PASURUAN – Sebanyak 1.334 taruna dan taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur resmi menyandang baret setelah menuntaskan masa basis ketarunaan selama kurang lebih tiga bulan.
Prosesi pembaretan berlangsung di Pusdik Brimob Watukosek, Pasuruan, Kamis (8/10), dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertindak sebagai Inspektur Upacara.
Para taruna dan taruni tersebut berasal dari SMAN Taruna Nala Jawa Timur sebanyak 201 orang, SMAN 3 Taruna Angkasa Jawa Timur 270 orang, SMAN 2 Taruna Bhayangkara Jawa Timur 245 orang, SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur 270 orang, SMAN Taruna Madani Jawa Timur 135 orang, serta SMAN 2 Taruna Pamong Praja Jawa Timur 213 orang.
Prosesi ditandai dengan penyiraman air bunga, penyematan baret, serta lencana bela negara oleh Gubernur Khofifah yang didampingi Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI.
Khofifah mengatakan, pembaretan bukan sekadar seremoni atau pergantian atribut. Baret menjadi simbol keberhasilan para taruna melewati proses pembentukan disiplin sekaligus awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
“Pembaretan hari ini bukan sekadar seremoni. Baret yang kalian kenakan adalah simbol proses, perjuangan, disiplin sekaligus tanggung jawab,” kata Khofifah.
Menurutnya, masa basis selama tiga bulan telah melatih para taruna menjalani kehidupan yang lebih teratur, mandiri dan disiplin. Namun, keberhasilan pendidikan ketarunaan tidak hanya diukur dari kemampuan menjalankan rutinitas, tetapi juga perubahan pola pikir, sikap, pengendalian diri, solidaritas dan tanggung jawab.
Khofifah menekankan pendidikan ketarunaan di Jawa Timur harus berlangsung dalam ekosistem yang humanis. Ia menegaskan tidak boleh ada kekerasan, perundungan atau bullying, maupun senioritas yang merendahkan martabat peserta didik.
“Disiplin tidak identik dengan kekerasan. Ketegasan harus berjalan bersama keteladanan, dan kepemimpinan harus tumbuh bersama rasa hormat kepada sesama,” tegasnya.
Selain kedisiplinan, Khofifah meminta para taruna membekali diri dengan kemampuan berpikir kritis, adaptif dan penguasaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, perkembangan teknologi harus diimbangi integritas dan karakter yang kuat.
Ia menyebut para taruna dan taruni merupakan bagian dari generasi yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Karena itu, enam SMAN Taruna Jawa Timur diharapkan tidak hanya mencetak peserta didik berprestasi secara akademik, tetapi juga calon pemimpin yang memiliki karakter, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, spiritualitas dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam kegiatan tersebut, Khofifah juga menyerahkan piagam penghargaan kepada 12 taruna dan taruni atas capaian selama masa basis. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan drum corps dan defile taruna-taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur. (*)







