banner 400x130
Kediri  

Strategi BI Kediri Kawal UMKM Mataraman Tembus Pasar Ekspor dan Cetak Transaksi Milyaran Rupiah

Empat wanita, termasuk perwakilan UMKM batik binaan KPwBI Kediri dan pejabat BI Kediri, tersenyum bangga di depan stan pameran penuh kain batik dan ecoprint berkualitas.
Wujud Sinergi: Perwakilan UMKM Batik dan Ecoprint binaan KPwBI Kediri bersama Deputi Kepala KPwBI Kediri, Deasi Surya Andarina (dua dari kanan), di stan pameran. Sinergi ini merupakan bagian dari upaya BI Kediri dalam pendampingan dari hulu ke hilir untuk memastikan produk UMKM Mataraman siap menembus pasar global pasca-business matching. (Foto: istimewa).

KEDIRI, WartaTransparansi.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri menyiapkan serangkaian strategi konkret pasca-pencapaian business matching ekspor senilai Rp4,078 miliar dan pembiayaan sebesar Rp7,69 miliar. Langkah ini diambil untuk memastikan komitmen bisnis yang tercapai dalam rangkaian Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 benar-benar terealisasi hingga pengiriman barang dan menciptakan pembelian berulang (repeat order).

Deputi Kepala KPwBI Kediri, Deasi Surya Andarina, menyampaikan bahwa pengawalan terhadap para pelaku UMKM di 13 kabupaten/kota wilayah kerja KPwBI Kediri dilakukan secara intensif dari hulu ke hilir.

“KPwBI Kediri melakukan pendampingan pasca business matching  melalui koordinasi intensif dengan eksportir, buyer, pemerintah daerah, serta instansi terkait,” ujar Deasi, Rabu 26 Agustus 2026.

Ia menambahkan, pengawalan teknis di lapangan mencakup berbagai aspek operasional secara menyeluruh. “Langkah konkret yang kami lakukan antara lain memastikan kesiapan kapasitas produksi UMKM, membantu pemenuhan persyaratan ekspor, memperkuat aspek quality control, serta memfasilitasi konsultasi terkait logistik dan dokumen ekspor. Selain itu, kami juga melakukan monitoring berkala atas tindak lanjut transaksi yang telah disepakati,” jelasnya.

Guna mengantisipasi lonjakan permintaan ekspor secara drastis tanpa mengorbankan stabilitas volume dan standar kualitas produk Mataraman, BI Kediri menerapkan skema kemitraan kolektif dan penguatan mutu usaha.

“Strategi yang kami dorong adalah membangun UMKM yang tidak hanya siap ekspor, tetapi juga siap tumbuh secara berkelanjutan. Selain itu mendorong penguatan kelembagaan dan kemitraan usaha, termasuk pembentukan role model aggregator atau jejaring antar-UMKM sehingga kapasitas produksi dapat saling mendukung ketika terjadi peningkatan permintaan,” papar Deasi.

Peningkatan kompetensi SDM dan akses permodalan juga menjadi fokus utama pendampingan. “Memperkuat aspek standardisasi dan manajemen mutu melalui berbagai program capacity building, sertifikasi, serta penerapan good manufacturing practices sesuai karakteristik produk. Menjembatani akses pembiayaan dan investasi agar UMKM memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengganggu kesehatan usahanya,” tuturnya.

Menanggapi pencapaian business matching pembiayaan senilai Rp7,69 miliar, Deasi menegaskan posisi BI Kediri sebagai fasilitator antara pelaku usaha bankable dengan perbankan nasional.

“Bank Indonesia tidak berada pada ranah pemberian kredit ataupun keputusan pencairan pembiayaan. Kewenangan tersebut sepenuhnya berada pada masing-masing lembaga perbankan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Namun demikian, peran BI adalah menjadi katalisator dan fasilitator agar tercipta pertemuan yang efektif antara UMKM yang bankable dengan lembaga pembiayaan,” ungkap Deasi.

Upaya peningkatan kualitas tata kelola finansial UMKM diselaraskan dengan kebutuhan industri perbankan agar pencairan dana tidak menyulitkan arus kas pelaku usaha. “Kami membantu meningkatkan kualitas UMKM melalui pendampingan, penguatan tata kelola usaha, pencatatan keuangan secara digital (SIAPIK). Kami terus berkoordinasi dengan industri perbankan agar karakteristik dan kebutuhan UMKM dapat dipahami dengan baik, sehingga tersedia alternatif skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan siklus usaha masing-masing sektor. Dengan demikian, peluang realisasi pembiayaan menjadi lebih besar sekaligus tetap mempertimbangkan keberlanjutan usaha UMKM,” terangnya.

Mengenai potensi ketimpangan ekonomi antardaerah, KPwBI Kediri menjamin pemerataan jangkauan program hingga ke wilayah pesisir dan pegunungan seperti Pacitan dan Trenggalek melalui program UMKM Mataraman Tembus Pasar Global & Berdaya Saing (MATARAYA).

“Prinsip yang kami pegang adalah pemerataan manfaat. Potensi ekonomi di wilayah kerja KPwBI Kediri tidak hanya berada di pusat-pusat kota, tetapi juga tersebar di daerah pesisir, pegunungan, maupun sentra-sentra produksi di wilayah kabupaten. Karena itu, pendekatan yang kami lakukan berbasis potensi daerah,” kata Deasi.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi kunci utama BI Kediri merobohkan sekat geografis dalam proses pendampingan. “Kami aktif berkolaborasi dengan pemerintah daerah, perbankan, komunitas UMKM, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menjangkau pelaku usaha hingga tingkat kabupaten. Program onboarding pelatihan digitalisasi, pembayaran digital, pelatihan pemasaran digital, hingga pendampingan UMKM berpotensi ekspor,” jelasnya.

Efektivitas skema pendampingan merata tersebut telah terbukti pada komoditas unggulan daerah. “Kami juga memanfaatkan teknologi digital agar akses pendampingan tidak terhambat oleh faktor geografis. Dari pelatihan tersebut UMKM daerah seperti Pacitan produknya Gula Aren sudah tembus pasar ekspor. Dengan pendekatan tersebut, UMKM di wilayah kerja KPwBI Kediri memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas, mengakses pembiayaan, memperluas pasar, dan pada akhirnya naik kelas hingga menembus pasar ekspor,” tegas Deasi.

Dukungan Skala Nasional dan Program KKM x DIGIMAFest

Sebelumnya dalam rangkaian pembinaan UMKM di wilayah Mataraman ini terintegrasi dengan gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang berlangsung pada 20-23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. KKI 2026 mengusung tema Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing serta melibatkan 27 kementerian/lembaga dan 34 mitra strategis.

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam keterangan resminya menegaskan tiga pilar utama pengembangan UMKM nasional.

“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing. Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya Saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” ungkap Destry.

Di tingkat regional, KPwBI Kediri menggelegarkan semangat tersebut melalui Karya Kreatif Mataraman x Digital Mataraman Festival (KKM x DIGIMAFest) 2026 di Taman Hijau Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri. Ajang yang diikuti 71 UMKM dari 13 kabupaten/kota ini berhasil mencatatkan nilai transaksi penjualan luring dan daring lebih dari Rp500 juta.

Sebanyak 11 UMKM binaan KPwBI Kediri asal Blitar, Pacitan, Kota Kediri, Trenggalek, Madiun, Nganjuk, Tulungagung, dan Ngawi juga turut berpartisipasi secara daring pada ajang KKI 2026 nasional di Jakarta, yang memamerkan produk unggulan seperti kopi, pangan olahan, perikanan, gula aren, wastra, hingga kerajinan.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan