banner 400x130
Lapsus  

Penguatan Wartawan melalui OKK di Sumbawa (1

Dari Subuh sampai Maghrib tiba di Sumbawa

Djoko Tetuko

Juni 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bidang Organisasi Kewartawanan dan Keanggotaan melalui proses organisasi di PWI Pusat, memperkuat program Orientasi Kewartawan dan Keorganisasian (OKK) dengan mengesahkan Peraturan Organisasi tentang OKK.

Tidak kurang 13 materi umum disampaikan kepada peserta dengan harapan sebagai penguatan kewartawan dan keanggotaan PWI. Undang Undang Pers, UU terkait kerja wartawan serta karya jurnalistik, sejarah PWI, Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PWI, Kode Etik Jurnalistik, Kode Perilaku Wartawan, Asas Praduga Tak Bersalah, Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, Pedoman Pemberitaan Media Siber, Dewan Kehormatan, Standar Kompetensi Wartawan Muda, Madya, dan Utama.

Kegiatan OKK PWI berlangsung di Sumbawa pada hari Minggu (25 Oktober 2026), diikuti 51 wartawan senior dan wartawan yang akan menjadi anggota PWI, mengingat salah satu syarat menjadi anggota PWI dengan Kartu Tanda Anggota Muda, salah satunya ialah harus sudah mengikuti OKK dengan bukti sertifikat.

Pelaksanaan OKK PWI, sangat menarik, diskusi berbagai permasalahan kewartawan dan pers akhir-akhir ini mencuat dengan gayeng, bahkan masalah “menghalangi” kerja wartawan hingga cara-cara menuju kematian media dalam berbagai modus ketika kontrol sosial dijalankan dengan sungguh-sungguh, terungkap.

Demikian juga masalah penyalahgunaan profesi wartawan, dengan berbagai modus juga terungkap. Bahkan melebihi dari prediksi awal. Dimana dengan membuat media asal-asalan, bahkan dari media itu menerbitkan Kartu Pers tanpa diketahui kompetensi profesi yang merekomendasi menerbitkan ID Card Kewartawanan itu.

Tentu saja yang tidak kalah menarik dalam suasana OKK PWI, membahas beberapa problimetika pers, perusahaan pers, dan wartawan atau jurnalis sebagai penulis karya jurnalistik.

Perjalanan menuju kegiatan OKK PWI di Sumbawa, tidak kalah menarik, berangkat dari sebelum Subuh dari rumah dan sholat Subuh di Masjid di kawasan Tebel Gedangan Sidoarjo, kemudian terbang dari Bandara Juanda menuju Lombok Raya.

Alhamdulillah semua berjalan lancar-lancar saja, setelah sampai di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), dijemput Ketua PWI Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Ikliluddin, Sekretaris PWI NTB Fahrul Mustofa, Ketua Dewan Kehormatan PWI NTB Haji Syukur, dan Kepala Sekretariat kantor PWI NTB Arief Rahman. Kemudian bersama-sama dengan mobil menuju Pelabuhan Kayangan. Sampai di pelabuhan jalur menyeberang menuju Sumbawa sekitar pukul 11:20 WITA, sudah menjadi pengetahuan umum maka antrilah menunggu giliran kapal feri datang, dan tertib sesuai urutan.

Alhamdulillah, akhirnya naik kapal feri sesuai giliran. Ketika laju kapal mulai sedikit pelan ternyata sampai di tengah lautan ombak agak besar, maka laju kapal dikondisikan tidak terlalu cepat, sehingga sekitar 2 jam lebih menyeberang sampai pelabuhan Poto Tano Sumbawa Barat.

Perjalanan darat dari Pelabuhan Poto Tano Sumbawa Barat, menuju Kota Sumbawa Besar sekitar 92,9 km dengan waktu tempuh normal kurang lebih 2 jam lebih, tentu saja sesuai harapan teman-teman wartawan Sumbawa Besar, terutama Ketua PWI Sumbawa Zainuddin, lebih dahulu menikmati jagung dan degan (kelapa muda) di Desa Rhee, dan kami sampai di Hotel Samawa Rea, tepat adzan Maghrib. Bagaimana perjalanan dari sebelum Subuh sampai Maghrib, dan perjalan

an paling berkesan dengan makan makanan kuliner khas dan goyang ombak di kapal penyeberangan. (Jt/bersambung)