SURABAYA – DPRD Jawa Timur menggelar wayang kulit semalam suntuk di depan Kantor DPRD Jatim, Jalan Indrapura, Surabaya, Kamis (29/10/2026) malam ini. Tujuannya, melestarikan seni tradisional sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur.
Ketua DPRD Jatim, Musyafak Rouf, mengatakan pelestarian seni dan budaya daerah perlu terus mendapat ruang di tengah masyarakat. Menurutnya, wayang kulit bukan sekadar warisan leluhur, melainkan juga media penyampaian nilai moral, filosofi kehidupan, dan kearifan lokal yang tetap relevan lintas generasi.
“Melalui pagelaran wayang kulit ini, kami ingin ikut menjaga agar seni dan budaya tradisional tetap lestari serta dikenal oleh generasi muda. Budaya merupakan bagian dari jati diri bangsa yang harus dirawat bersama,” kata Musyafak saat dihubungi, Kamis pagi.
Ia menegaskan, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk lembaga pemerintahan. Salah satu upayanya dengan menghadirkan pertunjukan tradisional di ruang publik agar masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal dan menikmati warisan budaya bangsa.
“Wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Di dalamnya ada nilai moral, filosofi kehidupan, dan kearifan lokal yang tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini,” ujarnya.
Pagelaran Wayang Kulit DPRD Jatim 2026 dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai. Pertunjukan tersebut menghadirkan dalang Ki Arif Sarjono dengan lakon Wahyu Jitabsara.
Selain pertunjukan wayang kulit, acara ini juga dimeriahkan Cak Percil Cs, Abah Kirun, dan Guyon Maton. Kehadiran para pengisi acara tersebut diharapkan dapat menarik minat berbagai kalangan, termasuk generasi muda, untuk mengenal dan mencintai seni pewayangan.
Musyafak berharap kegiatan semacam ini dapat menjaga kedekatan budaya tradisional dengan kehidupan masyarakat. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak hanya mengenal wayang sebagai cerita masa lalu, tetapi juga memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Selain menjadi ruang apresiasi seni, pagelaran tersebut diharapkan memperkuat hubungan DPRD Jatim dengan masyarakat. Pendekatan budaya dinilai dapat menjadi ruang perjumpaan yang terbuka sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa pelestarian tradisi merupakan tanggung jawab bersama.
Masyarakat, khususnya warga Surabaya dan sekitarnya, diundang menyaksikan pertunjukan tersebut secara langsung tanpa dipungut biaya.
Mengusung semangat Merawat Tradisi, Melestarikan Budaya, dan Menguatkan Jati Diri Bangsa, pagelaran ini diharapkan menjadikan wayang kulit tetap hidup, berkembang, dan dicintai lintas generasi. (*)







