banner 400x130

Supaya Kehidupan Berkah, Pengurus NU Harus Menghidupkan Organisasi

KH Nasikhin (kopyah putih) saat membaiat PRNU Celep

SIDOARJO – Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) supaya diberi kehidupan berkah, maka harus menghidupkan organisasi dan memberikan kontribusi juga bermanfaat untuk kebaikan umat. Dan kehidupan pengurus tidak akan berkah jika memanfaatkan organisasi untuk numpang hidup.

Pernyataan di atas disampaikan KH MZ Nasikhin, S.Ag (Rais Syuriah MWC NU Sidoarjo) dengan menyisir doa (almarhum) KH Mahrus Ali (Lirboyo Kediri) pada saat Muktamar NU ke-27 di Situbondo, pada saat pelantikan Pengurus Ranting NU Celep Sidoarjo, di Masjid Al-Hidayah, Kamis malam (25/6/2026).

Seperti diketahui
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Situbondo pada 8–12 Desember 1984, merupakan salah satu tonggak sejarah paling penting bagi bangsa Indonesia. Peristiwa ini menjadi momen kembalinya NU ke Khittah 1926. Juga pernyataan Asas Tunggal Pancasila pada masa Orde Baru.

Kepala Kelurahan Celep Ibu Njaris Rahayu SHM.Ap, menyatakan sangat senang dengan kegiatan pelantikan NU, apalagi seluruh komponen dan komunitas masyarakat serta ketua RT dan RW kumpul bersama, “Ada kerukunan dan kehormanisan, juga keguyuban, sebagai wujud kebersamaan,” katanya, Kamis malam.

KH Nasikhin, mengingatkan bahwa pelantikan atau sahada (baiat) pada malam 10 Muharram, merupakan malam keramat, semoga NU Ranting Celep menjadi pioner dan mencusuar dalam kegiatan organisasi, baik di kecamatan Sidoarjo maupun di Kabupaten Sidoarjo.

Oleh karena itu, lanjutnya, menjadi pengurus NU harus baik dan sungguh-sungguh, apalagi dengan aplikasi NU secara nasional, maka kegiatan keorganisasian NU dan pengurus NU seluruh Indonesia akan saling mengenal dan dikenal, sehingga sambung silaturahmi juga kegiatan. “Karena tinggal diklik saja, sudah terbaca dan diketahui semuanya,” katanya, tapi NU Cabang Sidoarjo masih menunggu hasil Konferensi Cabang Sidoarjo sekitar bulan November.

Pesan kepada seluruh pengurus, terutama pengurus Ranting dan Majelis Wakil Cabang (MWC) yang masih berjuang untuk organisasi dengan tulus ikhlas, supaya jangan main-main menjadi pengurus. “Sudah banyak yang mengatakan, pengurus NU Ranting dan MWC masih ukhrowih. Tapi kalau sudah pengurus NU Cabang, Wilayah, apalagi Pengurus Besar sudah terindikasi duniawi,” ujarnya diplomatis.

Menurut KH Nasikhin,
InsyaAllah berjuang mengurus NU akan dijamin Alloh SWT, paling tidak dapat menjalankan tugas organisasi seperti 5 pertanyaan Kiai Syaqiq bin Ibrahim al-Azdi al-Balkhi, yang ditanyakan ke 700 kiai dengan jawaban sama.

Ngaji 5 perkara ini, lanjut Nasikhin, untuk pegangan dan pedoman mengurus NU, dengan tetap mengikuti kiai, ulama, dan Rasulullah.
“Menjadi pengurus hanya sebagai sarana mengabdi kepada Alloh SWT, abdi dalemnya ulama,” tandanya.

Apalagi, doa Mbah Hasyim (Hadraotus Syeck KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU)
“Siapa mau mengurusi NU, anaknya saya doakan husnul khotimah,” katanya mengingatkan.

Lima perkara sebagai pedoman mengurus NU, sebagaimana pertanyaan dari Kiai Syaqiq.

1. Siapa orang yang punya akal (berpikir)
Jawaban : Orang yang tidak cinta dunia (karena cinta dunia itu dampaknya bisa mengubah yang salah jadi benar, yang benar jadi salah)

2. Siapa orang yang cerdas (orang yang cerdas tidak mudah tertipu dengan urusan dunia)
Dimana akan mementingkan kepentingan ukhrowih dibanding kepentingan duniawi. “Tidak ada pemikiran mementingkan untuk dirinya dan kelompoknya. Pemikirannya untuk kemaslahan umat,” tuturnya.

3. Siapa orang yang kaya (orang yang kaya ialah orang yang ridlo dengan apapun yang ditentukan oleh Alloh SWT)

AD/ART menegaskan pemegang kendali organisasi Rois, jangan menganggap Rois yang lain sepele. Jadi harus pandai membagi porsi jabatan pengurus.

4. Siapa orang yang faqih, orang yang alim dan paham agama (orang yang faqih dan alim, ialah orang yang tidak cari-cari makan atau materi atau jabatan untuk ketenaran).

Orang faqih selalu memberi kesempatan yang lain, mendahulukan kebersamaan, kalau ada hadiah (berkat) lebih, kemudian ada yang belum dapat, maka diberikan kepada yang lain.

5. Siapa orang yang bakil (orang yang bakil ialah orang yang selalu mencegah hartanya untuk hak Alloh SWT)

“Sebagai pengurus, kalau dana kurang ya siap numboki, menutupi kekurangan. Dan InsyaAllah, kalau organisasi memegang 5 hal itu akan manfaat untuk umat,” pesannya.

“Juga tidak mudah meremehkan sesuatu, sebab kayu atau blabak dibanding emas tidak ada artinya, tetapi ketika banjir, maka kayu blabak sangat dibutuhkan,” ujar KH Nasikhin mengakhiri acara pelantikan.

Dalam acara pelantikan Pengurus Ranting NU Celep, yang dibaiat dan menerima SK.

1. KH. M. Z. Nasikhin, S.Ag (Rais Syuriah MWC NU Sidoarjo)

2. Mulyo Agung Nugroho, S.Sos. (Pj Ketua MWC NU Sidoarjo)

3. Ilham Maulana, S.Kom., M.Pd. (Sekretaris MWC NU Sidoarjo)

4. H. Ahmadi Romli (Rais Syuriah PRNU Celep)

5. Imam Abdi Salim (Ketua PRNU Celep)

6. Ibu Njaris Rahaju, S.H., M.Ap (Kepala Kelurahan Celep)

7. Bapak Yanis Hadi Prasetyo, S.Sos. (Kasi Pemerintah Kelurahan Celep)

8. H. Joko Tetuko Abd. Latief (Ketua Ta’mir Masjid Al Hidayah)

9. Ketua RT dan RW se-Kelurahan Celep

10. Ta’mir Masjid/Musholla se-Kelurahan Celep. (*)

Penulis: Djoko Tetuko