BLITAR (Wartatransparansi.com) – Investasi perbenihan jagung akan menumbuhkan optimisme petani dan perkuat ekonomi daerah. Hal ini terlihat ketika pertemuan rutin Himpunan Produsen Pedagang Benih (HPPB) Blitar yang digelar di PT Enam Sembilan Benih, Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun, Jumat (23/01/2025)
Investasi tersebut dinilai strategis karena tidak hanya mendorong sektor pertanian, tetapi juga membuka peluang Blitar menjadi pusat pembenihan jagung unggulan nasional.
PT Enam Sembilan Benih yang mulai beroperasi sejak Oktober 2025 menilai Kabupaten Blitar sebagai wilayah strategis dengan kondisi iklim yang ideal untuk menghasilkan benih jagung berkualitas.
Direktur PT Enam Sembilan Benih, Reza Nugraha, menjelaskan bahwa perusahaan tersebut telah dipersiapkan sejak 2021, dengan pembangunan fisik dimulai pada Oktober 2023 hingga akhirnya resmi berproduksi pada 2025.
“Blitar memiliki iklim yang sangat ideal untuk pembenihan jagung. Dengan mendekatkan industri ke lokasi tanam, kualitas benih lebih terjaga dan rantai pasok menjadi lebih pendek. Petani lokal juga kami libatkan secara langsung,” kata Reza.
Menurutnya, efisiensi rantai pasok menjadi faktor utama dalam menjaga mutu benih sekaligus menekan biaya distribusi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh petani mitra yang memperoleh nilai tambah secara ekonomi.
Reza menegaskan bahwa penggunaan teknologi dan mesin modern tidak serta-merta membuat harga benih menjadi mahal. Seluruh aspek produksi telah diperhitungkan secara ekonomi agar tetap terjangkau bagi petani.
“Kami tidak mungkin menjual benih jauh di atas harga pasar. Harga tetap kompetitif dan disesuaikan dengan kemampuan petani,” tegasnya.
Saat ini, distribusi benih PT Enam Sembilan Benih difokuskan di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung. Untuk pemasaran, perusahaan menerapkan dua skema, yakni penjualan langsung di pasar bebas serta melalui program bantuan pemerintah yang didukung Kementerian Pertanian.
Harga benih melalui e-katalog tercatat sekitar Rp4.800 per kilogram, sementara harga pasar langsung ke petani berada di kisaran Rp9.500 per kilogram.
Sebagai bagian dari pengembangan produk, PT Enam Sembilan Benih juga telah melakukan uji tanam dan demplot di sejumlah wilayah Kabupaten Blitar, termasuk Blitar Utara. Program tersebut menjadi dasar adaptasi varietas sekaligus peningkatan kualitas hasil pembenihan.
Dalam skema kemitraan, harga beli hasil panen petani mengikuti mekanisme pasar. Meski demikian, perusahaan menegaskan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan keadilan bagi petani.
“Jika musim kurang baik dan hasil panen menurun, tentu ada kebijakan khusus. Prinsipnya tetap adil bagi petani,” ujarnya.
Di tengah berkembangnya industri jagung pembenihan, Kabupaten Blitar masih menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan jagung konsumsi untuk pakan ternak. Sebagai salah satu daerah dengan populasi peternak ayam yang besar, keseimbangan antara produksi jagung pembenihan dan jagung konsumsi menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian ke depan.
Sementara itu, Bupati Blitar, Rijanto mengatakan keberadaan industri pembenihan jagung tersebut layak didukung karena merupakan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang telah mengantongi perizinan sejak tahun 2021.
“Investasi ini tidak menjual benih di bawah harga pasar, memberikan kontribusi pajak bagi daerah, dan menjadi peluang besar menjadikan Kabupaten Blitar sebagai pusat pembenihan unggulan,” ujar Rijanto.
Ia menambahkan, keberadaan industri perbenihan juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui kemitraan yang berkelanjutan.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Blitar, Setiana, menilai industri perbenihan jagung dapat menjadi acuan pengembangan sektor benih di daerah.
“Selain untuk pasar bebas, produk benih ini juga berpotensi mencukupi kebutuhan benih petani di Kabupaten Blitar. Dampaknya tentu positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya. (*)







