banner 400x130

Rakerda KONI Jatim : Khofifah Tekankan Pembinaan Dini, SDM, Tata Kelola dan Jejaring

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan pentingnya penguatan pembinaan atlet sejak usia dini, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), tata kelola organisasi yang profesional, serta pembangunan jejaring yang kuat sebagai landasan kemajuan olahraga Jawa Timur.

Hal tersebut disampaikan saat membuka Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) Komite Olahraga Nasional Indonesia Jawa Timur Tahun 2026 di Surabaya, Rabu (24/6).

Menurut Khofifah, Rakerprov harus menghasilkan plan of action yang akurat dan detail sebagai pedoman menghadapi berbagai agenda olahraga, mulai dari Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), Pekan Olahraga Nasional (PON), hingga Olimpiade.

“Raker ini harus menyiapkan plan of action bagi kita semua baik persiapan Porprov, PON maupun Olympic,” kata Khofifah.

Ia menyebut, pembinaan dan pencarian bakat atlet sejak usia dini menjadi catatan pertama yang harus mendapat perhatian serius. Menurutnya, pembinaan prestasi membutuhkan proses panjang mulai dari identifikasi bakat, pembinaan berjenjang, kompetisi terstruktur hingga pendampingan profesional.

“Pencarian bibit dan pencarian bakat dengan usia makin dini itu menjadi catatan penting karena seandainya keputusan di setiap cabor itu sudah final, maka atlet yang kita kirim harus mengikuti penyesuaian dari usia yang sudah ditentukan,” ujarnya.

Khofifah menegaskan, Porprov tidak hanya menjadi ajang kompetisi antar daerah, tetapi juga instrumen strategis untuk pembinaan atlet berjenjang, pemerataan prestasi olahraga di seluruh kabupaten/kota, serta penggerak ekonomi daerah.

Catatan kedua yang disampaikan adalah peningkatan kualitas SDM olahraga, meliputi pelatih, tenaga sport science, wasit, manajer tim, hingga atlet. Ia menilai keberhasilan atlet tidak hanya ditentukan kemampuan fisik, tetapi juga dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, nutrisi, psikologi, dan manajemen prestasi yang terukur.
Khofifah juga mendorong pemanfaatan tim sport science dari Universitas Negeri Surabaya untuk mendukung penyesuaian kebijakan pembinaan atlet berbasis kajian ilmiah.“Basisnya adalah sport science,” tegasnya.

Selanjutnya, Khofifah menyoroti pentingnya penguatan tata kelola organisasi olahraga yang profesional, akuntabel, dan adaptif. Menurutnya, organisasi yang sehat akan menghasilkan program yang efektif sekaligus meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan.

“Bibit atlet yang bagus kalau tidak diikuti oleh tata kelola yang terukur nanti hasilnya juga kurang maksimal,” katanya.

Pada catatan keempat, Khofifah menekankan pentingnya membangun jejaring antara pemerintah, KONI, cabang olahraga, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat. Jejaring tersebut dinilai penting untuk memperkuat pembinaan atlet sekaligus memetakan potensi atlet dari berbagai daerah.

Ia juga meminta seluruh cabang olahraga memberikan dukungan kepada atlet-atlet asal Jawa Timur yang berencana kembali membela provinsi tersebut.

“Membangun jejaring seperti ini menjadi penting karena menyiapkan, membibit dan membina atlet tentu tidak mudah, tidak murah dan tidak bisa cepat,” ujarnya.

Khofifah optimistis, melalui penguatan empat aspek tersebut, Jawa Timur dapat terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu daerah dengan ekosistem olahraga prestasi terbaik di Indonesia sekaligus menyiapkan atlet-atlet berdaya saing menuju PON, SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade. (*)

Penulis: Fahrizal ArnasEditor: Amin Istighfarin