banner 400x130

Jenguk Korban di RSI Siti Hajar, Khofifah Minta Tata Kelola MBG Dievaluasi

SIDOARJO, Wartatransparansi.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjenguk para santri yang diduga menjadi korban keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar, Sidoarjo, Kamis (3/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Khofifah meminta seluruh pihak melakukan evaluasi dan pembenahan terhadap tata kelola pelaksanaan MBG.

Khofifah mengecek langsung kondisi para pasien yang masih menjalani perawatan. Ia berdialog dengan sejumlah pasien dan memastikan mereka memperoleh penanganan medis dengan baik.

Khofifah juga mendoakan seluruh korban yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya agar segera pulih. Ia sekaligus menyampaikan apresiasi kepada tenaga medis dan seluruh pihak yang memberikan penanganan kepada para korban.

“Anak-anak yang dirawat juga mudah-mudahan terus sehat, semua rumah sakit yang memberikan penanganan kami menyampaikan terima kasih,” ujar Khofifah.

Menurut Khofifah, kejadian tersebut menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap implementasi MBG. Program prioritas nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto itu dinilai memiliki tujuan strategis dalam meningkatkan kualitas gizi generasi penerus bangsa.

“Jadi memang kita harus terus berbenah, semua lini harus melakukan monitoring dan pengawasan sekaligus merekomendasikan tidak hanya kepada BGN tetapi juga kepada SPPG setempat,” katanya.

Khofifah mengatakan pengelolaan MBG membutuhkan manajemen dan pengawasan yang cermat, mulai dari pemilihan bahan makanan, proses pengolahan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi penerima manfaat.

Menurut dia, ketepatan waktu distribusi menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan. Makanan yang telah selesai dimasak memiliki batas waktu aman untuk dikonsumsi sehingga proses pengiriman harus disesuaikan dengan waktu makan penerima manfaat.

“Ini kasusnya dimasak bersama dengan format yang sama. Yang pengirimannya relatif lebih awal itu aman. Tapi yang pengirimannya terlambat ini yang kemudian menjadikan masalah,” ungkapnya.

Khofifah menyebut para korban menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. SPPG tersebut diketahui menyalurkan makanan kepada 18 unit penerima manfaat.

Namun, menurut Khofifah, tidak seluruh penerima manfaat dari SPPG tersebut mengalami persoalan. Perbedaan waktu pengiriman dan konsumsi makanan diduga menjadi salah satu faktor yang perlu dievaluasi.

“Saya tanya ada Kadinkes, ada Kakankemenag yang mendapatkan manfaat dari SPPG yang sama itu ada 18 unit, dari 18 unit yang lain relatif semua berjalan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, terdapat makanan yang baru dikirim sekitar pukul 11.00 WIB atau lebih dan kemudian dikonsumsi sekitar pukul 12.30 hingga 13.00 WIB. Kondisi tersebut, kata Khofifah, perlu menjadi bahan evaluasi dalam pengelolaan distribusi MBG.

Di RSI Siti Hajar, tercatat 27 pasien sedang menjalani perawatan. Dari jumlah tersebut, 24 pasien dinyatakan dalam kondisi baik dan diperbolehkan pulang pada Kamis pagi. Sementara tiga pasien lainnya masih menjalani observasi dokter.

“Dari 27 itu, 24 insyaallah clear pagi ini bisa pulang, yang tiga nunggu observasi lagi, tapi mudah-mudahan sore juga bisa pulang. Jadi insyaallah mereka sudah dalam kondisi baik,” kata Khofifah.

Ia mengatakan sejumlah pasien sebelumnya mengeluhkan mual dan pusing. Pasien baru diperbolehkan pulang setelah keluhan tersebut dinyatakan hilang dan kondisi kesehatan mereka dinilai membaik.

Kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo terjadi pada Selasa (1/9/2026). Berdasarkan data per 2 September 2026 pukul 22.00 WIB, total terdapat 664 korban yang mendapatkan penanganan medis.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 77 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, 581 pasien menjalani rawat jalan, dan enam pasien masih dalam observasi.

Para korban mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya RSUD N.T. Notopuro, RS Delta Surya, RSI Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St. Fatimah, RS Pusdik Bhayangkara, RS Arafah Anwar Medika, RS Anwar Medika, RS Assakinah Medika, Puskesmas Porong, RS Rahman Rahim, Puskesmas Tanggulangin, serta sejumlah praktik dokter dan bidan. Sebagian korban juga mendapatkan penanganan di lingkungan pesantren.

Korban terbanyak berasal dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Sidoarjo. Selain pesantren tersebut, terdapat 18 lembaga pendidikan lain yang menerima makanan dari SPPG Kali Tengah pada hari yang sama.

Sementara itu, Priani (43), ibu salah satu pasien, Muhammad Zaidan Maulana, siswa kelas XII Madrasah Aliyah, mengapresiasi perhatian Khofifah terhadap para korban.

Ia berharap kejadian tersebut menjadi yang terakhir dan tidak kembali terjadi dalam pelaksanaan program MBG.

“Alhamdulillah saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah atas perhatiannya terhadap anak-anak yang tertimpa musibah. Senanglah kami mendapat perhatian dari pemimpin Jawa Timur. Mudah-mudahan jangan terulang lagi, ini yang terakhir,” ujar Priani. (fir/min)