banner 400x130
Kediri  

Imam Wihdan Zarkasyi Dorong Perda Jalan, Keselamatan Pelajar di Kota Kediri Menjadi Sorotan

Reses DPRD Kota Kediri bersama Imam Wihdan Zarkasyi membahas keselamatan pelajar dan transportasi sekolah.
Anggota DPRD Kota Kediri Imam Wihdan Zarkasyi (tengah) dalam kegiatan reses di Gedung Local Education Centre (LEC) Muhammadiyah, Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Rabu (14/10/2026). Reses tersebut menjaring aspirasi terkait keselamatan pelajar dan kebutuhan transportasi sekolah yang aman serta terjangkau.(Foto: Moch Abi Madyan).

KEDIRI – Keselamatan pelajar di Kota Kediri menjadi perhatian Anggota DPRD Kota Kediri dari Fraksi Partai Golkar, Imam Wihdan Zarkasyi. Dia mendorong penataan fasilitas jalan dan penyediaan transportasi sekolah yang aman serta terjangkau sebagai pendamping kebijakan pembatasan kendaraan bermotor bagi pelajar.

Persoalan tersebut mengemuka dalam reses bertema Kolaborasi–Transformasi di Gedung Local Education Centre (LEC) Muhammadiyah, Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto.

Forum itu menghimpun aspirasi guru, wali murid, tokoh masyarakat, dan pegiat transportasi mengenai keselamatan siswa saat berangkat dan pulang sekolah.

Politisi yang akrab disapa Pak Lek Imam mengatakan, kebijakan pembatasan kendaraan bagi pelajar perlu diikuti solusi transportasi yang memadai. Menurut dia, aturan tidak akan berjalan efektif jika pemerintah belum menyediakan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan orang tua.

“Masukan dari guru, wali murid, dan pegiat transportasi kami tampung untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi di lapangan. Aturan harus disertai solusi agar anak-anak bisa berangkat dan pulang sekolah dengan nyaman,” ujarnya, Rabu 14 Oktober 2026.

Dia menilai layanan bus sekolah dan angkutan umum masih perlu dioptimalkan, terutama dari sisi jumlah armada, rute, dan jangkauan menuju sekolah. Salah satu alternatif yang mengemuka ialah pemanfaatan ojek online, meski biayanya berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per siswa per hari sehingga perlu dipertimbangkan agar tidak membebani keluarga.

Sejumlah usulan lain meliputi penambahan armada dan rute Bus Satria, perluasan halte, serta perbaikan Zona Selamat Sekolah (ZoSS). Pak Lek Imam menyebut aspirasi tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan Peraturan Daerah tentang Jalan Kota dan Peraturan Daerah tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan melalui Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bappemperda).

Regulasi tersebut diharapkan dapat menjadi landasan penataan standar jalan kota, termasuk penyediaan trotoar, jalur sepeda, halte, dan fasilitas keselamatan di sekitar sekolah.

Trotoar sekolah jadi sorotan

Kepala SMP Katolik Mardhi Wiyata Kediri, Frater Agustinus, Bhk, menyoroti kepadatan lalu lintas di sekitar sekolah yang berhadapan dengan Rumah Sakit Nirmala. Dia mengatakan, aktivitas berjualan di trotoar dan badan jalan mengganggu akses kendaraan orang tua siswa.

“Trotoar di depan sekolah digunakan untuk berjualan, bahkan sampai ke badan jalan. Kondisi di sekitar Rumah Sakit sangat padat dan mengganggu orang tua saat keluar-masuk di SDK Frateran 1 dan SMP,” ungkap Frater.

Dia meminta pemerintah menata lalu lintas dan memperbaiki fasilitas keselamatan, termasuk trotoar, zebra cross, ZoSS, rambu, serta penerangan jalan. Frater juga mendorong koordinasi pemerintah daerah, sekolah, kepolisian, dan masyarakat untuk mencegah perundungan, kekerasan, serta potensi penculikan anak.

Pihak sekolah berharap program Anak Aman ke Sekolah masuk dalam perencanaan dan penganggaran daerah secara berkelanjutan.

Pak lek Imam menegaskan, seluruh masukan akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut agar kebijakan yang disusun tidak hanya mengatur perilaku berkendara, tetapi juga menjawab kebutuhan transportasi dan keselamatan pelajar di Kota Kediri.

Dengan adanya penjaringan masukan ini, Pemkot Kediri dan DPRD berharap kebijakan transportasi pelajar yang dihasilkan mendatang dapat berjalan secara efektif, aman, serta tidak memberatkan para orang tua murid.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan