banner 400x130
Blitar  

Tanpa Anggaran Pemerintah, Kontingen Catur Blitar Kota Berangkat Kejurprov Catur Jawa Timur

Atlit Catur Kota Blitar saat berangkat ke Pacitan

BLITAR, WartaTransparansi.com – 17 atlet Catur tingkat SD, SMP dan SMA resmi diberangkatkan mengikuti Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Catur Jawa Timur ke-57 di Kabupaten Pacitan, 8–11 Juli 2026. Pelepasan kontingen berlangsung sederhana di Halaman Kantor Dispora Kota Blitar, Selasa (7/7/2026).

Keberangkatan ini menyimpan perjuangan besar. Anggaran pembinaan olahraga dari Pemkot Blitar hingga kini belum cair ke KONI. Akibatnya, seluruh kebutuhan akomodasi, konsumsi, dan logistik kontingen ditanggung secara gotong royong oleh orang tua, pelatih, official dan pengurus Percasi.

Ketua Umum Percasi Kota Blitar, Mohammad Trijanto, SH, MM, MH, menyatakan keputusan memberangkatkan atlet merupakan tanggung jawab moral organisasi terhadap pembinaan generasi muda.

“Kami menolak kesempatan berlalu hanya karena urusan administrasi. Atlet-atlet ini sudah berlatih keras dan berhak bertanding,” ujar Trijanto yang juga Direktur Revolutionary Law Firm.

Pemkot Blitar baru memberikan satu unit bus untuk transportasi. Sementara kebutuhan lain dipenuhi melalui swadaya. Orang tua atlet menyumbangkan beras, telur, mi instan, dan kebutuhan dapur lainnya. Pelatih dan pengurus bahkan rela mengurangi honor demi memastikan kontingen berangkat.

“Sponsor utama kami saat ini adalah ‘Bank Emak-Bapak’. Jika pulang membawa piala, kami bersyukur. Namun jika belum meraih juara, setidaknya anak-anak pulang membawa pengalaman berharga dari sebuah perjuangan,” tambah Trijanto.

Sekretaris Dispora Kota Blitar, Ardian, mengapresiasi semangat para atlet dan kepedulian masyarakat. Ia mengakui anggaran pembinaan masih dalam proses administrasi dan belum dapat dicairkan.

“Pemerintah memberikan dukungan sesuai kemampuan yang ada. Kami akan terus mendorong percepatan proses administrasi,” ujar Ardian.

Trijanto menegaskan catur bukan sekadar permainan strategi, melainkan sarana membentuk karakter generasi muda.

“Catur adalah laboratorium karakter. Anak-anak belajar disiplin, komitmen bangkit ketika kalah, solidaritas, dan konsistensi menyusun strategi jangka panjang. Jika nilai-nilai itu tertanam, mereka tidak hanya menang di papan catur, tetapi juga menang dalam kehidupan,” tuturnya.

Kondisi ini menjadi sorotan terhadap tata kelola anggaran pembinaan olahraga di Kota Blitar. Sejumlah orang tua atlet berharap pemerintah memberikan kepastian jadwal pencairan dan mekanisme yang lebih transparan.

“Beban persiapan seharusnya tidak terus-menerus ditanggung keluarga. Sistem yang baik harus hadir agar pembinaan berjalan terencana,” ujar salah satu orang tua atlet.

Pemerintah daerah diharapkan menetapkan jadwal pencairan anggaran secara pasti, membentuk dana cadangan untuk keberangkatan mendesak, serta memperkuat koordinasi antara pemerintah, KONI, sekolah, dan cabang olahraga.

Prestasi atlet tidak boleh bergantung pada ketidakpastian administrasi. Saat orang tua menjadi penyangga utama pembinaan, sudah saatnya sistem hadir memberikan kepastian. Namun hingga saat itu terwujud, perjuangan 17 atlet catur Kota Blitar yang berangkat dengan modal swadaya dan gotong royong menjadi bukti bahwa semangat juang mampu mengalahkan segala keterbatasan. (*)

Penulis: Sumartono