatan waktu terbaiknya. Hal itu bisa dilihat dari hasil Kejurnas pada Mei 2026 lalu, di mana banyak atlet kita, khususnya yang berdomisili di Jatim, tidak bisa mencapai best time-nya. Saya tidak bisa sebutkan detailnya, tapi kami memiliki semua catatannya,” ungkapnya.

Selain keterbatasan fasilitas, Pengprov Akuatik Jawa Timur juga harus menanggung biaya sewa kolam apabila ingin mengumpulkan seluruh atlet dalam satu sesi latihan. Tingginya biaya operasional membuat latihan bersama hanya dapat dilakukan sesekali.

“Kami bisa latihan bersama sebulan atau dua bulan sekali di Kolam Renang Saigon, Pasuruan. Ini karena keterbatasan dana yang kami miliki. Ini masalah serius yang tidak bisa kami atasi sampai detik ini,” tutur Umam.

Menurutnya, dampak keterbatasan tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi teknis, tetapi juga memengaruhi mental atlet. Atlet yang terbiasa berlatih di fasilitas berstandar tinggi akan kehilangan kenyamanan ketika harus menggunakan kolam dengan kondisi air yang kurang baik maupun fasilitas yang tidak memadai.

Meski demikian, secercah harapan mulai muncul. Berdasarkan informasi yang diterima Pengprov Akuatik Jawa Timur, renovasi Kolam Renang Kertajaya telah memasuki tahap akhir dan ditargetkan dapat difungsikan pada Agustus 2026.

Umam berharap target tersebut benar-benar terealisasi agar para atlet segera kembali menjalani latihan terpusat. Namun ia mengingatkan bahwa waktu yang tersisa menuju PON 2028 tidak cukup panjang untuk mengejar ketertinggalan performa.

“Untuk meningkatkan catatan waktu itu tidak instan. Jadi sulit bagi anak-anak. Jangankan melebihi raihan medali PON kemarin, menyamai saja susah,” tegasnya.

Saat ini, Puslatda Mandiri Akuatik Jawa Timur dihuni 13 atlet. Sembilan atlet berada di Jawa Timur, sedangkan tiga atlet lainnya menjalani latihan di Jakarta, Malaysia, dan Amerika Serikat. Menurut Umam, atlet yang berlatih di luar daerah maupun luar negeri tetap mampu menjaga performa karena memiliki akses terhadap fasilitas latihan yang memadai. (*)