MOJOKERTO, WartaTransparansi.com – BPBD Kab. Mojokerto tancap gas melakukan dropping air bersih untuk menanggulangi bencana kekeringan yang melanda tiga desa di wilayah Kec. Ngoro dan Trawas. Ini setelah rampungnya penyusunan rancangan Surat Keputusan (SK) Bupati Mojokerto tentang siaga darurat bencana kekeringan.
“Setelah SK ) Bupati Mojokerto tentang siaga darurat bencana kekeringan turun, Kami langsung menyalurkan bantuan droping air yang menyasar tiga desa terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau,” tegas Kepala BPBD Kab. Mojokerto, Ir. Rinaldi Rizal Sabirin, S.T., M.BA. dikonfirmasi Kamis (23/7/2026) pagi.
Menurutnya, penetapan dokumen administratif tersebut akan menjadi landasan untuk merealisasikan penyaluran bantuan air bersih pada desa yang dilanda kekeringan. “ Setelah SK Bupati turun BPBD langsung tancap gas dropping air bersih pada 3 desa yang membutuhkan dan sudah mengajukan bantuan air bersih. Dan hari ini sudah terealisasi,” jelas Renaldy.
Dijelaskan, sesuai surat pengajuan yang telah diterima BPBD, terdapat tiga desa terdampak yang telah meminta bantuan air bersih. Masing-masing Desa Duyung, Kecamatan Trawas serta Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro. Dari ketiga wilayah kekeringan tersebut, jumlah warga terdampak mencapai kurang lebih 2.776 kepala keluarga (KK).
Rinaldi didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim Khakim saat pengisian air bersih dari PDAM menyebutkan, penyaluran bantuan air bersih di tahap awal bakal disuplai dari Pemprov Jatim.
Dijelaskan, rencana awal dari pemprov dulu untuk bantuan reguler, selanjutnya Pemkab Mojokerto menyusul mengalokasikan sekitar 300 tangki dengan daya tampung 4.500 liter untuk dropping air bersih. Mengingat, kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibanding musim sebelumnya.
“Begitu SK Bupati tentang siaga darurat bencana kekeringan sudah turun, BPBD langsung tancap gas droping air bersih menuju 3 desa yang dilanda kekeringan di wilayah Trwas dan Ngoro,”terang Rinaldi dan Abdul Khakim .
Dijelaskan BPBD Mojokerto mencatat sebanyak 2.776 kepala keluarga (KK) atau 6.703 jiwa di tiga desa yang berada di dua kecamatan di Kabupaten Mojokerto mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau yang melanda dalam 4 bulan terakhir.
Ketiga desa yang terdampak berada di kaki Gunung Penanggungan. Dua desa di antaranya berada di Kecamatan Ngoro, yakni Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah.
Sementara satu desa lainnya, yakni Desa Duyung, berada di Kecamatan Trawas. Warga di tiga desa tersebut mengalami krisis air bersih dan kini mengandalkan sisa air hujan yang ditampung di tempat penampungan maupun bantuan air bersih dari sejumlah instansi
Adapun rincian data tersebut di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, sebanyak 1.499 kepala keluarga (KK) atau 3.053 jiwa terdampak. Sementara di Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, sebanyak 774 KK atau 2.086 jiwa terdampak dan di Kecamatan Trawas, Desa Duyung mengalami kekeringan yang berdampak pada 503 KK atau 1.564 jiwa.
Sejumlah warga Manduro Manggung Gajah Kec. Ngoro maupaun warga Duyung-Trawas ini, dikonfirmasi di lokasi suplay penyaluran air, berharap BPBD Kabupaten Mojokerto maupun instansi jangan sampai te;at menyalurkan bantuan air bersih.
Sebelum ada droping air bersih lewat BPBD ini, kami mengandalkan air hujan dan bantuan dari instansi pemerintahan. Kalau musim kemarau warga hanya mengandalkan sisa penampungan air hujan dan bantuan BPBD atau dinas terkait untuk membantu pasokan air bersih.
“Kami berterimakasih pada BPBD Kab. Mojokerto dan instansi lainnya, kareea saat persediaan air bersih di desa kami, sudah menipis dan nyaris tak ada, droping air bersih dari BPBD sudah sudah tiba didesa kami, tepat disaat yang dibutuhkan ” jelas warga Achmad, warga Duyung-Trawas, senada juga diakui Suwardi, warga Kunjorowesi. (*)







