banner 400x130
Lapsus  

Penguatan Wartawan melalui OKK di Sumbawa (2)

Dari Makanan Khas sampai Diskusi Car Free Night

Sudah menjadi kebiasaan setiap datang ke daerah, apalagi di daerah yang perjalanan selama 2 jam lebih dari Poto Tano, hampir sama dengan perjalanan dari Atmabua ke Dili ibu kota Timor Leste, sebelah kiri menyaksikan pemandangan laut dengan kadang-kadang menemukan semacam teluk begitu indah, dan sebelah kanan banyak bukit-bukit sudah mulai agak gersang, karena lama tidak disiram air hujan.

Tahun 2012, bersama rombongan Komisi Tinju Indonesia Jawa Timur, atas undangan insan tinju Timor Leste dengan prakarsa isteri (mendiang) Thomas Americo, petinju legendaris hidup di Malang Jawa Timur, melakukan pertukaran pengalaman dan pengetahuan tentang tinju profesional, tentu saja asyik sekali ketika
perjalanan darat dari Atambua (Belu, Nusa Tenggara Timur) ke perbatasan Timor Leste. Apalagi waktu itu Kupang dan Atambua sudah bersolek, sementara masuk Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, agak kurang mendapat perhatian walaupun administrasi lancar-lancar saja.

Oh iya, pertengahan perjalanan sebelum menuju Pelabuhan Kayangan, mampir dulu ke warung makanan legendaris, Ayam Rarang.

Ketua PWI Nusa Tenggara Barat (NTB) Ahmad Ikliluddin menceritakan bahwa Ayam Rarang ini, kuliner khas Lombok. Seperti Ayam Taliwang, nama khas diambil dari nama Desa yang mulai mengenalkan dan mempopulerkan makanan itu.

Asal usul Ayam Rarang sebagai kuliner khas Lombok, kata Iklil, merupakan hidangan ayam tradisional yang berasal dari Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur, dan populer di berbagai wilayah NTB (seperti Mataram).

Ketika disajikan secara bersamaan yaitu; nasi, Ayam Rarang dalam bentuk masakan merah, Ayam Rarang digoreng dengan sambal khas dicampur irisan kacang panjang dan terong mentah, juga sayur bening dari kelor.

Ayam Rarang terbuat dari ayam kampung yang dibakar atau diasapi terlebih dahulu sebelum dimasak kembali dengan bumbu cabai kering khas Lombok, bawang putih, kemiri, terasi bakar, dan gula aren.

Rasanya, begitu nikmat setelah perjalanan sekitar 1 jam dari bandara makan kuliner khas Ayam Rarang, sangat nikmat. Dan selanjutnya perjalanan menuju Pulau Sumbawa ditempuh melalui jalur darat menuju Pelabuhan Kayangan (Lombok Timur) hingga antri sebelum menyeberang dengan kapal feri ke Pelabuhan Poto Tano (Sumbawa Barat).

Seperti naik kapal feri dari Gilimanuk ke Ketapang atau sebaliknya, menyeberang dari Pelabuhan Kayangan ke Poto Tano, kadang juga mengalami ombak agak lumayan, sehingga kapal terasa bergoyang. Itulah asyiknya naik kapal feri menyeberang agak jauh, apalagi menyaksikan ada penumpang sengaja membawa tikar kemudian menggelar dan tidur di ruangan ber-AC. Juga mobil khusus memuat buah duren, dan wisatawan manca negara yang akan berselancar menuju Dompu.

Sebelum sampai ke Kota Sumbawa sekitar 1 jam kurang, juga hampir dulu ke makanan khas transmigrasi dari Mataram ke Sumbawa,
di Desa Rhee, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Rhee, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kata “Re” atau “Rhee” secara historis berasal dari bahasa setempat yang berarti ilalang.

Beberapa warung tradisional khusus menjual jagung rebus dengan rasa katanya “jagung ketan”, disertai minuman kelapa muda, atau lainnya. Perjalanan jadi sangat bermakna. Begitu mengasyikkan dan berkesan.

Kebiasaan lain ialah ketika makan malam, selalu berdiskusi apa saja yang menjadi ikon dan kebanggan di kota tempat tujuan. Dan Sabtu malam (24/10/2026) ketika dijamu makan malam di rumah Dinas, Wakil Bupati Sumbawa,
Drs. H. Mohamad Ansori, bersama rombongan Pengurus PWI NTB, Sumbawa, Bima, dan Dompu,
pembicaraan berkaitan dengan peran wartawan dalam mendukung ratusan UMKM pada Car Free Night (CFN) di Titik Nol KM Sumbawa, yang kini jadi Destinasi Baru Malam Minggu. Tentu berbagai pikiran positif menjadikan CFN pioner program yang sejenis.

Seperti diketahui, CFN merupakan salah satu program Pemerintahan Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP dan Wakil Bupati, Drs. H. Mohamad Ansori (Jarot-Ansori) dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dengan ujung tombak UMKM. . (Jt/bersambung)