Pagi itu, Senin 18 Mei 2026, suasana di Markas Palang Merah Indonesia Jawa Timur di Jalan Karangmenjangan No. 22 Surabaya terasa berbeda. Tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada panggung besar atau pesta meriah. Yang tersaji hanya semangkuk bubur sumsum hangat, aneka jajanan pasar, dan tawa sederhana para karyawan serta staf PMI Jatim.
Namun justru dari kesederhanaan itulah, kehangatan terasa begitu nyata.
Hari itu, keluarga besar PMI Jawa Timur memperingati ulang tahun ke-83 Imam Utomo, sosok yang selama puluhan tahun dikenal dekat dengan masyarakat dan tak pernah benar-benar berhenti mengabdi.
Satu per satu pengurus dan staf mendatangi beliau. Ada yang menyalami, ada yang memeluk hangat, ada pula yang sekadar tersenyum sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Di usia yang tak lagi muda, wajah Imam Utomo tampak tenang. Sesekali ia tersenyum kecil melihat suasana sederhana yang dibuat khusus untuknya.
“Banyak partai politik mengajak saya bergabung, tapi saya tidak berpikiran ke sana. Saya pilih PMI saja. Di sini hati lebih tenang,” ujarnya pelan.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menggambarkan jalan hidup yang kini ia pilih.
Lahir di Jombang pada 14 Mei 1943, perjalanan hidup Imam Utomo penuh warna pengabdian. Karier militernya terbilang cemerlang. Ia pernah menjabat Komandan Korem 084/Bhaskarajaya, Panglima Kodam V/Brawijaya, hingga Aslog KSAD.
Namanya kemudian semakin dikenal ketika dipercaya menjadi anggota DPR RI dari Fraksi ABRI.
Puncak pengabdiannya di pemerintahan datang saat ia menjadi Gubernur Jawa Timur selama dua periode, dari 1998 hingga 2008.
Sepuluh tahun memimpin Jawa Timur membuat dirinya lekat di ingatan masyarakat sebagai pemimpin yang sederhana dan mudah ditemui rakyat kecil.
Tetapi mungkin tidak banyak yang tahu, setelah tak lagi menjabat gubernur, Imam Utomo justru memilih kehidupan yang jauh lebih tenang.
Ia tidak sibuk membangun kekuatan politik. Ia tidak mengejar jabatan baru. Waktunya lebih banyak dicurahkan untuk kegiatan kemanusiaan bersama PMI.
Kini, periode 2025–2030 menjadi periode keempatnya memimpin PMI Jawa Timur — sebuah catatan yang membuatnya menjadi Ketua PMI Jatim paling lama menjabat.
Di dunia olahraga, namanya juga meninggalkan sejarah panjang. Saat memimpin KONI Jawa Timur, provinsi ini dua kali menjadi juara umum Pekan Olahraga Nasional, yakni pada PON XV tahun 2000 di Surabaya dan PON 2008 di Kalimantan Timur. Hingga sekarang, prestasi itu masih dikenang sebagai salah satu masa keemasan olahraga Jawa Timur.
Namun di usia 83 tahun, kebahagiaan Imam Utomo tampaknya bukan lagi soal jabatan ataupun prestasi besar.
Kebahagiaan itu hadir dari hal-hal sederhana.
Dari bubur sumsum yang disantap bersama staf PMI.
Dari tumpengan kecil bersama jamaah Masjid Nurul Iman, masjid yang ia dirikan.
Dari ramainya jamaah salat subuh. “Alhamdulillah, jamaah yang subuhan sangat banyak,” tuturnya dengan wajah sumringah.
Beberapa hari sebelumnya, jamaah masjid juga menggelar syukuran sederhana dan tumpengan bersama untuk merayakan ulang tahunnya. Tidak mewah, tetapi penuh rasa hormat dan cinta dari orang-orang di sekelilingnya.
Di tengah perjalanan panjang hidupnya, penghargaan juga kembali datang.
Baru-baru ini Imam Utomo menerima penghargaan Lifetime Achievement dalam Beritajatim Award 2026 dari media online Beritajatim.
Tetapi pagi itu di PMI Jawa Timur, penghargaan terbesar tampaknya bukanlah trofi atau piagam.
Melainkan kebersamaan.
Semangkuk bubur sumsum hangat. Dan rasa hormat tulus dari orang-orang yang selama ini menyaksikan hidupnya benar-benar dihabiskan untuk mengabdi. (*)






