banner 400x130
Ekbis  

BPDP dan Politeknik LPP Dorong UMKM Semarang inovasi Produk Berbasis Komoditas Perkebunan

Semarang, Wartatransparansi.com— Komoditas perkebunan tidak hanya berhenti sebagai bahan baku industri besar. Di tangan yang kreatif, kelapa sawit, kelapa, kakao, hingga limbahnya dapat diolah menjadi produk UMKM yang bernilai ekonomi tinggi. Semangat inilah yang menjadi inti dari kegiatan Workshop Produk UMKM Berbahan Komoditas Perkebunan yang diselenggarakan oleh Politeknik LPP bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Kegiatan yang berlangsung pada 20–21 Mei 2026 ini digelar di Auditorium Kampus II Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS). Sebanyak 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 47 mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UNWAHAS dan 53 pegiat UKM Kota Semarang. Kehadiran peserta dari unsur akademik dan pelaku usaha menjadikan workshop ini sebagai ruang temu antara pengetahuan, pengalaman lapangan, dan peluang bisnis berbasis perkebunan.

Dalam sambutannya, Direktur Politeknik LPP, Bapak M. Mustangin, menyampaikan bahwa penguatan UMKM berbasis komoditas perkebunan merupakan langkah penting untuk memperluas manfaat sektor perkebunan bagi masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadirkan pengetahuan, teknologi, dan pendampingan agar bahan-bahan perkebunan dapat diolah menjadi produk yang lebih inovatif.

“Kegiatan ini bukan sekadar workshop tetapi juga bagian dari upaya membangun cara pandang baru terhadap sektor Perkebunan, komoditas perkebunan perlu dilihat sebagai sumber inspirasi usaha yang dapat dikembangkan oleh mahasiswa, pelaku UKM, dan masyarakat luas.” Ujarnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Direktur Utama BPDP yang diwakili oleh Bapak Anwar Sadad, selaku Tim Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM. Dalam kesempatan tersebut, beliau menjelaskan bahwa BPDP terus mendukung berbagai program pengembangan sumber daya manusia, termasuk pemberdayaan UMKM yang memanfaatkan bahan berbasis perkebunan. ‘Keberadaan UMKM memiliki peran penting dalam memperkuat hilirisasi sektor perkebunan.

Melalui peningkatan kapasitas, pendampingan, dan kolaborasi, pelaku UMKM diharapkan mampu menghasilkan produk yang tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru di tingkat masyarakat.’ ujarnya.

Sementara itu, Rektor UNWAHAS, Bapak Helmy Purwanto, dalam sambutannya menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini. Beliau menyampaikan bahwa UNWAHAS sangat terbuka terhadap kolaborasi yang mendorong peningkatan kapasitas mahasiswa dan masyarakat, khususnya dalam bidang kewirausahaan berbasis potensi lokal.

“Sektor UKM telah terbukti menjadi salah satu sektor yang paling mampu bertahan ketika terjadi goncangan ekonomi, oleh karena itu penguatan UKM melalui inovasi produk berbasis komoditas perkebunan menjadi langkah yang relevan dan strategis”, ujarnya.

Memasuki sesi materi, Bapak Edi Gunawan, dosen Agribisnis UNWAHAS, menjadi narasumber pertama dengan topik peluang pengembangan produk UKM berbahan sawit, kelapa, dan kakao.

“Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa komoditas tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, mulai dari produk pangan, minuman, kosmetik sederhana, hingga kerajinan. ‘Pelaku UMKM perlu memahami potensi pasar, karakter bahan baku, dan strategi pengembangan produk berbahan komoditas perkebunan agar mampu bersaing”, ujarnya.

Materi kedua disampaikan oleh praktisi digital promotion, Bapak Muhammad Anik. Praktisi promosi digital ini mengajak peserta untuk memahami bahwa keberhasilan produk UMKM tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam membangun citra dan menjangkau konsumen.

Pemanfaatan media sosial, konten visual, cerita produk, serta promosi digital yang konsisten menjadi kunci agar produk lokal mampu dikenal lebih luas’, ujarnya.

Pada sesi berikutnya, Bapak Azhari Rizal dari Politeknik LPP menyampaikan materi mengenai produk UKM berbahan limbah sawit. Beliau memaparkan bahwa limbah perkebunan bukan semata-mata sisa produksi, tetapi dapat menjadi bahan potensial untuk dikembangkan menjadi produk baru. Pemanfaatan limbah sawit, misalnya, dapat mendukung lahirnya produk kreatif sekaligus memperkuat praktik usaha yang ramah lingkungan.

Sesi diskusi menjadi salah satu bagian yang paling hidup dalam kegiatan ini. Didampingi oleh Tim UMKM Politeknik LPP, peserta aktif bertukar gagasan mengenai berbagai potensi bahan perkebunan yang dapat diolah kembali.

Diskusi berkembang dari pemanfaatan hasil utama perkebunan, peluang pengolahan limbah, tantangan pemasaran, hingga kebutuhan pendampingan bagi pelaku UKM. Suasana diskusi menunjukkan bahwa inovasi produk berbasis perkebunan masih memiliki ruang yang sangat luas untuk digali. Salah satu peserta dari mahasiswa Program Studi Agribisnis UNWAHAS mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan ini.

“Workshop ini membuat kami melihat komoditas perkebunan dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata banyak bahan yang bisa dikembangkan menjadi produk usaha. Ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin belajar agribisnis secara lebih nyata,” ujarnya.

Komentar positif juga disampaikan oleh salah satu pegiat UKM Kota Semarang. ‘Kami jadi mendapat ide baru tentang bahan perkebunan dan limbah yang masih bisa dimanfaatkan. Materinya mudah dipahami dan sangat dekat dengan kebutuhan pelaku UKM,’ ungkapnya.

Melalui workshop ini, Politeknik LPP dan UNWAHAS mengucapkan terimakasih kepada BPDP atas dukungan dalam pelaksanaan kegiatan ini, hal ini menunjukan pentingnya kolaborasi dalam memperkuat UMKM berbasis komoditas perkebunan. Ketika ilmu, kreativitas, dan kolaborasi bertemu, komoditas perkebunan dapat tumbuh menjadi peluang usaha yang menggerakkan ekonomi rakyat. (*)

Penulis: Amin Istighfarin