KEDIRI – Sabtu pagi itu, jarum jam belum lagi menunjuk pukul 07.15 WIB. Di pelataran bekas gedung Pacific, Jalan Stasiun Kota Kediri, bau asap knalpot bercampur dengan sisa embun pagi. Beberapa jam sebelum rute jalanan kota dipadati hilir mudik warga, belasan sepeda roda dua telah berbaris rapi.
Di sana, para juru warta yang biasa bergelut dengan tenggat waktu berita harian berkumpul dalam satu wadah yang mereka sebut GARANG (Gabungan Sembarang.red).
Mereka tidak sedang mengejar peristiwa kejahatan atau konferensi pers formal, melainkan hendak menyisir kembali sudut-sudut kota yang kerap terlewati oleh pandangan mata.
Sebelum mesin motor dinyalakan, Adi Sutrisno, Kepala Divisi Pariwisata Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Kediri, berdiri di tengah lingkar peserta. Ia memberikan instruksi singkat, memetakan rute yang akan menguji bagaimana aset-aset wisata daerah ini saling terhubung.
Begitu tuas gas ditarik, rombongan bergerak membelah kota.
Deru mesin beriringan menyusuri kawasan Sumur Bor, melintas di depan Rumah Sakit Baptis, lalu tertahan sejenak oleh ritme lampu lalu lintas di Perempatan Ngronggo dan Perempatan Kakso. Rute beton dan aspal itu perlahan berganti menjadi rindang pepohonan saat rombongan membelokkan setang menuju persinggahan pertama: Sumber Jiput yang berada di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri.
Di objek wisata alam tersebut, suara bising lalu lintas perkotaan mendadak senyap, berganti gemericik air dan rindangnya pepohonan lokal yang selama ini memendam potensi tersembunyi.
“GARANG pada intinya adalah gabungan dari beberapa elemen jurnalis,” kata Budi Arya, Ketua GARANG, sembari memandangi lanskap yang baru saja mereka lalui, 31 Oktober 2026.
Helmnya baru saja dilepas, memperlihatkan raut wajah yang menaruh harapan besar pada kawasan tersebut.
“Kami bersinergi untuk mengangkat potensi wisata Kota Kediri. Harapannya, potensi yang belum terjelajah dan belum dipoles bisa termotivasi. Rute tadi adalah aset yang patut diapresiasi agar kelak menjadi paket wisata terintegrasi secara nyata,” terang Budi.
Perjalanan dilanjutkan. Rombongan kembali melaju melintasi jantung sejarah dan spiritualitas Kota Kediri: menyisir Alun-Alun, melintas perlahan di depan Kelenteng Tjhoe Hian Kiong yang anggun, menyeberangi lekukan Jembatan Brawijaya, hingga melintasi kesegaran Taman Sekartaji.
Tujuan akhir perjalanan ini bermuara di kaki bukit: kawasan wisata sejarah Gua Selomangleng.
Setibanya di pelataran Gua Selomangleng, debu perjalanan menempel di jaket para pengendara. Namun suasana berganti menjadi riuh ketika panitia mengumumkan barisan jurnalis yang dinilai menampilkan etika dan teknik riding terbaik sepanjang rute.
Satu per satu nama dipanggil ke depan untuk menerima trofi dan uang pembinaan. Didik Mashudi dari Porosnews keluar sebagai penerima penghargaan utama, disusul oleh Muji Harjito (Harian Bangsa) di tempat kedua, dan Timo (Gaung Media) di posisi ketiga. Dua posisi berikutnya diisi oleh Ade (Pojok Kiri) serta Winta (Jatimnet).
Namun, perjalanan roda dua pagi itu hanyalah muasal dari kerja yang lebih panjang. Di lokasi yang sama, sebuah kompetisi karya tulis jurnalistik bertema “Potensi Wisata Kota Kediri” resmi diluncurkan. Para wartawan ditantang untuk meracik pengalaman lapangan mereka menjadi laporan mendalam yang kelak dinilai pada agenda mendatang.
Matahari makin meninggi di atas Gua Selomangleng ketika riuh acara perlahan mencair menjadi diskusi lesehan yang santai namun mendalam.
Di bawah naungan pepohonan lereng gua, para wartawan duduk melingkar bersama jajaran Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri. Kepala Disbudparpora Un Achmad, didampingi Sekretaris Dinas Miko Mardianto serta Kabid Pariwisata Fransiskus Yeriastika Soemartono, mendengarkan catatan-catatan kritis sekaligus masukan dari para jurnalis yang baru saja melintasi rute pariwisata tersebut.
Dari perjumpaan di Jalan Stasiun hingga obrolan hangat di kaki Gua Selomangleng, sabtu pagi itu mencatat satu hal: upaya menghidupkan pariwisata daerah tidak selalu dimulai dari balik meja rapat yang kaku, melainkan dari deru roda yang menyusuri sudut-sudut kota dan ketajaman pena yang mencatatnya.(*)







